Malam ini bulan purnama terbit lebih larut dari yang kuperkirakan. Sudah sekitar pukul delapan malam, bulan itu baru naik sejengkal. Pasti air laut sedang pasang di kampung ibuku. Aku membayangkan air rob yang dari tadi pagi menggenangi jalanan, semakin naik, dan merangsek masuk ke rumah-rumah warga di sana. Untung rumah ibuku dibangun sedikit lebih tinggi.
Ingin kukatakan pada ibuku bahwa ini tidak ada kaitannya dengan hari Jumat dan penguasa lautan. Kalau memang sedang tengah bulan, ya mau bagaimana lagi, air pun pasang. Nelayan-nelayan yang kadung percaya mitos hari Jumat itu malah pergi hari ini, di saat ombak sedang tinggi-tingginya. Aku hanya bisa berharap mereka bisa selamat dan kembali bersama keluarganya dengan aman.
Ah, tapi menyaksikan bulan purnama terbit begini asyiknya di dermaga kampung ibuku. Menghadap lautan lepas, tanpa pepohonan dan bangunan-bangunan yang mengganggu. Diiringi angin darat yang sangat kencang dan ombak yang menggulung-gulung dahsyat, bulan itu bagaikan cahaya harapan yang membangkitkan kekuatan alam di saat mentari pergi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar