Selama ini kupikir hidupku adalah untuk mengejar bintang. Sejak kecil, aku selalu menatap berlian-berlian itu di langit malam. Semua itu bagaikan percikan cat yang Tuhan lukiskan di atas kanvas yang gelap. Indah sekali.
Tapi kupikir bukan hanya itu yang mendorongku sampai sejauh ini. Tak mungkin hanya takjub dan penasaran yang membuatku terus mengejarnya selama 20 tahun ini. Rasanya bintang-bintang itu memiliki kekuatan magis yang menarikku hingga ke mari.
Setelah kupikir berulang-ulang, ternyata kekuatan itu berasal dariku sendiri. Namaku. Ya, namaku!
Ayah memberiku nama yang berarti "kekasih bintang". Aku tidak menyadari hal ini setelah ia menjelaskan bahwa ini tidak lain hanyalah nama kakekku. Tapi, aneh jika aku menggunakan nama kakekku sedangkan ia sendiri tidak. Setelah 10 tahun kepergian ayahku, aku baru menyadari bahwa ini adalah warisannya: harapan.
Ayah. Ayahku adalah orang yang pertama kali mengenalkanku tentang bintang. Waktu kecil ia mengajariku tentang pola-pola yang membentuk rasi bintang sesuai mitologi lokal. Selain itu, ia juga senang sekali mengoleksi buku-buku tentang bintang. Aku diajarkan tentang planet, tatasurya, galaksi, sampai hilal dan perhitungan kalender. Yang terakhir adalah favoritnya.
Ayahku bukanlah orang yang termasuk ahli atau menggeluti bidang itu sebagai profesi. Ia juga hanya lulusan SMP yang kebetulan mempunyai hobi seperti itu. Tapi, ia seakan mempunyai obsesi tentangnya. Di mataku, ia bagaikan "profesor bintang".
Sayangnya, di mata orang-orang, ayahku hanyalah orang bodoh. Bicaranya konyol dan sering tidak dimengerti orang. Ia payah dalam melakukan banyak hal. Pekerjannya saat itu hanya membantu toko fotocopyan miliknya. Ya, walaupun toko itu miliknya, ia hanya membantu.
Karena "kebodohan"-nya, orang-orang sering menipu dan memanfaatkannya. Uang pensiun dan tabungan selama ia menjadi karyawan habis dengan cepat karena untuk modal usaha-usaha bodong rekan-rekannya. Aku harus bersyukur setidaknya masih ada satu yang tersisa, walaupun keadaannya seperti itu.
Orang-orang pun menganggapnya sebagai pecundang. Setiap hari ia selalu diejek tetangga. Tapi, ia benar-benar seperti orang bodoh yang bahkan tak tahu bahwa ia sedang dihina. Aku sampai marah dan membenci orang-orang itu, tapi apa dayaku yang masih kecil dan penakut. Aku juga marah pada ayahku yang pura-pura bodoh itu.
Aku yakin ia sebenarnya tahu dan pasti sangat sedih. Tetapi ia selalu tampak bahagia, terutama ketika menatap langit. Kesedihannya tampak ia limpahkan pada kelamnya malam, sedang air matanya mengkristal menjadi bintik-bintik terang di angkasa. Aku menjadi iba, tapi di saat yang sama juga masih marah padanya.
Sayangnya ibu juga berpikir seperti orang-orang itu. Terjadi pertengkaran di antara mereka yang akhirnya membuat mereka terpisah. Tentu saja aku di pihak ibuku, sama-sama menganggap ayah bodoh. Ia sempat marah, membuatku takut. Ini pertama kalinya ia marah padaku.
Kemudian ia pun memutuskan untuk pergi. Pada akhirnya kami berpisah dan ia meninggal ketika aku dan ibu masih menganggapnya seperti itu.
Aku sangat sedih. Sedih sekali.
Sambil menatap langit, aku memohon ampun kepada Tuhan karena telah berburuk sangka kepadanya selama ini.
Tapi, bukannya aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa untuk membayar maafku padanya. Memang ini bukan apa-apa. Meski begitu, setidaknya aku bisa mempersembahkan ini untukmu, Ayah.
Malam ini, aku mewujudkan harapanmu, Ayah. Aku akhirnya telah resmi menjadi "kekasih bintang". Setelah berusaha mengenalnya lebih jauh, berusaha mengertinya, berusa memahaminya, berusaha tetap setia dan percaya padanya, dan akhirnya berusaha mencintainya, aku pun benar-benar mencintainya.
Walaupun jauh tak tergapai, walaupun kecil hanya setitik, walau awan mudah sekali menghapusnya, kau harus tetap mengejarnya dan benar-benar percaya padanya! Bintang itu akan tetap ada di atas sana, bersama kita, merindukan kita, sampai supernova mengakhiri riwayatnya! Percayalah! Tetaplah percaya dan jangan berpaling!
Itulah pelajaran yang didapat oleh sang "kekasih bintang".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar