"Halo"
"Oh, kamu Nan. Sini, sini, masuk aja"
Aku pun ke dalam kamarnya dan meletakkan kotak tisu di sampingnya. Wajahnya terlihat lebih pucat dari kemarin. Kemungkinan ia baru saja pingsan lagi.
"Gimana, kak keadaannya? Sudah lebih baik dari kemarin, kan?"
"Sans, udah lumayan kok. Tadi emang baru aja pingsan, sih. Untung ada Si Karin, tadi. Tapi, ya emang masih gini. Makasih, ya udah mau nemenin aku"
"Sama-sama, kak"
Setelah kata-kata itu, aku terdiam. Aku bingung ingin membahas apa. Jika menanyakan kabar, mungkin jawabannya akan selalu sama, seperti kemarin. Ia selalu jujur menjelaskan keadaannya, walaupun itu pahit. Pada saat pertama kali berkunjung ke sini, aku yang hanya bertanya keluhan atau gejala penyakitnya saja dijelaskan dengan rinci penyakit yang dialaminya itu. Ia juga menjelaskan Ayah dan Ibunya yang juga sedang sakit sehingga tak ada yang menemaninya selain teman-teman kuliahnya. Kerabat-kerabatnya juga terlalu jauh di luar kota.
Ia sudah pada tahap dimana ia sudah tidak lagi memikirkan jika orang lain merasa iba atau kasihan. Biasanya orang akan malu dan menyembunyikan kelemahannya di depan orang lain. Tetapi, jika lama kelamaan kelemahan itu menjadi beban yang sudah tak mampu dipikul diri sendiri, kita memang harus meminjam bahu orang lain. Tidak ada pilihan lain jika kita tidak ingin mati terinjak masalah sendiri.
Selain itu, aku ke sini bukan pertama kali. Tidak enak membahas ulang topik pembicaraan kemarin. Lagipula, aku ke sini lebih karena ada keperluan lain. Tapi, aku merasa tidak enak dan tidak tega jika harus berterus terang.
"Apa Nan? Sok aja buka laptopnya... Tuh, di bawah kasur"
"O.. Oke, kak. Tapi apa gapapa kakak masih mikir ginian, padahal masih sakit gini?"
"Aku kalau mikir ginian tuh malah jadi semangat, daripada mikir kuliah. Hiihh... Pusing... Ini aja aku mau ujian malah pingsan. Padahal udah berusaha ngehafal semalem."
"Wah ujian semester kemarin, kak?"
"Iya,"
"Tapi, kak. Kalau ketahuan dosen, bukannya fokus dulu buat sembuh terus ujian, eh malah ngerjain PKM gini bukannya dimarahin, ya?"
"Ya iya sih... Makanya kamu kuajakin ke sini biar nggak ketahuan, haha"
Setelah aku membenarkan selang oksigen yang putus akibat polahnya yang terlalu bersemangat, aku pun mengambil laptopnya. Dia terlihat begitu senang dan bersemangat. Aku jadi takut kalau ini justru berbahaya bagi penyembuhannya.
"Udah, jangan khawatir. Biasa aja..."
"Okei, kak!"
Kami sebenarnya sedang mengerjakan sebuah proposal penelitian yang akan diikutkan pada lomba PKM. Rencananya, kami akan meneliti tentang kefir, sebuah produk fermentasi bakteri asal Turki, semacam tapai. Produk tersebut mengandung banyak probiotik yang sangat bagus bagi kesehatan atau penyembuhan beberapa penyakit. Aku dengar juga olahan dari produk ini bisa menjadi terapi untuk penderita autoimun sepertinya.
Tanpa basa-basi, di sebuah kamar kecil dengan tirai-tirai tipis yang menyekatnya, aku membuat bising pasien-pasien di sekitarku dengan suara-suara ketikan. Aku belum sempat meminta maaf kepada mereka, apalagi ketika kami berdua berdiskusi hebat. Ia benar-benar ambisius mengenai proyek ini. Akhirnya kami selesai saat waktu makan siang tiba.
Tiba-tiba ia berkata,
"Kamu tahu, Nan. Sebenarnya mau sampai kapanpun aku tuh ga bisa sembuh. Bahkan umurku mungkin tidak lama."
"Jangan bilang begitu, kak..."
Tapi, aku mengatakannya dengan ragu. Aku tahu dari tetanggaku yang mempunyai saudara yang menderita lupus. Kini orang tersebut sudah meninggal. Kata dokter yang merawatnya, jika penderita lupus sedang sakit hingga harus rawat inap, ia tidak akan bertahan lebih dari 10 tahun. Usianya juga tidak akan lebih dari 40 tahun. Aku sangat sedih mengingat hal ini adalah kenyataan yang tidak bisa dihindarkan lagi.
"Tapi, aku tuh ingin membuktikan bahwa semua yang ada di dunia ini adalah mungkin. Tak adil jika ada yang tidak mungkin, contohnya kayak aku yang lagi sakit ini... "
Oh, tidak, selang oksigennya putus lagi. Infusnya juga hampir habis. Aku pencet tombol panggilan perawat agar segera kemari.
"Sebentar, ya kak... Aku... Aku yakin kok itu, tapi jangan terlalu memaksakan... "
"...cuma masalahnya adalah, beberapa orang memang harus mengejar impiannya dengan usaha setengah mati, seperti aku..."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar