Xichang Space Launch Center, 2 Januari 2026.
Letnan Yui Chen, Mayor Li Zhang dan Komandan Guang Hong ditugaskan untuk menjalankan misi ke Bulan. Mereka adalah astronot-astronot terpilih yang telah menyelesaikan serangkaian seleksi dan pelatihan selama 10 tahun. Seleksi dan pelatihan mereka memang benar-benar ketat dan berat, mengingat betapa penting dan berbahaya misi ini. Wajar saja karena ini merupakan pertama kalinya sejak 50 tahun lalu manusia terakhir pergi ke Bulan.
Misi mereka adalah mengecek kondisi ladang-ladang milik negara beserta hasil panennya yang berada di Bulan. Sejak keberhasilan Chang’e 4 melakukan percobaan pada tanaman di sana pada tahun 2019, Tiongkok segera mengirim wahana-wahana serupa yang berkapasitas lebih besar beserta lumbung-lumbung untuk penyimpanan panennya dalam jangka panjang. Mereka berencana untuk memproduksi secara masif bahan pangan domestik untuk kepentingan kolonialisasi ke depannya. Selama ini yang mengerjakan semuanya adalah robot-robot yang dipantau oleh satelit orbiter Bulan. Semua terlihat berjalan lancar dan baik-baik saja, sebelum gejala aneh itu muncul.
Pukul 06.24 waktu setempat, roket Saturn V-nya Tiongkok, Chang Zheng 5B, diluncurkan dari Launch Area 2 dan 3, Xichang Space Launch Center. Roket dengan tiga stage dan empat booster ini meluncur, membawa ketiga orang itu ke Bulan. Roket tersebut termasuk roket terkuat dan terberat dalam jenisnya, yakni long march rocket.
“Mayor Zhang, bagaimana perasaanmu menjadi orang yang tercatat dalam sejarah?”
“Saya tidak pernah memikirkan perasan, Komandan Hong! Apapun yang terjadi, yang terpenting adalah misi ini harus berhasil”
“Bagus, Mayor! Tetapi ingat, yang terpenting adalah kamu harus tetap hidup. Kamu harus tetap hidup dan menceritakan hal-hal yang luar biasa di atas sana kepada orang-orang di bawah sini. Dengan begitu, kamu akan menjadi pahlawan yang lebih berguna, meskipun biasanya yang gugur lebih populer, sih…”
“Haha, siap, Komandan!”
“Kamu juga, Letnan Chen! Kamu akan menjadi wanita pertama yang menjejakkan kaki di Bulan!”
“Maaf, Komandan, tetapi saya tidak terlalu tertarik dengan entertainment seperti itu. Saya lebih tertarik dengan tanaman-tanaman itu. Ternyata, mereka lebih dulu mengolonialisasi Bulan daripada kita,”
“Hahaha, benar sekali, Letnan! Sayang sekali kita bukanlah alien pertama di sana,”
***
Satu menit sejak peluncuran dan kini roket telah meninggalkan atmosfer tebal Bumi. Roket tersebut meluncur begitu cepat hingga mencapai 20 mach, setara dengan percepatan 5 g. Keempat booster dilepas, menyusul satu per satu stage. Mereka pergi ke Bulan menggunakan wahana CZ5B-1, singkatan dari roket besar yang pertama kali membawanya dan urutan unit.
Melihat bumi yang awalnya berupa hamparan perlahan mulai melengkung dan memperlihatkan bentuk bolanya merupakan pemandangan yang luar biasa. Seakan kita tertarik menuju dunia lain dan terdistorsi dari kenyataan. Walaupun sudah berkali-kali mereka bertiga melihat semuanya di simulasi, merasakan sendiri pengalaman menakjubkan itu bagaikan mimpi yang menjadi kenyataan.
Perjalanan menuju Bulan memakan waktu selama satu sampai dua hari. Selama itu mereka menghabiskan waktu dengan mengobrol, membaca-baca referensi dan panduan, menghubungi orang-orang tercinta di Bumi, dan sekali-kali melaukan siaran langsung dengan stasiun televisi ataupun internet. Mereka harus selalu melakukan kegiatan di tengah sepinya ruang angkasa.
Namun, bulan yang merupakan tempat tujuan mereka sudah berbeda dari beberapa tahun sebelumnya. Walaupun belum ada satu pun manusia yang menghuninya, robot-robot, satelit-satelit, dan fasilitas-fasilitas penyokong kehidupan sudah ramai menjamur di sana. Ditambah lagi satu makhluk hidup asli Bumi yang berkembang biak di sana, yaitu tanaman, beserta mikroba yang menyertainya, tentunya.
Di samping pertanian, Tiongkok juga membangun fasilitas-fasilitas pertambangan Hidrogen III atau tritium yang merupakan sumber bahan bakar roket melimpah di sana. Akibatnya, permukaan bulan sedikit tertutup debu-debu hitam di beberapa tempat. Hal itu bisa diamati di Bumi sebagai bercak-bercak hitam di atas permukaan Bulan. Gejala aneh yang ada di ladang diduga terkait dengan hal tersebut.
“Komandan Hong, apakah sudah saatnya mesin pendorong 4 sudah siap dinonaktifkan?”
“Tenang saja, Letnan Chen, kamu fokus saja pada tanaman itu. Biar yang begini diurus Mayor Zhang saja,”
“Baik, Komandan,”
“Jadi, bagaimana menurutmu? Apakah sudah ada perkembangan hipotesis yang dapat menjelaskan fenomena ini?”
“Dengan melihatnya secara langsung, saya bisa lebih yakin, Komandan. Tetapi, sejauh ini belum ada perubahan mengenai dugaan sebelumnya.”
“Baiklah kalau begitu. Sepertinya, Tuhan selalu marah jika manusia selalu mengambil peran-Nya di dunia. Selalu saja ada kejadian aneh di tengah rencana yang terlihat mulus…”
“Jangan remehkan manusia, Komandan. Kita adalah makhluk yang gigih jika mempunyai tekad kuat. Menurutku, itu bukan bentuk kemarahan Tuhan, melainkan ujiannnya untuk membuktikan hal itu. Jika hal seperti itu memang ada…”
“Jika ada? Haha… kau ini,”
Letnan Chen merupakan kepala projek riset penanganan gejala abnormalitas tanaman di Bulan. Dulu ia bekerja sebagai ahli rekaya genetika tanaman pangan. Salah satu karyanya adalah “Kentang Panda” yang merupakan kentang dengan ukuran super dan kaya nutrisi. Kentangnya juga sangat tahan terhadap suhu ekstrem dan pencahayaan yang minim. Ternyata, hal tersebut menarik perhatian pemerintah Tiongkok dan akhirnya karyanya dipilih dan dikembangkan sebagai “sumber pangan masa depan”. Mungkin maksudnya pangan bagi warga koloni di Bulan.
Tetapi ada satu hal yang belum dimengerti mengenai tanaman tersebut. Daunnya. Daunnya selalu berlubang-lubang dan terdapat bercak-bercak hijau di sekujur tubuh tanaman. Anehnya, kentang yang ada di bawahnya ternyata baik-baik saja dan bahkan kondisinya terlalu baik seperti itu. Belum selesai riset tentang gejala tersebut, pemerintah Tiongkok sudah menarik hasil karyanya itu. Sebagai gantinya, Letnan Chen dijadikan astronot dan penanggung jawab “ladang” dan seluruh stafnya dijadikan staf pengembang pertanian di luar angkasa.
Di dalam fasilitas pengembangan pertanian di luar angkasa, “Kentang Panda” juga mengalami modifikasi genetik tambahan agar dapat bertahan di kondisi gravitasi rendah. Efek samping mengenai daun dan bercak dibiarkan begitu saja karena tidak memengaruhi kuantitas dan kualitas produk pangan. Setelah diluncurkan tujuh tahun lalu, didapatkan hasil mengejutkan. Efek tersebut hilang dan kentang tumbuh normal. Ukurannya memang lebih kecil daripada di Bumi, hal yang biasa. Beberapa kentang dibiarkan berkembang biak dan sebagiannya disimpan dalam lumbung. Kentang itu pun tumbuh normal kembali dan dibiarkan berkembang biak lagi.
Hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun semuanya berjalan dengan baik dan lancar. Fasilitas pertanian semakin rimbun dan lumut-lumut yang terbawa juga tumbuh. Kamera pemantau semakin buram dan tidak bisa melihat segala sesuatunya dengan jelas. Walaupun begitu, pemeriksaan dari instrumen-instrumen lain menunjukkan hal yang baik. Seluruh staf riset tidak mengkhawatirkan hal itu. Tapi, Letnan Chen selalu gelisah dan merekomendasikan inspeksi langsung ke Bulan, lebih cepat 15 tahun dari rencana. Namun, pemerintah selalu menolak karena tidak bukti yang mendukung kegelisahannya itu. Sampai pada akhirnya, ia menemukan bukti tak langsung dan segera pergi ke sana.
***
Bersambung di bagian 2 ~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar