Selasa, 05 Juli 2022

Hari Pertama Kerja di Jakarta

 Bismillah..


Waduh, saking lamanya ndak nulis, jadi susah banget buat mulai tulisan ini...


Alhamdulillah, akhirnya aku diterima kerja. Sementara aku tidak mau spill detail pekerjaan atau perusahaannya, tapi kira-kira jadi data analyst di sebuah start up baru yang bergerak di bidang food and beverages. Sebelumnya, aku pernah menjadi graphic designer  di kampung, guru les online, dan peneliti "ga jelas", wkwk. 


Meskipun aku udah ada pengalaman di start up  waktu kuliah, tapi pengalamanku di sana sangat minim dan masih ngga nemu vibenya. Menurutku, waktu itu kayak cuma gabung UKM aja, sih. Tapi sekarang, beda. Semua orang bener-bener expert. Ga lagi mahasiswa. Orangnya bener-bener hebat, bahkan ada yang CEO perusahaan-perusahaan start up yang lagi naik-naiknya dan ada yang VP Tokop*dia. Wow, ga nyangka bisa ketemu beliau langsung dan... kerja bareng, lagi!


Aku mulai pengalamanku dateng ke Jakarta. Menurutku, hari aku dateng ke Jakarta, yakni Ahad, 3 Juli 2022 dini hari jam set. 4 di daerah Magga Besar itu bener-bener berkesan. Pas aku transit di daerah itu, tiba-tiba hujan dateng, dan ga lama kemudian reda. Udara bener-bener sejuk. Rasanya dateng ke sini itu kayak disambut berkah


Aku nunggu sambil ngopi-ngopi di tempat transi sampe sekitar jam setengah 7. Setelah itu, aku pesen GrabCar yang kebetulan lagi diskon 10k. Alhamdulillah... lumayan. Aku bener-bener berpikir kedatanganku ini betulan di ridlai Allah. Semoga...


Cuman... Pak supir GrabCar waktu itu agak membuyarkan mood. Soalnya dia ngomong kalau daerah Mangga Besar itu tempatnya wanita-wanita penghibur... Yeee...


Oke, akhirnya sampai daerah kosan. Cuman, jalannya ga muat mobil. jadi harus gotong tas pakaian gede ke kosannya. Untung ga terlalu jauh.


Sampai di kosan, aku istirahat. Istirahat lama banget. Cuma explore sekitar kosan bentar, terus balik. Untung kosanku murah (600k), depan ada warung makan segala macem plus laundry dan seratusan meter (atau kurang) ada masjid. Wih, enak banget.. Ibu/bapak kosnya juga baik, lagi... walaupun mau ditengkik 50k (tapi harusnya gapapa sih..).


Setelah melalui 1 hari ga ngapa-ngapain, akhirnya aku kerja. Awalnya dikasih tahu ada meet jam 5/6 sore. yaudah lah ya.. aku sante2. Eh tetibanya jam 07.57 dapet telpon buat meet. Kan anc***. Tapi untung meet online. Aku agka panik ambil kemeja. Mana belum mandi lagi...


Meetnya tentang progress gitu sih. Aku nda mudeng. Tapi aku dikenalin sama seniorku yang saat ini lagi di Kanada. Aku pokoknya bakal ditendemin sama dia. 


Oke meetnya berjalan sampai kurleb 2 jam. Terus dibilangin jam 1 buat dateng.


Jam 1 aku dateng. Aku jalan aja, karena 700 m. Humm ternyata Jakarta panas banget. Aku sampe beberapa kali neduh dan beli minuman dingin. Akhirnya aku sampe dan ternyata tempat kerjanya malah tambah panas!


Wkwk yaiyalah, kan kitchen!

Di sana gw ditemani Amiya (nama samaran, bukan CEO Rhodes Island), belajar tentang bagaimana flow operation bekerja. Aku berkenalan dengan orang CK (ga tahu kepanjangannya, tapi mereka yg bertugas mengolah bahan raw jadi semi-raw), orang kitchen, CS, dan driver. Dari A-Z aku dikasih tahu Amiya.


Amiya ini orangnya udah cukup lama di perusahaan ini. Bahkan, sebelum perusahaan ini lahir dan rebranding jadi yg sekarang. Awalnya kerjaanya jadi admin. Dia buat report operation daily. Kerjaannya sebenarnya tidak terlalu rumit, tapi tedious. Kemudian, dia ditanggung jawabi menangani brosur. Semakin lama, kerjaannya semakin banyak sampai aku merasa kasihan.. Kerjanya sampai larut.



Karena begini, aku was was dengan jam kerja perusahaan ini. Akhirnya, aku tanya bapak HR-nya dan beliau nda ngasih jawaban. Deg! Tapi beliau bilang, kalau masuk kantor, dikira2 aja.. kalau masuk jam 10, pulang jam 6 sore, kalau berangkat pagi, bisa pulang lebih cepet.. menyesuaikan saja. Oke, kalau begini, setidaknya tidak ada maklumat kerja "rodi" dimana gw harus kerja lembur bagai kuda...


Gw diajari Amiya sampai sore. Sebelum maghrib, gw dikasih materi orientasi tentang perusahaan bersama CEO dan HR langsung. Gw juga diundang utk ikut meeting mereka. Gw ga mudeng sama sekali wkwk. Tapi gw diminta utk aktif bertanya apa aja.. Tapi prinsip gw, kalau gw ga tahu sama sekali, mending diem dan perhatikan dulu. Kalau udah ngerti dikit dan paham apa yg ditanyakan (bukan jawaban yg ditanyakan), baru gw berani tanya.


Akhirnya gw balik habis isya, jam set. 8. Gw balik jalan kaki 1,2 km-an melewati gegap gempita jakarta malam-malam utk pertama kalinya. Jujur, gw ga merasa begitu excited. Justru gw pingin cepet pulang karena yg namanya kota gede, kriminalitas juga makin banyak. Gw mampir salat bentar di masjid, lanjut makan di warteg deket kosan, dan nyampe kosan. Fiuh, bener2 hari yg mendebarkan dan melelahkan...


Tapi, gw belum bisa bener2 istirahat. Di jakarta utk pertama kali (setelah sekian lama) itu bener2 ga nyaman banget. Sangat panas dan gw keringetan banyak banget. Apalagi gw ada di kamar yg ga ada kipas, apalagi AC. Ya udah, gw sabar2in dan betah2in... meskipun beberapa kali kebangun, gw bisa tidur.


Bismillah.. semoga gw bisa betah kerja di sini dan dapet rezeki barokah, Amin..

(disunting tgl 28 Agustus di mana gw baru ada lagi keinginan nulis wkwk)

 

Kamis, 04 Juni 2020

Ramadan yang Sulit, Tapi Semoga Tidak Sia-Sia


Ramadan yang Sulit, Tapi Semoga Tidak Sia-Sia

Ramadan kali ini merupakan Ramadan yang sangat berbeda dari Ramadan sebelumnya. Semua orang yang keluar harus memakai masker. Pasar dan supermarket menjadi lebih sepi. Tidak ada salat tarawih, bahkan salat wajib berjamaah di masjid, kecuali beberapa. Kamu yang sedang merantau tidak boleh mudik ke kampung halaman, kecuali jika himbauan pemerintah dan tenaga medis diabaikan. Semua ini terjadi sejak wabah Covid-19 menyerang.

Mulai pertengahan Maret, ITB mulai menerapkan karantina kampus dan pembelajaran daring. Karena kuliah secara fisik sudah tidak diperlukan lagi, teman-teman satu per satu mulai meninggalkan kontrakan. Aku enggan meninggalkan kontrakan karena ingin fokus kuliah dan menaati himbauan pemegang otoritas. Aku tahu jika berada di rumah, aku tidak bisa fokus berkuliah. Selain itu, sudah jelas jika Rasulullah SAW menyeru bahwa jika terjadi wabah, kita tidak usah bepergian ke tempat lain. Setidaknya, aku akan memikirkan lagi untuk pulang kampung jika tugasku untuk berkuliah sudah selesai, yakni pada tanggal 15 Mei 2020.

Hampir saja aku tinggal sendirian di kontrakan, sebelum akhirnya seorang teman membatalkan kepulangannya. Dia adalah Mas A, alumni ITB dari jurusan mesin. Selain itu, seorang teman juga memutuskan untuk pindah ke kontrakan kami. Dia adalah Mas Be, mahasiswa TPSDA ITB yang sedang berjuang menyelesaikan Tugas Akhirnya. Bertiga, kami bertahan di kontrakan tersebut hingga Ramadan tiba.

Salat Tarawih
Malam pertama membuat kami canggung. Siapa yang akan memimpin salat Isya dan Tarawih? Tentu saja yang paling senior, bukan? Tetapi, Mas A sedang tidak enak badan. Selain itu, aku malah dipaksa menjadi imam. Wah, jika menurut tradisi di kampung halaman, aku perlu membaca surat at-Takatsur sampai al-Lahab, walaupun sebenarnya itu tidak wajib. Tapi, aku rindu suasana kampung halaman sehingga aku memaksakan diri untuk membacanya. Seperti kebanyakan “imam dadakan” yang banyak bermunculan di Ramadan kali ini, aku membuat kesalahan. Aku menyadarinya seusai salat dan bertanya pada Mas Be, kenapa dia tidak mengingatkanku. 

“Aku mau mengingatkan, tapi bacaanmu terlanjur cepat, jadi aku ga mengingatkan,” kata Mas Be. Alah, paling kamu juga lupa, Mas, pikirku.

Pada malam kedua, kondisi Mas A sudah lebih baik dan bersedia mengikuti salat Tarawih. Kami memutuskan untuk bergiliran menjadi imam setiap malam dan malam ini gilirannya Mas Be. Karena aku rindu kampung halamanku, aku memutuskan untuk menjadi bilal, yakni yang mengucapkan “sesuatu” setiap memulai sepasang rakaat Tarawih. Ini bukan merupakan syariat atau ketentuan salat Tarawih, tetapi tradisi yang banyak dilakukan di banyak komunitas Muslim.

Mas Be membaca surat-surat dalam salat Tarawih yang tidak sama sepertiku. Tidak apa-apa, lagipula memang tidak ada ketentuan pastinya. Setidaknya kita sama-sama salat Tarawih 20 rakaat dan salat Witir 3 rakaat. Tetapi, di tengah rakaat ke-8, Mas A undur diri. Wah, sayang sekali karena aku dengar keutamaan salat Tarawih yang utama itu akan didapat jika mengikuti sampai imam mengakhirinya. Tetapi, mengingat kondisinya yang sedang kurang baik, aku memahaminya. Kami pun melanjutkan salat tanpanya.

Malam berikutnya, giliran Mas A menjadi imam. Malam berikutnya lagi, giliranku, kemudian Mas Be, dan seterusnya. Seiring waktu, kami mulai tidak konsisten. Kami mulai meninggalkan witir berjamaah. Kadang-kadang kami mengerjakan salat Tarawih 8 rakaat. Kadang, tanpa bilal. Kadang, aku tidak ikut. Yah, kamu pasti tahu jika manusia bisa bosan dan menginginkan sedikit variasi.

Sahur
Memasuki bulan puasa artinya memulai siklus sirkardian yang baru. Jika tubuh kita biasanya tidur di waktu malam, bangun di waktu siang, kita harus sedikit memodifikasinya. Beberapa orang membutuhkan adaptasi untuk hal tersebut sehingga mungkin melewatkan waktu sahurnya di hari-hari pertama puasa. Tetapi, waktu sahur kami di hari-hari pertama Ramadan justru berlangsung sempurna.

Kita bisa bangun pukul setengah dua atau pukul tiga dini hari. Terima kasih untuk anak-anak kampung Regol yang sudah berkeliling sambil berteriak-teriak dan menabuh alat musiknya. Tapi, mengenai anak-anak itu, aku sedikit terkesan karena mereka tidak hanya berteriak “Sahuurr!!! Sahurrr!!!”. Mereka kreatif. Kamu tahu, mereka membuat lirik!

Bangunin sahur dimarahin…
Ga dibangunin , kesiangan…
Gue pusing…
Gue pusing…
Gue…
Salah lagi…

Mungkin berkat kebisingan yang sangat keras dan lirik menjengkelkan itu, kami dan mungkin warga lainnya bisa bangun tepat waktu untuk sahur. Sekali lagi, terima kasih bocah-bocah nakal yang sering sengaja berhenti di depan kontrakan dan berisik sekali!

Setelah sahur, kami mengerjakan salat Tahajud dan beribadah masing-masing. Ada juga yang tidur. Lalu, kami bangun lagi ketika salat Subuh dan tidur setelah itu. Biasanya aku bangun jam sepuluh pagi. Aku tidak tahu yang lain. Tetapi aku tahu kalau Mas Be pernah baru bangun jam setengah tiga siang.

Namun seiring waktu, hal ini membawa kebiasaan buruk. Siklus sirkadian kami berubah 180 derajat: kami tidur di siang hari dan begadang di malam hari.

Gejala pertama yang kami alami adalah insomnia. Mas Be mengaku tidak bisa mengantuk selama dua hari, mungkin. Aku tidak bisa mengantuk selama satu hari. Tetapi, setelah itu aku berubah menjadi manusia nokturnal. Aku tidak bisa bekerja seproduktif siang hari ketika malam. Aku tidak bisa belajar atau mengerjakan tugas. Akhirnya, aku mulai terjerumus dalam rayuan game-game dan anime-anime ilegal. Tetapi tidak semuanya ilegal, kok! Aku membeli beberapa, hehe

UAS
Kebiasaan-kebiasaan itu menyebabkanku sulit berkonsentrasi dalam belajar. Jujur, aku sering melewatkan kuliah online karena tidur di pagi hari. Selain itu, kemampuan belajar juga menurun karena pusing dan terjerumus dalam jebakan hiki-NEET tadi (hikikomori: orang yang mengurung diri di kamar, NEET: not in education or employment atau pengangguran). Padahal, aku belum selesai menuntaskan misiku dalam berkuliah di semester ini. Aku kira aku bisa lebih fokus jika belajar di sini daripada di rumah, tetapi sama saja. Sayang sekali.

Ketika ujian akhir semester, aku merasa tidak dalam kondisi terbaik. Aku sudah berusaha belajar, tetapi dikurangi oleh kebiasaan-kebiasaan buruk tadi. Aku mengakui kalau performaku parah sekali kali ini. Aku seperti menyia-nyiakan hasil belajarku selama satu semester ini. Aku mengecewakan orang tua dan semua orang yang sudah membantuku kuliah selama ini. Aku mengecewakan orang yang mempercayaiku. Aku kecewa sekali terhadap diriku ini.

Sedikit Cahaya
Mungkin tidak baik jika kita terlalu kecewa dan menyalahkan diri sendiri. Mungkin aku frustrasi karena hard disk laptopku rusak seminggu sebelum UAS. Kita tahu bahwa hard disk itu mahal. Padahal, kondisi uang sedang tidak baik dan file-file perkuliahanku hilang begitu saja. Memang salah jika terlalu banyak mengandalkan teknologi dalam belajar (baca: malas mencatat). Untungnya, sebagian file sudah di-back up. Tetapi, wi-fi kontrakan sudah mati dan aku harus men-download-nya dengan kuota data internet. Tetapi tiba-tiba jaringan 4G melambat karena penggunaan yang melebihi batas kuota Unlimited. Terpaksa aku membeli kuota data lagi. Tetapi beberapa hari kemudian, aku mendapat bantuan kuota dari ITB. Kenapa aku harus membeli kuota lagi?!

Selain itu, mungkin aku juga frustrasi karena tidak bisa bertemu keluarga di rumah, seperti kebanyakan teman-teman. Aku juga tidak bisa bepergian di kota ini karena sedang berlangsung PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Beberapa akses jalan ditutup dan toko-toko dibatasi jam bukanya. Walaupun pemerintah membolehkan kita keluar jika terdapat keperluan yang penting, tetapi aku ikhlas mengurung diri di kontrakan, bahkan di kamar, selama berminggu-minggu. Sangat jarang sekali aku berbicara dengan Mas A dan Mas Be, karena aku nyaman sekali menyendiri. Kadang aku ingin mengobrol, tetapi karena sudah terlalu lama tidak mengasah skill sosial ini, aku kesulitan. Kamu tahu? Mau tapi tak mampu.

Oke, mungkin itu sedikit tambahan cerita sedihnya.

Rasanya ingin sekali, sekali-kali berinteraksi dengan orang lain, selain ibu melalui telefon. Syukurlah aku mempunyai beberapa teman, atau sahabat, yang nyaman untuk diajak chatting. Walaupun sedikit, tetapi aku sangat berterima kasih pada mereka yang mau meluangkan waktu untuk itu.

Tetapi di antara mereka, terdapat seseorang yang sangat istimewa. Orangnya sangat cantik, baik, dan perhatian. Aku sudah mengenalnya sejak lama dan aku pernah berharap padanya. Dia adalah orang pertama dan satu-satunya yang kuharapkan sejauh ini. Tetapi hanya sampai pada harapan, karena dia sangat jauh untuk bisa dicapai diriku yang sekarang. 

Ketika Ramadan ini berlangsung, aku sudah mulai membuang itu sedikit demi sedikit. Aku tahu kalau dia sangat baik dan perhatian, tetapi dia terlalu baik sehingga mungkin semua orang diperlakukan seperti itu. Aku juga tahu kalau dia tidak tertarik pada kepentingan pribadi, seperti ikatan kehidupan bersama. Dia lebih tertarik untuk mewujudkan cita-citanya untuk Indonesia dan dunia. Kemudian, setelah selama ini kami saling berkomunikasi, dia menghilang.

Aku mulai berpikir jernih. Memang bukan saatnya diriku memikirkan hal itu. Aku harus memikirkan itu setelah aku selesai dengan urusan kuliah dan urusan pribadiku. Mungkin benar jika kita sebaiknya tidak mendekati hal-hal semacam itu, jika kita belum siap. Kita bisa tersesat dan mendarat di jalan yang buruk. Mungkin kepayahanku di akademik, aku yang terjerumus kebiasaan jelek, dan sering frustrasi merupakan efek samping dari hal tersebut, walaupun tidak secara langsung.

Baiklah, mungkin lebih baik begini. Hal tersebut memang tidak bisa dilupakan, tetapi bisa dikaburkan dari ingatan. Setelah itu, aku hampir tidak memikirkan hal itu.

Tiba-tiba, di suatu pagi yang cerah di hari ketujuh bulan Ramadan, aku terbangun setelah mendapat mimpi yang indah. Aku bermimpi melihatnya datang ke kota ini. Padahal, dia kuliah di ujung pulau yang lain dan saat ini sedang di rumah. Kemudian dalam penglihatanku, dia sedang menuju ke kontrakan ini dan mimpi itu selesai. Aku terbangun dengan sedikit kecewa karena ingin tahu kelanjutannya. Tetapi, setelah bangun tiba-tiba aku membuka twitter dan melihat quote bahasa Arab yang artinya,

“Apa yang dibayangkan dan dipercayai oleh pikiran dapat dicapai…”
- Napoleon Hill

Aku tidak tahu kenapa kebetulan aneh itu bisa terjadi. Seharusnya itu juga ada di dalam mimpi! Tapi, kebetulan tidak berhenti sampai di situ. Temanku yang orangnya alim ilmu agama dan disangka tidak suka perempuan, tiba-tiba curhat masalah orang yang disukainya waktu MTs. Dia kini sudah dinikahi oleh gurunya sendiri. Aku kaget, dan berduka atas hal tersebut. 

Bukan itu saja, temanku yang lain juga curhat perihal ke-bucinan-nya. Aku juluki dia “Raja Harem” karena pacaran dengan tiga perempuan dalam waktu berdekatan. Tapi, akhirnya hal itu terbongkar dan dia kehilangan semuanya. Aku marah. Bukannya dia bercerita pada orang yang salah? Aku belum pernah pacaran dan apakah aku terlihat sebagai orang yang meyakinkan untuk mendengarkan itu? Atau dia hanya pamer? Tetapi tenang, aku hanya bercanda. Aku ikut sedih dan senang ketika ia kembali kepada jalan yang benar: fokus pada kuliah.

Hampir seminggu kemudian dan seminggu kemudiannya lagi aku memimpikannya, tetapi tidak ada kebetulan menarik yang terjadi lagi. Hanya mimpi menarik, seperti tiba-tiba kami menjadi guru atau bertemu di dunia lain. Sepertinya hal ini akibat terlalu banyak menonton anime isekai.

Aku tidak menganggap mimpi itu terlalu serius. Bisa jadi hal ini merupakan mekanisme psikologis yang defensif. Ia memberi sedikit cahaya, sebelum pikiranku benar-benar gelap.

Pulangnya Mas Be
Setelah UAS selesai, aku sudah memikirkan untuk pulang kampung. Tetapi dengan adanya kedua teman yang masih bertahan di kontrakan, aku jadi tidak khawatir jika bertahan di sini lebih lama. Lagipula, keadaan bukannya semakin aman, tetapi buruk karena aturan pemerintah yang tidak jelas dalam menangani wabah dan pelanggaran-pelanggaran aturan yang sudah tidak jelas seperti itu. Aku khawatir jika di rumah, aku justru menjadi bahan gunjingan tetangga dan menimbulkan salah paham. Soalnya, kerabatku yang datang dari Jakarta juga mengalami itu.

Beliau datang dari Jakarta, tetapi tidak mau menerapkan karantina mandiri. Dia yakin bahwa dia aman dari Korona. Tapi, ada kerabatku yang lain menyarankan agar dia melakukan karantina mandiri di tempat tertentu yang sudah disiapkan pemerintah daerah. Pihak keluarga kerabatku yang dari Jakarta mengira bahwa kerabatku itu menyarankan agar semua orang mengucilkannya. Pihak kerabatku itu tidak terima dan akhirnya terjadilah adu mulut.

Aku khawatir jika aku pulang, aku terlibat adu mulut dan aku tidak bisa mengatakan apa-apa, selain tidak ada yang membelaku.

Baik, awalnya semuanya sudah baik-baik saja, sebelum Mas Be diminta untuk mudik ke kampung halamannya. Dia bisa mudik karena rumahnya tidak terlalu jauh dari Bandung. Selain itu, katanya Jawa Barat juga akan mengalami relaksasi PSBB pada tanggal 19 Mei 2020. Rencananya dia akan pulang setelah itu. 

Mas A yang sering menjadi teman bicaranya berusaha mencegah Mas Be pergi. Tetapi memang tidak memaksa, seolah-olah dia sudah tahu kalau hal ini memang akan terjadi. Sedangkan aku, pura-pura tidak tahu akan hal itu. Lagipula dari awal aku memang sudah menyiapkan diri untuk tinggal sendiri. Selain itu, jika Jabar saat itu memang aman, tidak ada salahnya jika dia kembali bersama keluarganya.

Namun, rencana kepulangannya lebih cepat satu minggu dari seharusnya. Aku kaget dan mencoba membuatnya berpikir dua kali di tengah kondisi yang belum aman dan penjagaan aparat yang ketat. Aku dengar bahwa ada orang yang mencoba pergi dari Jakarta ke suatu daerah, tiba-tiba di Semarang ketahuan aparat, kemudian disuruh kembali lagi ke Jakarta.

Tapi, yang meminta hal ini adalah orang tua Mas Be. Aku dan Mas A tidak bisa mencegahnya. Kemudian, dia pergi pamit dan meninggalkan satu kamar kosong lagi di kontrakan kami. 

Sepertinya, dia berhasil sampai di rumah. Aku dan Mas A memulai rutinitas berdua, seperti salat Berjamaah, salat Tarawih, sahur, dan lain-lain. Rasanya sangat sepi, bahkan oleh orang penyendiri sepertiku ini. 

Zakat Fitrah
Aku menjadi lebih sering mengurung diri di kamar. Karena sudah tidak ada kuliah daring, aku semakin banyak melungkan waktu bermain game dan menonton film. Jika lelah, aku tidur. Jika aku haus dan lapar, aku makan ketika sudah waktunya berbuka. Tidak ada orang tua atau saudara yang mengingatkan atau mengganggu. Sempurna sekali untuk menjadi hiki-NEET, sekaligus menyedihkan.

Aku hampir menutup diri dari dunia luar, bahkan dunia maya. Tetapi, tidak bisa. Aku justru lebih sering aktif daripada sebelumnya, meskipun aku tahu bahwa tidak lebih banyak interaksi sosial yang aku peroleh dari sana. Tapi, walaupun aku seolah tidak peduli, aku tetap melihat like dan siapa saja yang aktif. Aku melakukan itu, karena aku ingin saja.

Sampai akhirnya lebaran tiba, hari-hari yang menyedihkan ini hampir berlangsung menyedihkan pula. Aku hampir tidak peduli ucapan-ucapan keluarga, sahabat, atau teman yang mengucapkan selamat lebaran dan meminta maaf. Aku hampir melupakannya dan melanjutkan menonton film.

Tetapi, aku ingat bahwa kewajiban zakat fitrah belum aku penuhi. 

Aku peduli akan hal itu melebihi ketidakpedulianku terhadap diriku sendiri. Aku dan Mas A segera membeli beras dan menunaikannya. Tetapi, bukan menyerahkannya ke tetangga atau masjid terdekat, melainkan ke pondok pesantren milik kenalannya Mas A. Ponpes itu sangat jauh. Perjalanan motor dengan lalu lintas relatif sepi di Bandung membutuhkan waktu setengah jam atau lebih.

Di tengah perjalanan, aku tidak melihat satupun acara takbir keliling, kecuali sekelompok kecil anak-anak yang melakukannya di kompleksnya masing-masing. Di kampung halamanku, takbir keliling adalah salah satu acara yang paling dinanti-nanti anak-anak, selain acara tujuh-belasan. Selain itu, aku melihat sepinya jalanan dan toko-toko yang tutup. Padahal, di saat inilah para pedagang seharusnya meraup banyak keuntungan dari baju lebaran, kue lebaran, petasan, dan lain-lain. Mungkin beberapa di antara mereka justru tak sanggup membeli hal itu, bersama seluruh orang yang secara ekonomi terdampak wabah Korona ini. Apalagi bagi orang-orang yang dari awal sudah tidak mampu.

Memberikan sedikit beras sambil sedikit melihat keadaan di luar membangkitkan sedikit kepedulianku. Bagaimanapun buruknya kondisi lebaran kali ini, orang-orang masih merayakannya sebagai hari kemenangan, atau setidaknya hari yang spesial yang tidak boleh dilewatkan begitu saja seperti hari-hari biasa. 

Mereka masih tetap bertakbir, walaupun tidak ramai. Beberapa toko memang tutup, tetapi mereka tetap berkumpul bersama di kediamannya. Jika tidak bisa berkumpul bersama keluarga, mereka saling melempar salam virtual. 

Dari zakat, aku belajar bahwa memberikan beberapa butir beras bisa membuat ibadah kita di bulan Ramadan tidak sia-sia. Aku harap begitu juga jika kita memberi sedikit kepedulian pada diri sendiri, keluarga, sahabat, teman, dan orang di sekitar kita, semoga hari-hari yang sulit akhir-akhir ini tidak berakhir sia-sia.

Versi lomba sudah dipublikasikan Himastron ITB sebagai Pemenang Ramadan Challenge Story

Rabu, 03 Juli 2019

[Green Moon] - Bagian 2.1

Pangkalan Bulan Tiongkok HE-103, 5 Januari 2026

“Benar kata Elon Musk. Ternyata kita adalah Von Neumann machine, hahahaha…” kata Komandan Guang Hong.
“Maksudmu, kita adalah mesin yang dikirim alien untuk menggandakan kehidupan di Bumi?” sahut Mayor Zang.
“Kalau menurutku, kita tak lain hanyalah ‘sel sprema’ yang sedang ‘membuahi’ Bulan,” kata Letnan Yui Chen.
“Hahaha… menarik sekali kamu bisa menghubungkannya dengan pemikiran James Lovelock itu… Hipotesis Gaia, kah?” tanya Komandan Guang Hong.
“Jangan-jangan Bumi, Bulan, dan seluruh alam semesta adalah makhluk hidup, ya Komandan? Masing-masing dilahirkan, mati, menggandakan diri, dan membuat keajaiban seperti ini,” sahut Letnan Yui Chen.
“Hahaha… kau benar sekali, Letnan Yui Chen. Sekarang, keajaiban itu benar-benar ada di depan kita!”

Mereka bertiga akhirnya sampai di bulan. Di depan terdapat ladang-ladang hijau tempat kehidupan berada di tengah gurun gersang yang kadang beku, kadang seperti neraka. Mereka mendarat di daerah dekat kutub Utara, di mana air terdapat dalam bentuk es dan intensitas cahaya matahari lebih tinggi. Untuk mendapatkan air, mereka mencairkannya dalam wadah tertutup bertekanan khusus dengan menggunakan energi matahari. Kemudian, sebagiannya dibiarkan menguap dengan proses fotolisis yang menghasilkan gas hidrogen untuk bahan bakar dan oksigen untuk bernafas. Sebagian oksigen digunakan untuk respirasi berbagai mikroba yang akan menghasilkan hasil samping berupa gas CO2 dan berbagai nutrien yang sangat dibutuhkan tanaman untuk berfotosintesis. Semuanya saling berhubungan dan membentuk siklus yang berkelanjutan. Jadi, tempat ini bukan hanya tempat terideal untuk sebuah ladang, melainkan ekosistem!

Benar-benar suatu hal yang luar biasa untuk mengetahuinya, apalagi melihatnya dengan mata kepala sendiri. Setidaknya itulah yang dialami oleh Letnan Yui Chen yang baru pertama kali menginjakkan kakinya di Bulan. Ia sangat terpukau dan tercenung begitu lama. Senyum lebarnya yang tak dapat ia sembunyikan membuatnya tersipu dilihat Komandan Guang Hong dan Mayor Li Zhang. Bagi veteran seperti mereka, ini hanyalah kesenangan kecil yang membuat mereka sedikit bernostalgia. Misi ini memang berat, tetapi semua ini setara dengan tiket pertunjukan sebuah mukjizat yang hebat.

Sambil berjalan menuju area ladang, Letnan Yui Chen tak berhenti-hentinya melihat pemandangan sekitar. Selain takjub dan penasaran, ia juga mengumpulkan informasi dan mencoba menganalisisnya. Di samping kiri-kanan, terdapat robot-robot yang sedang bekerja menambang tritium dan pabrik-pabrik besar yang mengolahnya. Cerobong pabrik itu mengeluarkan asap-asap hitam. Asap itu diluncurkan ke atas dan lepas begitu saja ke ruang angkasa karena gravitasi bulan yang rendah. Sebagian kecil, berupa material bermassa jenis tinggi, jatuh kembali ke permukaan menjadi bercak-bercak hitam yang menjadi polusi di sana. Kemungkinan polusi itulah yang menyebabkan keanehan di ladang.

Setelah berjalan sekitar 30 menit, mereka akhirnya sampai di depan area ladang.

“Hahaha… akhirnya kita sampai. Baik, karena di sini ada banyak tempat, kita bagi saja tugasnya. Mayor Li Zhang, tolong periksa ruang kontrol, pengelolaan sistem, dan lumbung. Letnan Yui Chen, ikut aku memeriksa fasilitas habitasi ini dan semua plantnya!”
“Siap, Komandan!”

Mereka bertiga pun mlai berpencar dan menyelidiki tempat masing-masing.
***

Senin, 01 Juli 2019

[Produktif]

Huhhh, malam ini begadang lagi. Mau bagaimana lagi, besok ujian dan ada tugas artikel sepuluh halaman. Oiya, jangan lupa belajar sedikit untuk persiapan ngasprak. Kalau tidak belajar, bisa-bisa aku terkena marah senior lagi dan mendapat hukuman. Jika mendapat hukuman, aku harus mengerjakan konsekuensinya. Akhirnya aku tidak punya waktu lagi dan harus begadang lagi besoknya. Waduh…

Hei! Bukan saatnya mengeluh! Pekerjaanmu masih banyak dan belum selesai. Sadar! Sadar! Saadaa…

HoAhMmm… TiDUr DuLu sAjA… Ah... 

BRAK!

“Za! Bangun, Za!” kataku berteriak.

Seketika mata-mata tajam menatapku dari segala arah. Mereka kesal dan mengacungkan jari telunjuk di depan mulut dan berdesis panjang.

SSSSSSSSSSSTTTTT....

Yosh, adrenalinku terpompa dan listrik 1300 MW mengalir di jejaring syaraf otakku. Terima kasih tuan-tuan sekalian, mohon maaf mengganggu. Terima kasih juga petugas perpustakaan yang berbaik hati tidak mengusirku. Aku tahu ini sudah malam dan sebentar lagi akan ditutup, tapi mohon pengertiannya.

Aku buka lembar-lembar buku.

“Hmm, sampai mana tadi?” aku berbicara sendiri.

“Oh, fungsi Bessel dan solusi persamaan diferensial”

“Begini… oh, begini… hmm, jadi begitu… oke, oke… ashiapp” ujarku saat membaca materi dengan kecepatan satu halaman per detik.

Dari arah jam 2, seseorang berjalan mendekat kemari. Ia menjinjing laptop dan mendekap buku di dadanya. Dia teman kuliahku, tapi dari jurusan lain. Sepertinya, dia bernasib sama sepertiku. Wajar saja, sih soalnya dia memang tipe-tipe aktivis kampus berprestasi yang jarang pulang malam. Iya, soalnya dia pulangnya pagi dini hari.

“Lho, Za. Ngapain kamu? Biasanya habis kuliah langsung pulang?”

“Nasib, Ndre. Besok ujian, terus ada tugas. Belum persiapan ngasprak,”

“Kenapa nggak di kosan aja?”

“Ntar malah tidur, ga ngapa-ngapain di sana, mah,”

Dia duduk di sampingku, menyalakan laptop. Tangannya meraih pena dan kertas. Tanpa basa-basi, ia melanjutkan pekerjaannya. Wow, bisa pindah mode secepat itu, ya? Kalau aku, mah minimal buka HP dulu 5 menit, terus kalau laper, nyemil dulu. Eh, kalau belum makan, makan dulu. Terus minum lagi. Buka laptop, terus keinget HP main lagi. Ya, kira-kira booting-nya setengah jam, lah minimal.

Sambil mengetik dan mencatat tugasnya, ia mengajakku mengobrol.

“Oh, jadi itu alasanmu ke sini. Tapi, menurutku kalau tipe-tipe kamu, mah tetep ga produktif di sini,”

“Bentar, bentar, tipe-tipe aku? Jangan menilai orang seenaknya, dong!”

“Sabar, sabar. Bukan itu, maksudku. Kalau di sini, tempatnya ga enak. Ramai, banyak orang, susah konsentrasi. Terus ga ada tekanannya. Lagipula, mau ditutup sejam lagi, kan?”

“Iya, sih. Tapi, kalau milih tempat yang ga ramai mah di kosan, lah”

“Ya, ga gitu juga. Kosan itu banyak hawa nafsunya. Apalagi kasur.”

“Lha, terus di mana?”

“Mau tahu? Yuk ikut aku jalan-jalan!”

“Ha? Jalan-jalan? Tapi tugasku masih banyak!”

“Tenang aja, kita nanti jalan-jalan ke tempat lain buat ngerjain tugas, kok. Aku kasih rahasia nih tempat yang bisa bikin kita nyaman sekaligus produktif”

“Wah… Beneran? Oke, deh”

Andre menutup laptop dan membereskan barang-barangnya. Aku pun begitu. Kami pun pergi ke luar perpustakaan dan meninggalkan kampus. Kami berjalan kaki menyusuri trotoar di tepi jalan raya yang semakin sepi karena larutnya malam. Tapi tidak dengan simpang empat di ujung jalan. Di sana kelihatan ramai sekali di pinggir-pinggir jalan. Banyak warung dan pedagang kaki lima di sana. Aku bingung sebenarnya kami ini mau ke mana, kok harus ke sini.

“Makan yuk, Bro?”

“He??? Di sini? Ngerjain tugas di warung pinggir jalan begini?”

“Ayolah, makan dulu, Za. Kamu belom makan, kan tadi? Sebelum kelaparan, hehe…”

“Kelaparan? Apaan sih? Aku lagi belum laper dan sengaja buat laper biar ga ngantuk,”

“Udah, ini termasuk strategi biar produktif itu, lho… Nah ini, namanya efisiensi”

“Ah, bodo, ah. Terserah mastah mau bicara apa…”

Aku yang sebenarnya memang tidak benar-benar lapar, memasang setengah porsi nasi pecel. Aku juga memesan air tawar, agar tak kebanyakan gula dan membuatku mengantuk. Andre memesan nasi ayam dan es teh manis, dan sambil mengerjakan tugas? Gokil betul anak ini. Sepertinya dia sudah terbiasa dan menjadi ahli. Tentu adegan ini tidak bisa kutiru begitu saja.

Sambil mengerjakan tugas, sesekali ia memegang hapenya dan menerima panggilan. Dia menjawab setiap panggilan dengan baik dan lancar, walaupun itu berbeda-beda topik. Ada yang mengusiknya tentang masalah BEM, menjelaskan rapat unit, kepanitiaan suatu acara, lomba karya tulis, sampai curhat.temannya. Wah, tak kusangka dia bisa sehebat itu, padahal dia bukan mapres. Apalagi yang jadi mapres, ya?

“Hei, Za, kok bengong aja. Ayo makan cepet, biar bisa segera belajar dan ngerjain tugas!”

“Habis, ini kita mau ke mana?”

“Udah, makan dulu. Jangan banyak tanya, dah!”

“Haishh… Iyak, iyak, iyak.”

Baik sekali hari ini dia mentraktirku. Setelah membayar semuanya, kami pun melanjutkan perjalanan ke arah kanan dari persimpangan tadi. Dari sana, kami berjalan 70 meter dan belok ke kiri. Ia mulai menunjuk suatu kafe di ujung jalan. Kulihat jam tanganku menunjukkan pukul 22.00. Hmm, apakah aku benar-benar bisa belajar dan menyelesaikan sepuluh halaman ini?

Kami pun masuk ke kafe itu. Tempatnya terang dan tidak terlalu ramai. Kebanyakan pengunjung di sini sepertinya anak kuliahan. Ada yang bermain game, pacaran, nongkrong, dan lain-lain. Wah, baru tahu kalau anak kuliahan mainnya ke sini. Dasar, aku anak kuper!

Tapi, ternyata kita tidak duduk di tempat orang-orang tadi. Andre menunjukkan tempat tempat rahasianya, yaitu sebuah ruangan agak bersekat-sekat dan suasananya lebih tenang. Hawanya tidak terlalu panas ataupun dingin. Pencahayaannya juga pas, hanya menerangi spot-spot tertentu saja. Sepertinya, ini benar-benar tempat luar biasa untuk belajar…

Pacaran.

Sial, di sini malah kebanyakan orang yang pacaran. Mentang-mentang suasananya romantis dan agak gelap-gelap begitu.

Kami pun duduk berdua di pojok dan memesan pada pelayan.

“Hei, Ndre. Ternyata, kamu pintar-pintar begini, ternyata kelihatan aslinya ya. Hmm, nggak kaget, sih soalnya orang-orang yang hebat itu emang aneh-aneh”

“Hei, hei, jangan ngawur kamu, Za! Siapa juga yang minat sama kamu!”

“Tuh, kan! Homo! Hahaha… aku foto, terus story IG, terus tulis, ‘bersama MaHo’… Hahahaha”

“Naudzubillah… Udah, udah. Jangan terpengaruh sekitar! Biarin orang lain pada pacaran, tapi kita belajar. Aku kalau keos selalu ke sini buat ngatasin kekeosan itu. Dan itu sendiri, woi!”

“Hahaha… oke, deh. Tapi ngenes juga, yak ga ada yang nemenin. Eh, btw kita kudu pesen apa? Kan udah makan?”

“Itulah sebabnya kita sudah makan, teman. Seperti yang Anda tahu di sini makanannya harganya selangit-selangit. Kalau makan di sini pasti kita bangkrut, teman. Maka dari itulah kita perlu strategi efisiensi seperti tadi…”

“Oo… Seperti itu, terus kita pesen apa di sini? Minumnya juga delapan belas ribuan paling murah.”

“Salah, teman. Coba lihat ujung paling atas bagian kanan, yang hampir ketutupan sama penjepit kertas. Ada air putih.”

“Buset! Air putih goceng?”

“Jangan dilihat air putihnya, bung. Tapi, lihatlah apa yang kita dapat. Tempat nyaman. Belajar beres. Tugas beres. Itu…”

“Gayamu kayak Mario Teguh. Tapi, apa ga mal..”

“Udah, ah ngobrolnya! Kalau malu ya udah pesen minuman lain yang delapan belasan ribu itu. Jangan lupa kalau pesen, aku juga ya. Traktir juga, biar impas.”

“Tapi, tapi, tapi…”

Kami akhirnya pesan dua gelas air putih. Dari raut muka pelayan yang mengantar pesanan yang datar dan mata yang memicing terlihat jelas keheranannya yang bercampur kesal. Apalagi ketika melihat Andre, tatapannya seperti pembunuh berdarah dingin yang siap membunuhnya kapan saja. Ternyata uratnya sudah putus sejak lama, ya urat malunya si Andre.

Aku terpaksa memesan minuman yang lain lagi. Setelah itu, aku mulai belajar dan mengerjakan tugas. Awalnya canggung dan malu, belajar di tempat seperti ini. Kayak orang yang ambis saja. Tapi, kata Andre, ini sangat efektif untuk semua orang, khususnya para milenial. Katanya ini sudah menjadi solusi yang populer bagi para milenial yang lebih suka menyendiri, tapi tidak produktif. Dengan berada di luar dan nyaman, mereka akan lebih efektif bekerja. Memang, modern problem requires modern solution.

Wow, tidak terasa sekarang sudah pukul 2 pagi. Aku sudah belajar semua untuk ujian dan asisten praktikum nanti, juga tugasku sudah selesai. Ya, memang agak lupa-lupa sedikit sih. Wajar karena belajar di waktu yang mepet-mepet. Tetapi ini lebih baik daripada tidak belajar sama sekali akibat tewas di atas kasur.

Kulihat si Andre masih sibuk telfon-telfonan sambil mengerjakan tugas. Sepertinya ia masih sedikit lama di sini. Dasar, mau sampai subuh dia di sini? Memang mastah mah beda!

Ahbodohlah… Aku sudah sangat capek dan mengantuk. Aku bilang pada Andre untuk pulang lebih dulu. Aku berjalan agak gontai, bagaikan pulang dari suatu pertempuran. Tapi, kali ini dengan membawa kemenangan. Aku tersenyum dan melangkah keluar.

Saat kualihkan pandangan sebentar, aku melihat masih ada seseorang yang berada di ruangan private itu selain Andre. Dia sendiri dan sedang mengerjakan sesuatu dengan laptopnya. Tidak, sepertinya aku mengenalnya. Dia tidak asing.

Sial, aku kepergok mengamatinya.

“Andre!”

TAMAT

Credit for My Friend's NID