Rabu, 03 Juli 2019

[Green Moon] - Bagian 2.1

Pangkalan Bulan Tiongkok HE-103, 5 Januari 2026

“Benar kata Elon Musk. Ternyata kita adalah Von Neumann machine, hahahaha…” kata Komandan Guang Hong.
“Maksudmu, kita adalah mesin yang dikirim alien untuk menggandakan kehidupan di Bumi?” sahut Mayor Zang.
“Kalau menurutku, kita tak lain hanyalah ‘sel sprema’ yang sedang ‘membuahi’ Bulan,” kata Letnan Yui Chen.
“Hahaha… menarik sekali kamu bisa menghubungkannya dengan pemikiran James Lovelock itu… Hipotesis Gaia, kah?” tanya Komandan Guang Hong.
“Jangan-jangan Bumi, Bulan, dan seluruh alam semesta adalah makhluk hidup, ya Komandan? Masing-masing dilahirkan, mati, menggandakan diri, dan membuat keajaiban seperti ini,” sahut Letnan Yui Chen.
“Hahaha… kau benar sekali, Letnan Yui Chen. Sekarang, keajaiban itu benar-benar ada di depan kita!”

Mereka bertiga akhirnya sampai di bulan. Di depan terdapat ladang-ladang hijau tempat kehidupan berada di tengah gurun gersang yang kadang beku, kadang seperti neraka. Mereka mendarat di daerah dekat kutub Utara, di mana air terdapat dalam bentuk es dan intensitas cahaya matahari lebih tinggi. Untuk mendapatkan air, mereka mencairkannya dalam wadah tertutup bertekanan khusus dengan menggunakan energi matahari. Kemudian, sebagiannya dibiarkan menguap dengan proses fotolisis yang menghasilkan gas hidrogen untuk bahan bakar dan oksigen untuk bernafas. Sebagian oksigen digunakan untuk respirasi berbagai mikroba yang akan menghasilkan hasil samping berupa gas CO2 dan berbagai nutrien yang sangat dibutuhkan tanaman untuk berfotosintesis. Semuanya saling berhubungan dan membentuk siklus yang berkelanjutan. Jadi, tempat ini bukan hanya tempat terideal untuk sebuah ladang, melainkan ekosistem!

Benar-benar suatu hal yang luar biasa untuk mengetahuinya, apalagi melihatnya dengan mata kepala sendiri. Setidaknya itulah yang dialami oleh Letnan Yui Chen yang baru pertama kali menginjakkan kakinya di Bulan. Ia sangat terpukau dan tercenung begitu lama. Senyum lebarnya yang tak dapat ia sembunyikan membuatnya tersipu dilihat Komandan Guang Hong dan Mayor Li Zhang. Bagi veteran seperti mereka, ini hanyalah kesenangan kecil yang membuat mereka sedikit bernostalgia. Misi ini memang berat, tetapi semua ini setara dengan tiket pertunjukan sebuah mukjizat yang hebat.

Sambil berjalan menuju area ladang, Letnan Yui Chen tak berhenti-hentinya melihat pemandangan sekitar. Selain takjub dan penasaran, ia juga mengumpulkan informasi dan mencoba menganalisisnya. Di samping kiri-kanan, terdapat robot-robot yang sedang bekerja menambang tritium dan pabrik-pabrik besar yang mengolahnya. Cerobong pabrik itu mengeluarkan asap-asap hitam. Asap itu diluncurkan ke atas dan lepas begitu saja ke ruang angkasa karena gravitasi bulan yang rendah. Sebagian kecil, berupa material bermassa jenis tinggi, jatuh kembali ke permukaan menjadi bercak-bercak hitam yang menjadi polusi di sana. Kemungkinan polusi itulah yang menyebabkan keanehan di ladang.

Setelah berjalan sekitar 30 menit, mereka akhirnya sampai di depan area ladang.

“Hahaha… akhirnya kita sampai. Baik, karena di sini ada banyak tempat, kita bagi saja tugasnya. Mayor Li Zhang, tolong periksa ruang kontrol, pengelolaan sistem, dan lumbung. Letnan Yui Chen, ikut aku memeriksa fasilitas habitasi ini dan semua plantnya!”
“Siap, Komandan!”

Mereka bertiga pun mlai berpencar dan menyelidiki tempat masing-masing.
***

Senin, 01 Juli 2019

[Produktif]

Huhhh, malam ini begadang lagi. Mau bagaimana lagi, besok ujian dan ada tugas artikel sepuluh halaman. Oiya, jangan lupa belajar sedikit untuk persiapan ngasprak. Kalau tidak belajar, bisa-bisa aku terkena marah senior lagi dan mendapat hukuman. Jika mendapat hukuman, aku harus mengerjakan konsekuensinya. Akhirnya aku tidak punya waktu lagi dan harus begadang lagi besoknya. Waduh…

Hei! Bukan saatnya mengeluh! Pekerjaanmu masih banyak dan belum selesai. Sadar! Sadar! Saadaa…

HoAhMmm… TiDUr DuLu sAjA… Ah... 

BRAK!

“Za! Bangun, Za!” kataku berteriak.

Seketika mata-mata tajam menatapku dari segala arah. Mereka kesal dan mengacungkan jari telunjuk di depan mulut dan berdesis panjang.

SSSSSSSSSSSTTTTT....

Yosh, adrenalinku terpompa dan listrik 1300 MW mengalir di jejaring syaraf otakku. Terima kasih tuan-tuan sekalian, mohon maaf mengganggu. Terima kasih juga petugas perpustakaan yang berbaik hati tidak mengusirku. Aku tahu ini sudah malam dan sebentar lagi akan ditutup, tapi mohon pengertiannya.

Aku buka lembar-lembar buku.

“Hmm, sampai mana tadi?” aku berbicara sendiri.

“Oh, fungsi Bessel dan solusi persamaan diferensial”

“Begini… oh, begini… hmm, jadi begitu… oke, oke… ashiapp” ujarku saat membaca materi dengan kecepatan satu halaman per detik.

Dari arah jam 2, seseorang berjalan mendekat kemari. Ia menjinjing laptop dan mendekap buku di dadanya. Dia teman kuliahku, tapi dari jurusan lain. Sepertinya, dia bernasib sama sepertiku. Wajar saja, sih soalnya dia memang tipe-tipe aktivis kampus berprestasi yang jarang pulang malam. Iya, soalnya dia pulangnya pagi dini hari.

“Lho, Za. Ngapain kamu? Biasanya habis kuliah langsung pulang?”

“Nasib, Ndre. Besok ujian, terus ada tugas. Belum persiapan ngasprak,”

“Kenapa nggak di kosan aja?”

“Ntar malah tidur, ga ngapa-ngapain di sana, mah,”

Dia duduk di sampingku, menyalakan laptop. Tangannya meraih pena dan kertas. Tanpa basa-basi, ia melanjutkan pekerjaannya. Wow, bisa pindah mode secepat itu, ya? Kalau aku, mah minimal buka HP dulu 5 menit, terus kalau laper, nyemil dulu. Eh, kalau belum makan, makan dulu. Terus minum lagi. Buka laptop, terus keinget HP main lagi. Ya, kira-kira booting-nya setengah jam, lah minimal.

Sambil mengetik dan mencatat tugasnya, ia mengajakku mengobrol.

“Oh, jadi itu alasanmu ke sini. Tapi, menurutku kalau tipe-tipe kamu, mah tetep ga produktif di sini,”

“Bentar, bentar, tipe-tipe aku? Jangan menilai orang seenaknya, dong!”

“Sabar, sabar. Bukan itu, maksudku. Kalau di sini, tempatnya ga enak. Ramai, banyak orang, susah konsentrasi. Terus ga ada tekanannya. Lagipula, mau ditutup sejam lagi, kan?”

“Iya, sih. Tapi, kalau milih tempat yang ga ramai mah di kosan, lah”

“Ya, ga gitu juga. Kosan itu banyak hawa nafsunya. Apalagi kasur.”

“Lha, terus di mana?”

“Mau tahu? Yuk ikut aku jalan-jalan!”

“Ha? Jalan-jalan? Tapi tugasku masih banyak!”

“Tenang aja, kita nanti jalan-jalan ke tempat lain buat ngerjain tugas, kok. Aku kasih rahasia nih tempat yang bisa bikin kita nyaman sekaligus produktif”

“Wah… Beneran? Oke, deh”

Andre menutup laptop dan membereskan barang-barangnya. Aku pun begitu. Kami pun pergi ke luar perpustakaan dan meninggalkan kampus. Kami berjalan kaki menyusuri trotoar di tepi jalan raya yang semakin sepi karena larutnya malam. Tapi tidak dengan simpang empat di ujung jalan. Di sana kelihatan ramai sekali di pinggir-pinggir jalan. Banyak warung dan pedagang kaki lima di sana. Aku bingung sebenarnya kami ini mau ke mana, kok harus ke sini.

“Makan yuk, Bro?”

“He??? Di sini? Ngerjain tugas di warung pinggir jalan begini?”

“Ayolah, makan dulu, Za. Kamu belom makan, kan tadi? Sebelum kelaparan, hehe…”

“Kelaparan? Apaan sih? Aku lagi belum laper dan sengaja buat laper biar ga ngantuk,”

“Udah, ini termasuk strategi biar produktif itu, lho… Nah ini, namanya efisiensi”

“Ah, bodo, ah. Terserah mastah mau bicara apa…”

Aku yang sebenarnya memang tidak benar-benar lapar, memasang setengah porsi nasi pecel. Aku juga memesan air tawar, agar tak kebanyakan gula dan membuatku mengantuk. Andre memesan nasi ayam dan es teh manis, dan sambil mengerjakan tugas? Gokil betul anak ini. Sepertinya dia sudah terbiasa dan menjadi ahli. Tentu adegan ini tidak bisa kutiru begitu saja.

Sambil mengerjakan tugas, sesekali ia memegang hapenya dan menerima panggilan. Dia menjawab setiap panggilan dengan baik dan lancar, walaupun itu berbeda-beda topik. Ada yang mengusiknya tentang masalah BEM, menjelaskan rapat unit, kepanitiaan suatu acara, lomba karya tulis, sampai curhat.temannya. Wah, tak kusangka dia bisa sehebat itu, padahal dia bukan mapres. Apalagi yang jadi mapres, ya?

“Hei, Za, kok bengong aja. Ayo makan cepet, biar bisa segera belajar dan ngerjain tugas!”

“Habis, ini kita mau ke mana?”

“Udah, makan dulu. Jangan banyak tanya, dah!”

“Haishh… Iyak, iyak, iyak.”

Baik sekali hari ini dia mentraktirku. Setelah membayar semuanya, kami pun melanjutkan perjalanan ke arah kanan dari persimpangan tadi. Dari sana, kami berjalan 70 meter dan belok ke kiri. Ia mulai menunjuk suatu kafe di ujung jalan. Kulihat jam tanganku menunjukkan pukul 22.00. Hmm, apakah aku benar-benar bisa belajar dan menyelesaikan sepuluh halaman ini?

Kami pun masuk ke kafe itu. Tempatnya terang dan tidak terlalu ramai. Kebanyakan pengunjung di sini sepertinya anak kuliahan. Ada yang bermain game, pacaran, nongkrong, dan lain-lain. Wah, baru tahu kalau anak kuliahan mainnya ke sini. Dasar, aku anak kuper!

Tapi, ternyata kita tidak duduk di tempat orang-orang tadi. Andre menunjukkan tempat tempat rahasianya, yaitu sebuah ruangan agak bersekat-sekat dan suasananya lebih tenang. Hawanya tidak terlalu panas ataupun dingin. Pencahayaannya juga pas, hanya menerangi spot-spot tertentu saja. Sepertinya, ini benar-benar tempat luar biasa untuk belajar…

Pacaran.

Sial, di sini malah kebanyakan orang yang pacaran. Mentang-mentang suasananya romantis dan agak gelap-gelap begitu.

Kami pun duduk berdua di pojok dan memesan pada pelayan.

“Hei, Ndre. Ternyata, kamu pintar-pintar begini, ternyata kelihatan aslinya ya. Hmm, nggak kaget, sih soalnya orang-orang yang hebat itu emang aneh-aneh”

“Hei, hei, jangan ngawur kamu, Za! Siapa juga yang minat sama kamu!”

“Tuh, kan! Homo! Hahaha… aku foto, terus story IG, terus tulis, ‘bersama MaHo’… Hahahaha”

“Naudzubillah… Udah, udah. Jangan terpengaruh sekitar! Biarin orang lain pada pacaran, tapi kita belajar. Aku kalau keos selalu ke sini buat ngatasin kekeosan itu. Dan itu sendiri, woi!”

“Hahaha… oke, deh. Tapi ngenes juga, yak ga ada yang nemenin. Eh, btw kita kudu pesen apa? Kan udah makan?”

“Itulah sebabnya kita sudah makan, teman. Seperti yang Anda tahu di sini makanannya harganya selangit-selangit. Kalau makan di sini pasti kita bangkrut, teman. Maka dari itulah kita perlu strategi efisiensi seperti tadi…”

“Oo… Seperti itu, terus kita pesen apa di sini? Minumnya juga delapan belas ribuan paling murah.”

“Salah, teman. Coba lihat ujung paling atas bagian kanan, yang hampir ketutupan sama penjepit kertas. Ada air putih.”

“Buset! Air putih goceng?”

“Jangan dilihat air putihnya, bung. Tapi, lihatlah apa yang kita dapat. Tempat nyaman. Belajar beres. Tugas beres. Itu…”

“Gayamu kayak Mario Teguh. Tapi, apa ga mal..”

“Udah, ah ngobrolnya! Kalau malu ya udah pesen minuman lain yang delapan belasan ribu itu. Jangan lupa kalau pesen, aku juga ya. Traktir juga, biar impas.”

“Tapi, tapi, tapi…”

Kami akhirnya pesan dua gelas air putih. Dari raut muka pelayan yang mengantar pesanan yang datar dan mata yang memicing terlihat jelas keheranannya yang bercampur kesal. Apalagi ketika melihat Andre, tatapannya seperti pembunuh berdarah dingin yang siap membunuhnya kapan saja. Ternyata uratnya sudah putus sejak lama, ya urat malunya si Andre.

Aku terpaksa memesan minuman yang lain lagi. Setelah itu, aku mulai belajar dan mengerjakan tugas. Awalnya canggung dan malu, belajar di tempat seperti ini. Kayak orang yang ambis saja. Tapi, kata Andre, ini sangat efektif untuk semua orang, khususnya para milenial. Katanya ini sudah menjadi solusi yang populer bagi para milenial yang lebih suka menyendiri, tapi tidak produktif. Dengan berada di luar dan nyaman, mereka akan lebih efektif bekerja. Memang, modern problem requires modern solution.

Wow, tidak terasa sekarang sudah pukul 2 pagi. Aku sudah belajar semua untuk ujian dan asisten praktikum nanti, juga tugasku sudah selesai. Ya, memang agak lupa-lupa sedikit sih. Wajar karena belajar di waktu yang mepet-mepet. Tetapi ini lebih baik daripada tidak belajar sama sekali akibat tewas di atas kasur.

Kulihat si Andre masih sibuk telfon-telfonan sambil mengerjakan tugas. Sepertinya ia masih sedikit lama di sini. Dasar, mau sampai subuh dia di sini? Memang mastah mah beda!

Ahbodohlah… Aku sudah sangat capek dan mengantuk. Aku bilang pada Andre untuk pulang lebih dulu. Aku berjalan agak gontai, bagaikan pulang dari suatu pertempuran. Tapi, kali ini dengan membawa kemenangan. Aku tersenyum dan melangkah keluar.

Saat kualihkan pandangan sebentar, aku melihat masih ada seseorang yang berada di ruangan private itu selain Andre. Dia sendiri dan sedang mengerjakan sesuatu dengan laptopnya. Tidak, sepertinya aku mengenalnya. Dia tidak asing.

Sial, aku kepergok mengamatinya.

“Andre!”

TAMAT

Credit for My Friend's NID

[Vision Memory]

Suatu hari, Andi pergi ke suatu pameran teknologi di Kota Bandung. Di sana terdapat banyak karya teknologi yang lumayan menarik buatan mahasiswa lokal, khususnya mahasiswa ITB. Ada robot yang bisa bermain sepakbola, menari tradisional, membantu penyebrang jalan, sampai mencuci-mengeringkan-dan-menyetrika pakaian otomatis.

Wah, benar-benar membantu sekali, terutama buat mahasiswa pemalas, seperti aku, katar Andi berkomentar.

Ada juga drone untuk pemadam kebakaran, pengintai keamanan, pemantau kebakaran hutan, sampai pemantau kapal asing.

Wah, keren… bakal mudah ditenggelamkan’ nih pencurinya,” gumamnya. 

Selain itu banyak juga teknologi virtual yang dipamerkan di sana. Kebanyakan teknologi tersebut digunakan untuk edukasi dan hiburan alias game. Salah satu yang membuat Andi tertarik adalah karya teknologi yang satu ini. Sebuah kacamata “penganalisis” yang bisa memberikan efek AR (augmented reality) yang menganalisis dunia nyata.

“Kalau kacamata lain membuatmu dapat melihat dunia lebih jelas, kacamata ini dapat melihat dunia lebih rinci,” kata mahasiswa yang mencoba menjelaskan alat ini. Kemudian ia menyalakan laptopnya dan menayangkan simulasi dari apa yang akan kita lihat juga menggunakan alat ini.

“Nah, dengan kacamata ini, kalian seolah-olah seperti dalam game seperti GTA, Minecraft, atau game-game survival lainnya. Di sana ada terdapat keterangan kesehatan tubuh kita, keadaan mental kita, bahkan barang atau uang yang sedang kita bawa. Kita juga bisa melihat agenda atau kegiatan apa saja yang harus kita lakukan setiap hari, minggu, atau bulan. Jika target kita berjangka waktu tahunan, hal itu seperti mimpi, bukan? Nah, alat ini berarti juga bisa membantu kita mewujudkan mimpi…”

Andi pun terkagum-kagum akan hal tersebut. Tetapi, ia penasaran bagaimana alat ini bisa melakukannya. Ia pun bertanya kepada mahasiswa itu.

“Kak, data-data itu diperoleh dari mana memangnya, kak? Dari gelombang otak, ya?”

Mahasiswa itu pun menjawab.

“Tepat sekali. Semua aktivitas tubuh kita dikontrol oleh otak. Otomatis data mengenai kondisi tersebut juga diperoleh otak. Sel-sel otak yang bekerja kemudian saling mengirimkan sinyal listrik yang dapat dibaca oleh pemindai gelombang elektromagnet yang ada di kedua sisi kacamata ini. Kemudian sinyal tersebut dianalisis oleh mikroprocessor di kotak bagian kiri untuk selanjutnya ditampikan melalui miniprojector di kedua lensa kacamata ini. Sumber daya listrik untuk menjalankan semuanya diperoleh dari baterai isi ulang yang berada di kotak sebelah kanan

Andi pun terkesima akan hal itu. Di antara semua benda yang dia lihat, kacamata inilah yang paling keren.

“Kak, kak… boleh aku mencobanya?”

“Oh, tentu saja. Tapi, hanya satu orang saja, ya…” kata mahasiswa itu yang sedang menenangkan gerombolan pengunjung lain yang juga ingin mencoba kacamata itu. Kelihatannya ia kewalahan menjawab pertanyaan mereka sambil melindungi kacamata yang hendak menjadi rebutan. Sayangnya, pengunjung terlalu banyak dan bringas sehingga kacamata tersebut pun terjatuh.

Sambaran arus listrik sekilas muncul akibat guncangan ketika kacamata itu jatuh. Namun, tidak ada yang menyadari hal tersebut kecuali Andi. Ia lantas memungut kacamata yang terjatuh itu dan memakainya. Sesuatu yang buruk pun terjadi.
“Aaaarrrghhhh….”

Andi bagaikan orang yang tersengat seribu lebah. Ia tampak begitu kesakitan sambil memegang kepalanya berputar-putar hebat sementara tubuhnya tak terkendali. Semua orang panik dan kabur melihat Andi yang menyerang semuanya seperti zombie. Sementara itu, mahasiswa tadi menampakkan wajah yang begitu cemas dan kebingungan. Mungkin ia tak percaya bahwa alatnya itu ternyata berbahaya. Padahal, selama ini belum pernah ada yang terluka mencobanya. Tapi sekarang ini bukan waktunya memikirkan hal tersebut. Ia harus segera memikirkan bagaimana cara menyelamatkan Andi.

Ia pun hanya menunggu Andi sampai tenaganya habis dan kelelahan. Kemudian, ia harus segera melepas kacamata itu dan membawa Andi ke rumah sakit terdekat. Sementara rekannya mencoba menganalisis dan memperbaiki kacamata itu, ia menunggui Andi di sana.

***

Sistem, mengaktivasi…

Pengecekan sistem…

Status sistem: agak buruk

Kesadaran: 5%

Detak jantung: …

“Suara apa ini? Berisik sekali… Di mana aku? Ada apa denganku?”

Kesadaran: 90%

Mengaktifkan mode semi-otomatis: audio saja.

Ketika Andi membuka matanya, ia sedang berada di atas ranjang rumah sakit. Di sampingnya terdapat seorang mahasiswa yang sepertinya pernah ia kenal. Ia tidak begitu ingat mengenai insiden sehari yang lalu. Tiba-tiba suara aneh itu berbunyi lagi.

Mengidentifikasi: Kak Yuna. Mahasiswa ITB. Jurusan Teknik Fisika. Bertemu: tanggal 28 Juni 2025 sekitar pukul 10.00-12.00.

“Hei, hei, siapa tadi yang berbicara? Apa itu suara otakku?”

Tidak ada jawaban. Andi berpikir bahwa ia sedang berhalusinasi. Sekarang, yang ia tahu hanyalah bahwa ia baru saja mengalami kecelakaan. Mungkin kecelakaan itu mencederai otaknya dan membuatnya berhalusinasi.

Kemudian, Yuna, mahasiswa itu, bangun.

“Alhamdulillah, kamu sudah bangun. Saya mohon maaf, ya dik atas kejadian kemarin.”
“Hah, kejadian kemarin? Memangnya ada kejadian apa kemarin, kak?”

Menganalisis…
Kejadian satu hari lalu, tanggal 27 Juni 2025. Subjek tak sadarkan diri setelah menyentuh kacamata “penganalisis” yang jatuh ke lantai.

“Hah, kacamata ‘penganalisis’ katamu? Sebentar… Oh iya, benar juga. Aku kemarin pergi ke pameran dan menyentuh benda itu”
“Sepertinya kamu mulai ingat, ya? Maafkan saya… Saya takut banget kalau kamu kenapa-kenapa. Kami pikir kacamata ini menggunakan arus listrik yang lemah, jadi aman. Kami juga udah nyobain beberapa kali kemarin dan biasa-biasa aja.”
“Oh iya, ya kak? Terus saya dari kemarin pingsan, ya?”
“Iya, bener.”
“Gapapa deh, kak. Yang penting saya pingin pulang sekarang?”
“Sekarang? Sekarang banget? Tunggu dulu, temenku lagi nyari sarapan soalnya. Lagipula kamu kan baru saja pingsan seharian. Makan dulu, ya…”
“OK, kak, makasih. Hmm… Btw, apa teman kakak itu… Oh, yang satu tim itu kah? Kak Dimas, bukan?”
“Lho, kok tahu? Kalian sudah kenal ya?”
“Hmm… kelihatannya kalian pernah memperkenalkan diri waktu presentasi kemarin.”
“Oh, begitu, ya…”

Suara itu bekerja lagi. Sepertinya yang bisa mendengarnya hanyalah Andi. Ia mulai menyadari keanehan yang telah terjadi pada dirinya. Tapi, hal ini masih belum bisa dipastikan. Ia masih belum tahu apakah otaknya sedang sakit atau mendapat kekuatan super.

***

Minggu, 30 Juni 2019

[Kekasih Bintang]

Selama ini kupikir hidupku adalah untuk mengejar bintang. Sejak kecil, aku selalu menatap berlian-berlian itu di langit malam. Semua itu bagaikan percikan cat yang Tuhan lukiskan di atas kanvas yang gelap. Indah sekali.
Tapi kupikir bukan hanya itu yang mendorongku sampai sejauh ini. Tak mungkin hanya takjub dan penasaran yang membuatku terus mengejarnya selama 20 tahun ini. Rasanya bintang-bintang itu memiliki kekuatan magis yang menarikku hingga ke mari.
Setelah kupikir berulang-ulang, ternyata kekuatan itu berasal dariku sendiri. Namaku. Ya, namaku!
Ayah memberiku nama yang berarti "kekasih bintang". Aku tidak menyadari hal ini setelah ia menjelaskan bahwa ini tidak lain hanyalah nama kakekku. Tapi, aneh jika aku menggunakan nama kakekku sedangkan ia sendiri tidak. Setelah 10 tahun kepergian ayahku, aku baru menyadari bahwa ini adalah warisannya: harapan.
Ayah. Ayahku adalah orang yang pertama kali mengenalkanku tentang bintang. Waktu kecil ia mengajariku tentang pola-pola yang membentuk rasi bintang sesuai mitologi lokal. Selain itu, ia juga senang sekali mengoleksi buku-buku tentang bintang. Aku diajarkan tentang planet, tatasurya, galaksi, sampai hilal dan perhitungan kalender. Yang terakhir adalah favoritnya.
Ayahku bukanlah orang yang termasuk ahli atau menggeluti bidang itu sebagai profesi. Ia juga hanya lulusan SMP yang kebetulan mempunyai hobi seperti itu. Tapi, ia seakan mempunyai obsesi tentangnya. Di mataku, ia bagaikan "profesor bintang".
Sayangnya, di mata orang-orang, ayahku hanyalah orang bodoh. Bicaranya konyol dan sering tidak dimengerti orang. Ia payah dalam melakukan banyak hal. Pekerjannya saat itu hanya membantu toko fotocopyan miliknya. Ya, walaupun toko itu miliknya, ia hanya membantu.
Karena "kebodohan"-nya, orang-orang sering menipu dan memanfaatkannya. Uang pensiun dan tabungan selama ia menjadi karyawan habis dengan cepat karena untuk modal usaha-usaha bodong rekan-rekannya. Aku harus bersyukur setidaknya masih ada satu yang tersisa, walaupun keadaannya seperti itu.
Orang-orang pun menganggapnya sebagai pecundang. Setiap hari ia selalu diejek tetangga. Tapi, ia benar-benar seperti orang bodoh yang bahkan tak tahu bahwa ia sedang dihina. Aku sampai marah dan membenci orang-orang itu, tapi apa dayaku yang masih kecil dan penakut. Aku juga marah pada ayahku yang pura-pura bodoh itu.
Aku yakin ia sebenarnya tahu dan pasti sangat sedih. Tetapi ia selalu tampak bahagia, terutama ketika menatap langit. Kesedihannya tampak ia limpahkan pada kelamnya malam, sedang air matanya mengkristal menjadi bintik-bintik terang di angkasa. Aku menjadi iba, tapi di saat yang sama juga masih marah padanya.
Sayangnya ibu juga berpikir seperti orang-orang itu. Terjadi pertengkaran di antara mereka yang akhirnya membuat mereka terpisah. Tentu saja aku di pihak ibuku, sama-sama menganggap ayah bodoh. Ia sempat marah, membuatku takut. Ini pertama kalinya ia marah padaku.
Kemudian ia pun memutuskan untuk pergi. Pada akhirnya kami berpisah dan ia meninggal ketika aku dan ibu masih menganggapnya seperti itu.
Aku sangat sedih. Sedih sekali.
Sambil menatap langit, aku memohon ampun kepada Tuhan karena telah berburuk sangka kepadanya selama ini.
Tapi, bukannya aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa untuk membayar maafku padanya. Memang ini bukan apa-apa. Meski begitu, setidaknya aku bisa mempersembahkan ini untukmu, Ayah.
Malam ini, aku mewujudkan harapanmu, Ayah. Aku akhirnya telah resmi menjadi "kekasih bintang". Setelah berusaha mengenalnya lebih jauh, berusaha mengertinya, berusa memahaminya, berusaha tetap setia dan percaya padanya, dan akhirnya berusaha mencintainya, aku pun benar-benar mencintainya.
Walaupun jauh tak tergapai, walaupun kecil hanya setitik, walau awan mudah sekali menghapusnya, kau harus tetap mengejarnya dan benar-benar percaya padanya! Bintang itu akan tetap ada di atas sana, bersama kita, merindukan kita, sampai supernova mengakhiri riwayatnya! Percayalah! Tetaplah percaya dan jangan berpaling!
Itulah pelajaran yang didapat oleh sang "kekasih bintang".

Sabtu, 22 Juni 2019

[Teman Daring]

“Assalamu’alaikum, bro. Udah lama, ya… Alhamdulillah, berkat bantuanmu aku bisa keterima di UGM!”
“Waalaikumussalam. Wah, iya, hehe. Tapi kamu berlebihan, ah. Aku kan cuma belajar bareng aja di situ. Tapi, syukurlah kalau kamu diterima di sana, bro!”
“Wah, kamu ini suka merendah terus, ya di grup. Kalau kamu diterima di mana?”
“Aku alhamdulillah di UI”
“Wah… keren, keren…”

Begitulah isi chat dari si Niko, teman daringku (online). Sebelumnya kami belum pernah bertemu satu sama lain. Kami tinggal di dua kota yang berbeda yang jaraknya sangat jauh. Bahkan wajah satu sama lain pun tidak tahu karena kami menggunakan profpic kutipan motivasi dan anime. Kami bisa bertemu dan berteman begini awalnya dari sebuah grup Whatsapp tentang belajar UN dan SBMPTN yang terbuka untuk seluruh siswa di Indonesia. Aku menemukan link grup tersebut dari sebuah grup Facebook tanya jawab soal SMA. Awalnya aku hanya iseng saja masuk grup tersebut. Tapi, berhubung aku tidak mengikuti bimbingan belajar atau mempunyai teman belajar bersama, aku berniat untuk belajar bersama daring yang gratis untuk persiapan UN dan SBMPTN.

Kemudian di grup tersebut, orang-orang saling berbagi soal-soal dan berdiskusi menjawabnya. Di sana banyak orang-orang hebat, seperti anak-anak OSN. Tapi karena aku juga ingin belajar dan berlatih untuk menghadapi ujian-ujian tersebut, aku juga tidak mau kalah aktif menjawab setiap pertanyaan. Lama-kelamaan, aku mulai diandalkan di grup tersebut. Bahkan mereka satu per satu mulai men-DM-ku. Salah satunya adalah Niko. Di antara banyak orang yang hanya ingin bertanya soal, hanya Niko yang tiba-tiba mengajakku berteman.

***

“Sekarang, gimana kabarnya, Ki?”
“Sehat, alhamdulillah. Kamu?”
“Sehat juga.”

Setelah kami saling menceritakan cerita kami yang masing-masing diterima di universitas yang kami impikan, kami kehabisan bahan obrolan. Niko sempat mengeluh. Padahal kami dulu bisa bicara segala hal, bukan hanya bahas soal ini itu saja. Dan bagiku, itu adalah pengalaman pertamaku untuk bisa sedikit terbuka kepada orang lain. Aku baru pertama kali ini bisa berbicara mengenai kegemaranku, pengalaman pribadi, keluargaku, pandanganku, bahkan cita-citaku. Aku belum bisa berbagi tentang orang yang kusuka, walaupun ia blak-blakan dan cenderung pamer.

“Nik, gimana nih gebetanmu? Keterima di mana dia sekarang?”
“Hmm, aku belum tahu kabarnya. Tapi kuyakin dia keterima di univ yang dia inginkan juga. Tidak, pasti dia keterima. Dia pasti bakal satu univ sama aku, terus akhirnya bisa kudeketin sampai lulus dan ahirnya kita bisa pacaran, terus nikah. Hehehe… Kalau kamu? Masih jomblo aja kah? Apa kamu itu ga ada ketertarikan yanh sama yang begituan dan kerjaannya belajar terus?”
“Hahaha… Yang benar aja, bro. Yah, nanti lah pas abis kuliah lihat aja. Siapa tahu aku yang malah nikah duluan, hahahaha…”
“Ah, kamu ini masih kayak dulu, ya… Tertutup sih, kamu, makanya jomblo…”
“Hahaha, bisa aja…”

Aku sedih bahwa kenyataannya aku selama ini hampir lupa kepadanya. Itulah yang menyebabkan bahan obrolan kami cepat habis dan tak seramai dulu.

Setelah UN, grup WA tersebut cenderung sepi. Orang-orang sedang ingin agak bersantai dan menanti pengumuman SNMPTN atau masuk PTN jalur undangan. Sementara itu, SBMPTN masih sekitar 2-3 bulan lagi. Tidak ada lagi orang-orang yang meminta bantuan mengerjakan soal atau menanyakan materi tertentu.

Di saat itu, aku juga mulai jarang memerhatikan grup dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya, termasuk Niko. Aku fokus belajar, belajar, dan belajar di kamar.

Suatu ketika, aku mendapatkan notifikasi tentang chat dari suatu nomor tak dikenal. Pesan itu seperti berasal dari orang yang salah nomor.

“Assalamualaikum, bro! Dichat kok ga balas-balas? Gimana kabarnya?”

Kemudian aku cek profpic dan nama penggunanya, tak ada keterangan. Aku tidak mengenal siapa orang ini. Lalu, mengapa dia tiba-tiba seperti marah? Ah, pasti benar dia salah nomor.

“Waalaikumussalam. Maaf, ini dengan siapa, ya?”

Kemudian ia membalas dengan huruf yang dikapital semua.

“ASTAGA!!! LUPA SAMA AKU, BRO??!!”

Aku mencoba mengingat-ingat, barangkali teman sekelas? Teman seangkatan? Oh, atau jangan-jangan kakak kelas yang sudah alumni?

“Maaf, kak. Saya Kiki Ramdan, kelas 12-A. Mohon maaf lagi, ini dengan siapa?”
“Wah, hahahhaha… Jadi kamu beneran lupa sama aku, Ki???”

Ingin sekali kublokir orang yang mencurigakan dan menyebalkan ini. Tapi, dia segera menjawab.

“Aku, Niko, bro!”

Hmmm… Nik, Niko, Niko, Niko, Ni…

“ASTAGHFIRULLAH!!! MAAPP!!!”

***

Aku kira, Niko akan kecewa dan tidak mau lagi berteman denganku. Aku sudah lupa kepadanya hampir tiga kali. Waktu itu, setelah SNMPTN, dan hari ini. Tapi, entah kenapa dia masih mau menghubungiku. Padahal, kami saja berbeda jurusan, berbeda universitas, berbeda provinsi pula. Kemungkinan kita bisa bertemu juga kecil. Aku bahkan sempat berpikir pertemanan ini pada akhirnya akan gagal.

Karena sebelumnya aku belum pernah berteman, aku pun semakin tidak yakin bahwa ini berhasil. Kenyataannya aku adalah anak yang pendiam dan tidak pandai bersosial. Bukannya aku tidak mau bergaul dengan yang lain. Cara bicaraku yang lambat dan tak teratur ini membuat lawan bicaraku tak nyaman. Aku sangat benci melihat raut wajah mereka yang kebingungan. Aku pun sering berwajah muram, sehingga menambah ketidaknyamanan mereka.

Namun, aku sedikit lebih bersahabat di dunia maya. Dengan berbagai aplikasi chatting media sosial itu, aku bisa mengobrol tanpa melihat secara langsung raut wajah yang menyebalkan itu. Aku juga bisa berkomunikasi dengan lebih teratur dengan menulis. Orang-orang juga kelihatannya senang dengan aku versi daring ini.

Sayangnya justru karena itu aku takut sekali jika menjalin hubungan di sana. Aku hanya ingin bergaul biasa, tidak lebih dari itu. Aku takut kalau mereka berteman denganku kemudian tahu aku yang asli seperti apa, mereka akan menjauhiku seperti yang lain. Aku hanya tidak ingin tersakiti. Rasanya terlalu pedih jika ditinggalkan, terlebih dengan wajah-wajah kecewa seolah-olah kita menipu mereka.

“Nik, maaf. Bukannya aku sengaja ngelupain. Aku orangnya emang pelupa. Terus, HP-ku juga ganti, jadi, nomormu ga ke-save…”
“Wah, ngga kamu simpen di kartu SIM? Atau aku emang ga sepenting itu, ya? Aku itu temenmu, lho!”

Aku terkejut. Kenapa dia masih saja berharap untuk berteman? Apa dia yakin melanjutkan pertemanan yang rapuh ini? Bukannya lebih mudah untuk abai dan akhirnya melupakan satu sama lain? Lagipula dengan begitu, sakitnya juga tidak terlalu terasa, bukan? Aku ingin jujur, tetapi takut melukai perasaannya.

“Tenang, Ki. Aku tetap akan ingat kamu sampai kapan pun, walaupun kamu mungkin lupa sama aku. Aku berterima kasih banget sama kamu karena mau bantu aku soal pelajaran. Kamu baik banget, padahal kita ga kenal, ga tahu satu sama lain. Kamu juga orang yang tertutup, sama kayak aku. Tapi justru karena itu, aku ngerasa tenang. Aku pikir akhirnya aku punya teman,”

Apa? Jadi dia sama sepertiku? Aku benar-benar meremehkan janjinya dulu untuk “menjadi teman sampai kapan pun”. Ternyata dia serius. Dia sungguh serius berteman karena aku dianggapnya sebagai teman pertamanya, mungkin satu-satunya juga. Memang terdengar sangat bagus, tetapi ini berlebihan.

Bukannya aku tidak percaya dengannya atau tidak suka berteman dengannya. Kita harus realistis. Aku saja tidak yakin masih bisa berhubungan dengan teman SD, SMP, atau SMA-ku, saat aku nanti kuliah, bekerja, mempunyai keluarga sendiri, dan sebagainya. Apalagi sekadar teman daring.

Walaupun begitu, mengetahui kejadian seperti ini, aku pun mulai percaya padanya. Aku juga mulai percaya akan ketulusannya. Walaupun aku tidak mengerti apa dan bagaimana seharusnya itu berteman, aku akan berusaha sebaik mungkin. Itu karena dia juga adalah teman pertamaku.

***

Sudah satu tahun aku lulus kuliah dan Niko tak lagi memberi kabar. Dulu dialah yang selalu mengawali obrolan. Dia selalu menyapaku terlebih dahulu. Kemudian, aku mulai sadar akan kekeliruanku setelah tahun kedua kuliah. Aku menghubunginya sekali, dua kali, dan tiap bulan. Lama-lama aku lelah dan akhirnya menyerah. Haha, ternyata realitas juga menghantam dirinya rupanya. Tapi, aku tidak akan kecewa. Aku tidak akan melupakannya seumur hidupku.

Dia adalah orang yang pertama kali mengajarkanku tentang pertemanan. Intinya adalah kita harus saling percaya: percaya padanya dan percaya bahwa mereka juga percaya pada kita. Berkat itu, aku mulai mendapat banyak teman, sahabat, bahkan kekasih. Aku sangat berhutang budi pada Niko. Bantuanku dulu tak seberapa dibandingkan bantuannya yang kurasakan hingga kini.

Tak terasa istirahat makan siang pun selesai. Aku harus kembali bekerja. Aku harus segera kembali ke realita. Aku ingin angin yang berhembus di rooftop ini bisa membawa perasaanku ini, lebih baik daripada jaringan telepon dan internet.

Yah, sampai jumpa lagi teman daring-ku! Aku yakin kita pasti akan bertemu.