Senin, 17 Juni 2019

[Teror Tugas Akhir]


Sore ini, aku harus menemui dosen pembimbingku. Aku sudah membulatkan tekad. Pokoknya aku tidak boleh terlambat lagi. Terlambat untuk lulus. Sudah 10 semester aku berada di kampus ini dan aku tidak ingin memperpanjangnya.

Apalagi jika mereka harus repot-repot mengusirku. Selain malu, bisa-bisa cita-citaku jadi kacau. Oh, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!

“Selamat datang, Renaldi! Besok-besok jangan kebanyakan nonton anime lagi, ya..." sapa dosen pembimbingku.

“Astaghfirullah, Pak… Sudah saya bilang, bukan gara-gara itu!" ujarku kesal.

Pak Budi seperti biasa selalu bersikap jahil pada semua orang. Semua orang diperlakukan sama, bahkan pada orang bermasalah sepertiku yang sudah setahun lebih menghilang tanpa mengabarinya dan tiba-tiba muncul begitu saja. Tapi justru itulah yang membuatku bersyukur mempunyai dosen pembimbing yang begitu baik dan selalu santai.

"Ah, sudahlah… Bapak nyari kamu sudah setahunan lebih, eh selama ini malah ngurung diri di kosan barumu itu. Untung kamu tobat, ya..."

"Pak, saya setahun belakangan ngilang bukan karena anime, Pak. Gara-gara skripsi itu!"

"Hahaha... Mulai lagi ngayalnya”

"Nggak, Pak, sumpah! Rasanya skripsi itu terus-terusan neror saya! Bahkan, sampai sekarang saja saya masih kepikiran, Pak..."

"Hahaha... Justru bagus, dong. Biar kamu cepet sadar..."

"Pak, saya bukan lagi bercanda..."

"Hahaha... ya sudah, ya sudah. Sekarang, mana draftnya yang mau saya koreksi?”

Sambil menyerahkan draft skripsiku dengan senyum kecut, aku kembali teringat-ingat kejadian itu. Padahal sudah sekian lama aku mencoba melupakannya. Tetapi, aku memang sudah mempersiapkan hal ini. Mau bagaimana lagi. Mau tidak mau, aku harus berhubungan lagi dengan urusan skripsi. Kuatlah, diriku…

Setiap aku melihat tumpukan kertas-kertas itu, aku selalu teringat dengan skripsi mahasiswa ITG yang misterius itu. Sebuah skripsi yang benar-benar gila! Daripada dipajang di etalase perpustakaan, sepertinya lebih layak untuk jadi konten deep web. Brutal dan penuh konspirasi! Apalagi melihat tangan dosen yang mencoret-coret draftku dengan pena bertinta merah, seperti darah. Darah yang mengucur akibat cabikan pisau-pisau bedah. Sial, aku malah kembali mengingatnya!

Setahun lalu, aku masih merupakan mahasiswa yang rajin. Waktu itu aku sedang giat-giatnya mencari literatur untuk skripsiku. Namun, kucari-cari literatur yang terkait di perpustakaan prodi dan perpustakaan pusat tidak ada yang memuaskan. Tidak ada yang benar-benar sesuai dengan topik yang ingin kuteliti. Sudah kujelajahi seluruh koridor, dari lantai satu sampai empat, tetap saja aku tak mendapatkannya. Pak Budi sebenarnya menyuruhku untuk mencari topik yang lain saja, daripada kerepotan. Tetapi, aku bersi keras menolak. Apapun yang menghalangi, aku harus bisa menjadi ahli otak dari ITG!

"Duh, gimana nih, Fer? Masak aku harus nyerah, sih?" keluhku setelah berhari-hari mondar-mandir di perpustakaan.

"Lho, lho, kamu masuk sini kan gara-gara pengen ngejar cita-citamu! Kalau nyerah di sini, ya percuma dong selama ini!" kata Ferdi menyemangatiku.

"Lagipula, kan ada jurnal online. Pakai itu saja, bukannya sama saja?" timpalnya.

"Beda, Fer... Hasil riset di sini katanya beda dan lebih spesifik dalam mempelajari fenomena yang langka. Kalau ada yang sama, kualitasnya pun belum tentu sama," jawabku.

Sebenarnya dulu kampus ini sangat terkenal keahliannya di bidang otak dan syaraf. Tapi, entah kenapa dalam beberapa tahun belakangan gaungnya sudah tak terdengar, tertutup bidang lain, seperti teknik yang lebih tinggi pamornya. Padahal dulu hasil-hasil risetnya mendunia. Bahkan tempat ini sempat menjadi pusat penelitian syaraf dan otak terdepan di dunia. Anehnya, pemerintah tiba-tiba menghentikan aliran dananya kepada ITG. Alhasil, riset pun mandeg dan peralatan-peralatan canggih yang tersisa tidak mendapat perawatan dan berangsur-angsur usang ditelan zaman.  

Anehnya, dosen-dosen di sini tidak pernah ada yang ingat mengapa hal tersebut dapat terjadi. Ada yang bilang pemerintah pelit, saat itu ekonomi sulit, atau yang lebih seru, gara-gara riset gila yang berbahaya, menurut sebuah teori konspirasi. Tapi, aku jelas lebih percaya pada teori yang lebih nyata dan bisa dilihat contohnya pada zaman sekarang.

“Kalau dulu memang benar ITG adalah pusat penelitian, kenapa tidak mencari tahu langsung ke tempatnya, di gedung PAD?" kata Ferdi memecah kebuntuanku. Benar juga.

Dulu gedung itu adalah gedung riset gabungan antar seluruh universitas di penjuru negeri, termasuk di bidang otak dan syaraf. Namun, gedung itu kini hanya dijadikan kantor administrasi dan nyaris tidak ada lagi kegiatan akademik di sana.

"Oke, Fer. Aku coba dulu, deh. Makasih, bro,"

"Yoi, semoga berhasil!"  

"Sip, aku pergi dulu." Kemudian, aku bergegas menuju gedung yang persis ada di depan perpustakaan itu. Tiba-tiba dia terkejut dan teringat sesuatu.

"Eh, tapi ingat! Katanya gedung itu bahaya dan banyak hantunya. Jadi hati-hati aja, jangan sampai pulang malam," ujar Ferdi. Jika dilihat-lihat, gedung ini tampak angker memang. Sudah sepi, kacanya yang rusak tidak diganti, dan catnya yang menguning dibiarkan begitu saja. Benar-benar seperti rumah kosong.

"Hahah, hantu mah bukan cuma di situ aja kali, semua di ITG juga berhantu,"

"Hahaha, ya sudahlah. Kalau ada apa-apa, aku bantu. Sori, aku nggak bisa nemenin, lagi ada bimbingan,"

Kami pun berpisah dan aku pun masuk ke gedung itu. Ternyata, di sana benar-benar sepi. Hanya ada beberapa staf di lantai satu dan seorang satpam yang menjaga di depan. Naik tangga ke lantai dua, aku menemukan beberapa ruang yang dipakai perkuliahan. Di lantai tiga dan seterusnya, aku tidak berjumpa siapapun.

Yang kucari-cari ternyata ada di ujung lantai enam. Di sana terdapat sebuah perpustakaan kecil. Tapi, ruangan itu lagi-lagi seperti sudah lama ditinggalkan. Banyak debu dan sarang laba-laba di dalamnya. Pintu depannya pun dipagari tumpukan kursi, yang artinya ruangan itu memang sudah lama tidak digunakan. Yang membuatku yakin bahwa ini adalah tempat yang kucari hanyalah sebuah tulisan "Perpustakaan Riset-CN23". Dan ternyata benar, di sana merupakan peninggalan kejayaan ITG masa lalu, yang berarti semua refernsi yang kubutuhkan.

Sejak itu, aku menyukai tempat ini dan rutin mengunjunginya sampai pada suatu hari…

***

"Nak, ini ya revisinya...,” kata Pak Budi sambil menyerahkan draft yang sudah dikoreksi.

"Oiya, Pak. Kalau begitu akan saya perbaiki segera, saya pamit dulu.” Ujarku sembari bangkit dan hendak keluar ruangan. Tapi, Pak Budi segera mencegahku.

"Lho, lho, lho... sebentar... ini baru koreksi bab satu. Bab duanya belum.”

Astaga, lagi-lagi bapak ini bercanda. Sudah sejak awal aku menduga hal ini akan terjadi. Ide untuk berangkat bimbingan sore hari benar-benar tidak bagus.

"Waduh, Pak. Tapi sebentar lagi malam, saya harus segera pulang,” kataku dengan mimik yang serius.

"Ya sudah atuh, sekalian malam di sini, revisi juga sekalian," ujarnya, lagi-lagi dengan nada bercanda.

"Tapi, Pak... Saya harus pulang,” pintaku. Kali ini dengan wajah agak memelas. Syukurlah, bapak ini akhirnya mengerti.

"Lho, ada apa sih? Apa kamu ada penyakit?"

"Nggak, Pak... saya cuma ta... ta... takut," kataku dengan gugup.

"Hahaha... yang bener nih?” ejek bapak itu.

"Pak, kan sudah saya jelasin di WA sebelumnya, kalau saya itu ..."

"Ah, sudah, sudah... lebih takut itu atau takut nggak lulus lagi tahun ini?" sergah bapak itu.

Aku sangat benci ini. Malam hari di kampus. Mengingatkanku akan malam itu.

***

Pada hari itu, aku terlalu asyik membaca di perpustakaan itu, sampai-sampai melanggar batas waktu operasional gedung, yakni jam empat sore. Aku bahkan tidak menyadari malam hari telah tiba. Entah mengapa tidak ada satpam yang menegurku. Padahal, biasanya mereka selalu galak mengusir mahasiswa keterlaluan ambis sepertiku ini. Apa jangan-jangan karena mitos hantu itu? Ya ampun, padahal mereka sudah bertahun-tahun bertemu mereka di seluruh penjuru kampus ini.

Aku sebenarnya merinding. Bisa kau bayangkan, sendirian dalam sebuah ruangan kumuh dan terpencil ini di lantai enam! Tetapi, demi cita-cita, apapun harus kulakukan!

Untuk mengusir sepi, aku memutar lagu dari handphoneku. Kuraih headset di tas, kupasang di telinga, kembali membaca dan mencatat hal-hal penting, dan... hei! Di mana penaku?

Aku yakin tadi ada didepanku. Kucari di tas, tidak ada. Di bawah meja, tidak ada. Sungguh kesal sekali! Terpaksa aku harus turun dan membeli pena di bawah.

Tapi, saat aku hendak membuka pintu keluar, terdengar suara pena jatuh.

Sebuah pena tergeletak di sampingku. Rupanya selama ini pena itu ada di saku kemejaku. Bodohnya aku…

Alhamdulillah, aku tidak perlu repot-repot keluar. Kembali kuambil secarik kertas dan menulis catatan.

Allahu Akbar! Kenapa tintanya merah?

Astaghfirullah! Bau apa ini? Darah?

Oh, tidak, tidak. Berpikir jernih, berpikir jernih! Sepertinya aku harus pulang, Aku sudah mulai kelelahan. Aku mulai berhalusinasi. Aku harus pulang. Pulang!

Kalang kabut aku berusaha secepat mungkin keluar dari sini. Tapi, lagi-lagi cobaan menimpa. Tiba-tiba lampunya mati semua. Sial, aku terjatuh tersandung sesuatu. Handphoneku terlempar entah kemana.

Tanganku hanya bisa meraba-raba sekitar tanpa menghasilkan apapun. Tombol lampu jauh dari sini. Aku juga masih belum bisa menemukan handphoneku. Terlalu gelap. Di balik pintu luar juga sangat gelap. Kakiku sudah gontai gemetaran karena ketakutan. Aku terjebak di sini.

Tiba-tiba muncul cahaya berkedip dan bunyi getaran. Untung handphoneku tidak kumode silent. Tapi, kenapa bisa di situ? Aku jatuh di sini, tetapi benda itu bisa berada sejauh 5 meter. Ah, sudah tidak usah berpikir aneh-aneh, yang penting aku menemukannya.

Sambil merangkak, kuraih handphone itu. Tapi, ketika meraih benda itu, aku merasakan ada sesuatu di bawahnya. Ternyata sebuah risalah!

Dengan flash kamera handphone kucoba melihat judulnya. Ternyata menarik sekali. Aku menemukan sebuah skripsi yang berjudul Stimulasi Neurostasis pada Penderita Cedera Otak Traumatis. Skripsi ini disusun oleh Felisia Hastari, Mahasiswa S1 Teknik Kedokteran ITG pada tahun 1998. Wah, persis seperti yang ingin kuteliti!

Namun, ketika aku membukanya, kejadian aneh terjadi lagi. Tiba-tiba ada suara benturan keras di lantai bawah. Padahal, seharusnya sudah tidak ada orang lagi di gedung ini kecuali aku! Tidak mungkin suara sekencang itu berasal dari tikus atau kucing.

Suara itu kemudian diikuti derap langkah kaki yang sedang menuju ke atas. Semakin keras, semakin jelas seiring waktu. Dia berlari. Seseorang sedang menuju kemari!

BRAK! Suara pintu didobrak.

"Renaldi!" kata seseorang di depan pintu.

Suara itu, tidak asing. Tidak salah lagi, itu Ferdi!

"Gila! Ngagetin banget kamu, Fer! Kok tahu aku bisa ada di sini?"

"Aku tahulah bocah ambis kayak kamu tuh gimana... Keras kepala!"

"Oh, kamu khawatir?"

"Bukan apa-apa, aku cuma ngerasa ada firasat buruk dan aura yang sangat gelap di sekitar sini,"

"Tapi, kok kamu bisa ke sini? Bukannya dikunci, ya pintu masuknya?"

"Kamu, tuh yang kok bisa masih di sini? Mau cari mati di sini?"

"Mati? Apa maksudmu?"

"Iya, dulu di sini rumornya banyak mahasiswa yang bunuh diri dari gedung ini. Jadi, pasti banyak jin-jin jahat di sekitar sini! Kalau kamu nggak kuat, kamu juga bisa ikutan bunuh diri, lagi..."

Hah? Apakah benar dulu di sini banyak mahasiswa yang bunuh diri. Kukira itu hanya rumor belaka. Katanya, kalau seseorang melihat hantu di gedung ini, IPK orang itu bisa jadi 4.0. Ketika melihatnya saat ujian, otomatis dapat 100. Sayangnya, aku belum pernah melihat itu dan sama sekali tidak berminat, memang.

"Tadi udah ada gangguan-gangguan jin, kan?"

"Yah, mungkin..."

"Sudah kuduga, emang ada yang nggak beres sama tempat ini. Menurutku, itulah alasan tempat ini ditinggalkan. Tapi, aku heran kenapa gedung ini dibiarkan begitu saja. Maksudku, kenapa nggak direnovasi atau dihancurkan dan dibangun ulang?"

"Mungkin gara-gara tempat ini dulu jadi pusat penelitian penting?"

"Sepertinya begitu. Aku selalu mikir bahwa tempat ini seharusnya udah nggak ada lagi sejak lama. Tepatnya sejak pemerintah resmi menutup tempat ini. Bahkan beberapa orang mengatakan bahwa tempat ini harus dihancurkan. Entah kenapa? Apakah ada hubungannya sama mahasiswa-mahasiswa yang bunuh diri itu?"

"Aku juga berpikiran seperti itu, tapi aku nggak tahu yang pasti. Soalnya semuanya juga tutup mulut, seperti dosen, satpam, dan TU. Informasinya ya cuma dari koran lama sama diskusi netizen di Internet. Tapi, aku sama sekali ga percaya kabar picisan,"

"Aku juga, sih, tapi firasatku menolak hal itu. Pasti ada sesuatu yang terjadi,"

"Aku kepikiran sesuatu. Bagaimana kalau kita menyelidiki hal ini?"

Ferdi pun setuju. Aku memberi tahunya bahwa tempat ini adalah ruangan perpustakaan yang berhubungan dengan riset-riset yang jaya di masa lalu itu. Ia berkeliling mencari sesuatu yang bisa diselidiki, sedangkan aku mencoba mencari petunjuk dari skripsi ini. Semoga tidak ada kejadian aneh lagi.

Aku pun membaca abstraknya. Isinya adalah tentang penelitian untuk memahami cara dan fungsi kerja otak sehingga trauma dapat diatasi. Mereka mencoba membuat semacam "peta otak" yang menggambarkan bagian-bagian otak mana saja yang aktif saat seseorang mengalami trauma. Untuk melakukannya, mereka menggunakan metode neurostasis, yang aku sendiri belum tahu bagaimana cara kerjanya. Yang jelas, menurut laporan, mereka berhasil melakukannya pada tikus percobaan.

Hei, sebentar... Apa ini?

... pengujian stimulasi neurostasis pada manusia.

Yang benar saja. Apa maksudnya?

Kemudian lembar demi lembar pun kubaca. Membaca skripsi setebal 500 halaman itu serasa membaca komik yang begitu seru, sekaligus mendebarkan. Penuh hal mengejutkan, membuatku tak bisa berpaling dari memelototinya.


Semuanya benar-benar mengejutkan. Tapi tak ada lebih mengejutkan di banding bab tiga dan selanjutnya. Hal aneh lagi-lagi terjadi. Lagi-lagi aku berhalusinasi bahwa tinta yang digunakan dalam cetakan itu semuanya berwarna merah. Merah, merah, dan merah.

Aku berusaha kembali tenang. Aku berusaha menafikan pandanganku dan meyakinkan diriku bahwa aku sedang berhalusinasi. Aku teruskan untuk membaca dan alangkah terkejutnya aku! Ternyata mereka benar-benar melakukan pengujian terhadap manusia! Kebanyakan mereka berasal dari pasien rumah sakit jiwa, mungkin karena trauma yang dialami sebagian besar dari mereka.

Para peserta uji coba terlebih dahulu diberi zat sedatif dan diminta untuk menghirup cairan nitrogen beku untuk menjalani operasi neurostasis. Beberapa di antaranya seketika meninggal karena tak kuat menjalani proses itu. Namun hal yang lebih buruk dialami oleh yang berhasil bertahan.

Setelah mereka berhasil menjalani operasi tersebut, isi kepala mereka segera diteliti. Benar-benar secara harfiah diteliti! Karena pada masa itu teknologi detector EEG (electroencephalography) dan semacamnya belum ada, maka identifikasi dilakukan secara manual. Pembedahan otak manusia yang masih hidup!

Mereka secara langsung melihat denyutan bagian-bagian otak yang aktif. Menurut mereka, itu adalah reaksi jaringan neuron yang saling mengirimkan sinyal listrik, namun diperlambat hingga orde detik. Dengan begitu, mereka dapat melihat aktvitas otak dan membuat petanya.

Sayangnya, hal tersebut hanya bisa dilakukan selama beberapa menit. Karena subjek penelitian terbatas dan untuk meminimalisir korban, maka subjek tadi akan menjalani operasi tersebut beberapa kali. Di sinilah sebenarnya banyak korban yang jatuh dengan tragis.

Ada beberapa kasus di mana pembedahan tidak dilakukan secara sempurna sehingga subjek meninggal dengan otak tersayat-sayat. Ada juga kasus di mana pendinginan tidak berlangsung dengan sempurna dan akhirnya mengalami pendarahan yang hebat. Yang paling menakutkan adalah subjek yang tiba-tiba tersadar di tengah operasi dan memberontak. Bahkan, disebutkan dalam lampiran bahwa seorang tenaga laboratorium meninggal akibat serangan manusia gila yang kepalanya separuh terbuka.

Di akhir lampiran, terdapat beberapa catatan kecil. Sepertinya itu ditulis sendiri oleh pengarang.

Kumohon hentikan kegilaan ini!
Siapapun, jangan biarkan tragedi ini terus berlanjut!
Ini pembantaian, bukan penelitian!
Tapi, aku terpaksa harus menuntaskan pekerjaan ini.
Aku menyesal, menyesal...
Aku harap aku bisa segera pergi ke neraka agar Tuhan segera membakar dosa-dosaku...

Astaghfirullah! Astaga!

Di balik itu risalah itu, di cover belakangnya, tertempel sebuah koran tahun 70-an. Isinya adalah tentang berita meninggalnya mahasiswa ITG akibat bunuh diri. Ia meninggal setelah lompat dari lantai empat gedung ini. Banyak yang terkejut bahwa seorang gadis yang ramah dan jenius ini bisa meninggalkan dunia begitu saja dengan tiba-tiba di akhir kelulusannya.

Aku sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Aku sudah tidak peduli dengan skripsi ini. Yang kupikirkan adalah bagaimana caranya agar aku bisa keluar dari sini. Semua ini membuatku gila!

Tiba-tiba Ferdi tersungkur dihadapanku. Aku semakin panik. Rasanya nyawa sudah ubun-ubun, hendak melarikan diri dari ini semua. Terpaksa aku harus menggendongnya. Aku berlari, menuruni tangga demi tangga.

Suara dan penampakan itu semakin jelas. Pembantaian yang dikatakan Felisia Hastari itu sudah menjadi film yang berputar di dalam otakku. Kadang aku seakan melihat otak dan darah yang bececeran di sepanjang jalan di depanku. Semakin dekat ke lantai satu, semakin menggila dan tiba-tiba.

Manusia zombie dengan separuh kepalanya terbuka menghantuiku di depan mata. Entah mengapa hal itu terasa begitu nyata. Ia mengejarku sambal membawa pisau bedah. Aku hanya bisa melarikan diri. Lari dan lari. Akhirnya aku berhasil ke luar gedung itu.

Aku cek jam di handphone dan menunjukan pukul 2 pagi. Satpam-satpam pasti sudah selesai berpatroli dari daerah belakang ini. Arinya, tidak ada siapa-siapa lagi. Aku mencoba ke depan mencari bantuan.

Tapi di saat aku menoleh ke belakang, Ferdi tiba-tiba menghilang. Aku tidak sempat untuk mencarinya karena lebih khawatir akan keadaanku. Aku pun lari dan tiba-tiba dia ada di depanku. Tapi bukan Ferdi tadi! Zombie bermuka Ferdi yang tiba-tiba menyerahkan skripsi itu padaku. Aku hampir pingsan, tapi aku berlari sekuat tenaga sampai akhirnya aku tertabrak oleh sesuatu dan pingsan.

Ketika aku bangun, aku berada di rumah sakit. Ferdi tertidur lesu disampngku bersama beberapa teman-teman yang lain. Kali ini, Ferdi yang normal, bukan zombie itu. Tapi entah kenapa dia seperti lupa ingatan. Katanya aku sedang terkena demam sejak seminggu lalu dan tak sadarkan hari selama dua hari ini. Dia sama sekali tak mengingat kejadian itu, ataupun mengenai gedung itu.

Sejak saat itu, aku pun memutuskan untuk melupakannya juga. Benar-benar mimpi buruk yang harus dilupakan. Sayangnya, mulai sejak itu pula aku selalu merasa takut untuk masuk kuliah. Agar aku bisa benar-benar melupakan kejadian itu, aku memutuskan untuk mengambil cuti beberapa semester.

***

Ah, lelah sekali mengerjakan revisian skripsi ini. Tapi, masih banyak hal yang belum terselesaikan. Sementara itu, Pak Budi masih asyik ber-youtube ria di depan laptopnya.

"Pak, sudah jam 11 dan saya butuh istirahat,” kataku dengan sedikit mengantuk. Sejak setahun ini, aku jarang sekali begadang dan banyak istirahat memang.

“Boleh aja istirahat, asalkan beres," ujar Pak Budi dengan kejamnya.


"Ya ampun, Pak... Tapi saya udah capek dan ngantuk banget, Pak... mana bisa ngerjain kalau begini,"

"Ya ampun, biasanya aja begadang nonton anime kuat, ngerjain ini masak ga kuat," sambil melirikku. Ia tak berkata apa-apa lagi, hanya menatapku tajam.

"Ya Allah... iya deh, pak, iya..."

“Hahaha... Bapak mau keluar buat beli makan buat kita, kalau gitu..."

"Terserah Bapak, deh..."

Kemudian Bapak itu pergi keluar. Terdengar suara benda jatuh.

"Pak, Pak, Pak... uang atau kunci mobil bapak jatuh, tuh..."

Tetapi beliau tidak mendengarku. Ternyata yang jatuh bukanlah uang atau kunci, melainkan sebuah pena. Bukan bekas revisi, tetapi persis seperti penaku setahun lalu. Aku kembali duduk, mencoba tenang, dan kembali mengetik draft revisianku.

Hei, apa ini PDF, aku sepertinya tidak pernah membukanya.

Kubuka PDF itu dan isinya ...

Stimulasi Neurostasis pada Penderita Cedera Otak...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar