Senin, 01 Juli 2019

[Vision Memory]

Suatu hari, Andi pergi ke suatu pameran teknologi di Kota Bandung. Di sana terdapat banyak karya teknologi yang lumayan menarik buatan mahasiswa lokal, khususnya mahasiswa ITB. Ada robot yang bisa bermain sepakbola, menari tradisional, membantu penyebrang jalan, sampai mencuci-mengeringkan-dan-menyetrika pakaian otomatis.

Wah, benar-benar membantu sekali, terutama buat mahasiswa pemalas, seperti aku, katar Andi berkomentar.

Ada juga drone untuk pemadam kebakaran, pengintai keamanan, pemantau kebakaran hutan, sampai pemantau kapal asing.

Wah, keren… bakal mudah ditenggelamkan’ nih pencurinya,” gumamnya. 

Selain itu banyak juga teknologi virtual yang dipamerkan di sana. Kebanyakan teknologi tersebut digunakan untuk edukasi dan hiburan alias game. Salah satu yang membuat Andi tertarik adalah karya teknologi yang satu ini. Sebuah kacamata “penganalisis” yang bisa memberikan efek AR (augmented reality) yang menganalisis dunia nyata.

“Kalau kacamata lain membuatmu dapat melihat dunia lebih jelas, kacamata ini dapat melihat dunia lebih rinci,” kata mahasiswa yang mencoba menjelaskan alat ini. Kemudian ia menyalakan laptopnya dan menayangkan simulasi dari apa yang akan kita lihat juga menggunakan alat ini.

“Nah, dengan kacamata ini, kalian seolah-olah seperti dalam game seperti GTA, Minecraft, atau game-game survival lainnya. Di sana ada terdapat keterangan kesehatan tubuh kita, keadaan mental kita, bahkan barang atau uang yang sedang kita bawa. Kita juga bisa melihat agenda atau kegiatan apa saja yang harus kita lakukan setiap hari, minggu, atau bulan. Jika target kita berjangka waktu tahunan, hal itu seperti mimpi, bukan? Nah, alat ini berarti juga bisa membantu kita mewujudkan mimpi…”

Andi pun terkagum-kagum akan hal tersebut. Tetapi, ia penasaran bagaimana alat ini bisa melakukannya. Ia pun bertanya kepada mahasiswa itu.

“Kak, data-data itu diperoleh dari mana memangnya, kak? Dari gelombang otak, ya?”

Mahasiswa itu pun menjawab.

“Tepat sekali. Semua aktivitas tubuh kita dikontrol oleh otak. Otomatis data mengenai kondisi tersebut juga diperoleh otak. Sel-sel otak yang bekerja kemudian saling mengirimkan sinyal listrik yang dapat dibaca oleh pemindai gelombang elektromagnet yang ada di kedua sisi kacamata ini. Kemudian sinyal tersebut dianalisis oleh mikroprocessor di kotak bagian kiri untuk selanjutnya ditampikan melalui miniprojector di kedua lensa kacamata ini. Sumber daya listrik untuk menjalankan semuanya diperoleh dari baterai isi ulang yang berada di kotak sebelah kanan

Andi pun terkesima akan hal itu. Di antara semua benda yang dia lihat, kacamata inilah yang paling keren.

“Kak, kak… boleh aku mencobanya?”

“Oh, tentu saja. Tapi, hanya satu orang saja, ya…” kata mahasiswa itu yang sedang menenangkan gerombolan pengunjung lain yang juga ingin mencoba kacamata itu. Kelihatannya ia kewalahan menjawab pertanyaan mereka sambil melindungi kacamata yang hendak menjadi rebutan. Sayangnya, pengunjung terlalu banyak dan bringas sehingga kacamata tersebut pun terjatuh.

Sambaran arus listrik sekilas muncul akibat guncangan ketika kacamata itu jatuh. Namun, tidak ada yang menyadari hal tersebut kecuali Andi. Ia lantas memungut kacamata yang terjatuh itu dan memakainya. Sesuatu yang buruk pun terjadi.
“Aaaarrrghhhh….”

Andi bagaikan orang yang tersengat seribu lebah. Ia tampak begitu kesakitan sambil memegang kepalanya berputar-putar hebat sementara tubuhnya tak terkendali. Semua orang panik dan kabur melihat Andi yang menyerang semuanya seperti zombie. Sementara itu, mahasiswa tadi menampakkan wajah yang begitu cemas dan kebingungan. Mungkin ia tak percaya bahwa alatnya itu ternyata berbahaya. Padahal, selama ini belum pernah ada yang terluka mencobanya. Tapi sekarang ini bukan waktunya memikirkan hal tersebut. Ia harus segera memikirkan bagaimana cara menyelamatkan Andi.

Ia pun hanya menunggu Andi sampai tenaganya habis dan kelelahan. Kemudian, ia harus segera melepas kacamata itu dan membawa Andi ke rumah sakit terdekat. Sementara rekannya mencoba menganalisis dan memperbaiki kacamata itu, ia menunggui Andi di sana.

***

Sistem, mengaktivasi…

Pengecekan sistem…

Status sistem: agak buruk

Kesadaran: 5%

Detak jantung: …

“Suara apa ini? Berisik sekali… Di mana aku? Ada apa denganku?”

Kesadaran: 90%

Mengaktifkan mode semi-otomatis: audio saja.

Ketika Andi membuka matanya, ia sedang berada di atas ranjang rumah sakit. Di sampingnya terdapat seorang mahasiswa yang sepertinya pernah ia kenal. Ia tidak begitu ingat mengenai insiden sehari yang lalu. Tiba-tiba suara aneh itu berbunyi lagi.

Mengidentifikasi: Kak Yuna. Mahasiswa ITB. Jurusan Teknik Fisika. Bertemu: tanggal 28 Juni 2025 sekitar pukul 10.00-12.00.

“Hei, hei, siapa tadi yang berbicara? Apa itu suara otakku?”

Tidak ada jawaban. Andi berpikir bahwa ia sedang berhalusinasi. Sekarang, yang ia tahu hanyalah bahwa ia baru saja mengalami kecelakaan. Mungkin kecelakaan itu mencederai otaknya dan membuatnya berhalusinasi.

Kemudian, Yuna, mahasiswa itu, bangun.

“Alhamdulillah, kamu sudah bangun. Saya mohon maaf, ya dik atas kejadian kemarin.”
“Hah, kejadian kemarin? Memangnya ada kejadian apa kemarin, kak?”

Menganalisis…
Kejadian satu hari lalu, tanggal 27 Juni 2025. Subjek tak sadarkan diri setelah menyentuh kacamata “penganalisis” yang jatuh ke lantai.

“Hah, kacamata ‘penganalisis’ katamu? Sebentar… Oh iya, benar juga. Aku kemarin pergi ke pameran dan menyentuh benda itu”
“Sepertinya kamu mulai ingat, ya? Maafkan saya… Saya takut banget kalau kamu kenapa-kenapa. Kami pikir kacamata ini menggunakan arus listrik yang lemah, jadi aman. Kami juga udah nyobain beberapa kali kemarin dan biasa-biasa aja.”
“Oh iya, ya kak? Terus saya dari kemarin pingsan, ya?”
“Iya, bener.”
“Gapapa deh, kak. Yang penting saya pingin pulang sekarang?”
“Sekarang? Sekarang banget? Tunggu dulu, temenku lagi nyari sarapan soalnya. Lagipula kamu kan baru saja pingsan seharian. Makan dulu, ya…”
“OK, kak, makasih. Hmm… Btw, apa teman kakak itu… Oh, yang satu tim itu kah? Kak Dimas, bukan?”
“Lho, kok tahu? Kalian sudah kenal ya?”
“Hmm… kelihatannya kalian pernah memperkenalkan diri waktu presentasi kemarin.”
“Oh, begitu, ya…”

Suara itu bekerja lagi. Sepertinya yang bisa mendengarnya hanyalah Andi. Ia mulai menyadari keanehan yang telah terjadi pada dirinya. Tapi, hal ini masih belum bisa dipastikan. Ia masih belum tahu apakah otaknya sedang sakit atau mendapat kekuatan super.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar