Tampilkan postingan dengan label #Scifi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #Scifi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Juli 2019

[Green Moon] - Bagian 2.1

Pangkalan Bulan Tiongkok HE-103, 5 Januari 2026

“Benar kata Elon Musk. Ternyata kita adalah Von Neumann machine, hahahaha…” kata Komandan Guang Hong.
“Maksudmu, kita adalah mesin yang dikirim alien untuk menggandakan kehidupan di Bumi?” sahut Mayor Zang.
“Kalau menurutku, kita tak lain hanyalah ‘sel sprema’ yang sedang ‘membuahi’ Bulan,” kata Letnan Yui Chen.
“Hahaha… menarik sekali kamu bisa menghubungkannya dengan pemikiran James Lovelock itu… Hipotesis Gaia, kah?” tanya Komandan Guang Hong.
“Jangan-jangan Bumi, Bulan, dan seluruh alam semesta adalah makhluk hidup, ya Komandan? Masing-masing dilahirkan, mati, menggandakan diri, dan membuat keajaiban seperti ini,” sahut Letnan Yui Chen.
“Hahaha… kau benar sekali, Letnan Yui Chen. Sekarang, keajaiban itu benar-benar ada di depan kita!”

Mereka bertiga akhirnya sampai di bulan. Di depan terdapat ladang-ladang hijau tempat kehidupan berada di tengah gurun gersang yang kadang beku, kadang seperti neraka. Mereka mendarat di daerah dekat kutub Utara, di mana air terdapat dalam bentuk es dan intensitas cahaya matahari lebih tinggi. Untuk mendapatkan air, mereka mencairkannya dalam wadah tertutup bertekanan khusus dengan menggunakan energi matahari. Kemudian, sebagiannya dibiarkan menguap dengan proses fotolisis yang menghasilkan gas hidrogen untuk bahan bakar dan oksigen untuk bernafas. Sebagian oksigen digunakan untuk respirasi berbagai mikroba yang akan menghasilkan hasil samping berupa gas CO2 dan berbagai nutrien yang sangat dibutuhkan tanaman untuk berfotosintesis. Semuanya saling berhubungan dan membentuk siklus yang berkelanjutan. Jadi, tempat ini bukan hanya tempat terideal untuk sebuah ladang, melainkan ekosistem!

Benar-benar suatu hal yang luar biasa untuk mengetahuinya, apalagi melihatnya dengan mata kepala sendiri. Setidaknya itulah yang dialami oleh Letnan Yui Chen yang baru pertama kali menginjakkan kakinya di Bulan. Ia sangat terpukau dan tercenung begitu lama. Senyum lebarnya yang tak dapat ia sembunyikan membuatnya tersipu dilihat Komandan Guang Hong dan Mayor Li Zhang. Bagi veteran seperti mereka, ini hanyalah kesenangan kecil yang membuat mereka sedikit bernostalgia. Misi ini memang berat, tetapi semua ini setara dengan tiket pertunjukan sebuah mukjizat yang hebat.

Sambil berjalan menuju area ladang, Letnan Yui Chen tak berhenti-hentinya melihat pemandangan sekitar. Selain takjub dan penasaran, ia juga mengumpulkan informasi dan mencoba menganalisisnya. Di samping kiri-kanan, terdapat robot-robot yang sedang bekerja menambang tritium dan pabrik-pabrik besar yang mengolahnya. Cerobong pabrik itu mengeluarkan asap-asap hitam. Asap itu diluncurkan ke atas dan lepas begitu saja ke ruang angkasa karena gravitasi bulan yang rendah. Sebagian kecil, berupa material bermassa jenis tinggi, jatuh kembali ke permukaan menjadi bercak-bercak hitam yang menjadi polusi di sana. Kemungkinan polusi itulah yang menyebabkan keanehan di ladang.

Setelah berjalan sekitar 30 menit, mereka akhirnya sampai di depan area ladang.

“Hahaha… akhirnya kita sampai. Baik, karena di sini ada banyak tempat, kita bagi saja tugasnya. Mayor Li Zhang, tolong periksa ruang kontrol, pengelolaan sistem, dan lumbung. Letnan Yui Chen, ikut aku memeriksa fasilitas habitasi ini dan semua plantnya!”
“Siap, Komandan!”

Mereka bertiga pun mlai berpencar dan menyelidiki tempat masing-masing.
***

Senin, 01 Juli 2019

[Vision Memory]

Suatu hari, Andi pergi ke suatu pameran teknologi di Kota Bandung. Di sana terdapat banyak karya teknologi yang lumayan menarik buatan mahasiswa lokal, khususnya mahasiswa ITB. Ada robot yang bisa bermain sepakbola, menari tradisional, membantu penyebrang jalan, sampai mencuci-mengeringkan-dan-menyetrika pakaian otomatis.

Wah, benar-benar membantu sekali, terutama buat mahasiswa pemalas, seperti aku, katar Andi berkomentar.

Ada juga drone untuk pemadam kebakaran, pengintai keamanan, pemantau kebakaran hutan, sampai pemantau kapal asing.

Wah, keren… bakal mudah ditenggelamkan’ nih pencurinya,” gumamnya. 

Selain itu banyak juga teknologi virtual yang dipamerkan di sana. Kebanyakan teknologi tersebut digunakan untuk edukasi dan hiburan alias game. Salah satu yang membuat Andi tertarik adalah karya teknologi yang satu ini. Sebuah kacamata “penganalisis” yang bisa memberikan efek AR (augmented reality) yang menganalisis dunia nyata.

“Kalau kacamata lain membuatmu dapat melihat dunia lebih jelas, kacamata ini dapat melihat dunia lebih rinci,” kata mahasiswa yang mencoba menjelaskan alat ini. Kemudian ia menyalakan laptopnya dan menayangkan simulasi dari apa yang akan kita lihat juga menggunakan alat ini.

“Nah, dengan kacamata ini, kalian seolah-olah seperti dalam game seperti GTA, Minecraft, atau game-game survival lainnya. Di sana ada terdapat keterangan kesehatan tubuh kita, keadaan mental kita, bahkan barang atau uang yang sedang kita bawa. Kita juga bisa melihat agenda atau kegiatan apa saja yang harus kita lakukan setiap hari, minggu, atau bulan. Jika target kita berjangka waktu tahunan, hal itu seperti mimpi, bukan? Nah, alat ini berarti juga bisa membantu kita mewujudkan mimpi…”

Andi pun terkagum-kagum akan hal tersebut. Tetapi, ia penasaran bagaimana alat ini bisa melakukannya. Ia pun bertanya kepada mahasiswa itu.

“Kak, data-data itu diperoleh dari mana memangnya, kak? Dari gelombang otak, ya?”

Mahasiswa itu pun menjawab.

“Tepat sekali. Semua aktivitas tubuh kita dikontrol oleh otak. Otomatis data mengenai kondisi tersebut juga diperoleh otak. Sel-sel otak yang bekerja kemudian saling mengirimkan sinyal listrik yang dapat dibaca oleh pemindai gelombang elektromagnet yang ada di kedua sisi kacamata ini. Kemudian sinyal tersebut dianalisis oleh mikroprocessor di kotak bagian kiri untuk selanjutnya ditampikan melalui miniprojector di kedua lensa kacamata ini. Sumber daya listrik untuk menjalankan semuanya diperoleh dari baterai isi ulang yang berada di kotak sebelah kanan

Andi pun terkesima akan hal itu. Di antara semua benda yang dia lihat, kacamata inilah yang paling keren.

“Kak, kak… boleh aku mencobanya?”

“Oh, tentu saja. Tapi, hanya satu orang saja, ya…” kata mahasiswa itu yang sedang menenangkan gerombolan pengunjung lain yang juga ingin mencoba kacamata itu. Kelihatannya ia kewalahan menjawab pertanyaan mereka sambil melindungi kacamata yang hendak menjadi rebutan. Sayangnya, pengunjung terlalu banyak dan bringas sehingga kacamata tersebut pun terjatuh.

Sambaran arus listrik sekilas muncul akibat guncangan ketika kacamata itu jatuh. Namun, tidak ada yang menyadari hal tersebut kecuali Andi. Ia lantas memungut kacamata yang terjatuh itu dan memakainya. Sesuatu yang buruk pun terjadi.
“Aaaarrrghhhh….”

Andi bagaikan orang yang tersengat seribu lebah. Ia tampak begitu kesakitan sambil memegang kepalanya berputar-putar hebat sementara tubuhnya tak terkendali. Semua orang panik dan kabur melihat Andi yang menyerang semuanya seperti zombie. Sementara itu, mahasiswa tadi menampakkan wajah yang begitu cemas dan kebingungan. Mungkin ia tak percaya bahwa alatnya itu ternyata berbahaya. Padahal, selama ini belum pernah ada yang terluka mencobanya. Tapi sekarang ini bukan waktunya memikirkan hal tersebut. Ia harus segera memikirkan bagaimana cara menyelamatkan Andi.

Ia pun hanya menunggu Andi sampai tenaganya habis dan kelelahan. Kemudian, ia harus segera melepas kacamata itu dan membawa Andi ke rumah sakit terdekat. Sementara rekannya mencoba menganalisis dan memperbaiki kacamata itu, ia menunggui Andi di sana.

***

Sistem, mengaktivasi…

Pengecekan sistem…

Status sistem: agak buruk

Kesadaran: 5%

Detak jantung: …

“Suara apa ini? Berisik sekali… Di mana aku? Ada apa denganku?”

Kesadaran: 90%

Mengaktifkan mode semi-otomatis: audio saja.

Ketika Andi membuka matanya, ia sedang berada di atas ranjang rumah sakit. Di sampingnya terdapat seorang mahasiswa yang sepertinya pernah ia kenal. Ia tidak begitu ingat mengenai insiden sehari yang lalu. Tiba-tiba suara aneh itu berbunyi lagi.

Mengidentifikasi: Kak Yuna. Mahasiswa ITB. Jurusan Teknik Fisika. Bertemu: tanggal 28 Juni 2025 sekitar pukul 10.00-12.00.

“Hei, hei, siapa tadi yang berbicara? Apa itu suara otakku?”

Tidak ada jawaban. Andi berpikir bahwa ia sedang berhalusinasi. Sekarang, yang ia tahu hanyalah bahwa ia baru saja mengalami kecelakaan. Mungkin kecelakaan itu mencederai otaknya dan membuatnya berhalusinasi.

Kemudian, Yuna, mahasiswa itu, bangun.

“Alhamdulillah, kamu sudah bangun. Saya mohon maaf, ya dik atas kejadian kemarin.”
“Hah, kejadian kemarin? Memangnya ada kejadian apa kemarin, kak?”

Menganalisis…
Kejadian satu hari lalu, tanggal 27 Juni 2025. Subjek tak sadarkan diri setelah menyentuh kacamata “penganalisis” yang jatuh ke lantai.

“Hah, kacamata ‘penganalisis’ katamu? Sebentar… Oh iya, benar juga. Aku kemarin pergi ke pameran dan menyentuh benda itu”
“Sepertinya kamu mulai ingat, ya? Maafkan saya… Saya takut banget kalau kamu kenapa-kenapa. Kami pikir kacamata ini menggunakan arus listrik yang lemah, jadi aman. Kami juga udah nyobain beberapa kali kemarin dan biasa-biasa aja.”
“Oh iya, ya kak? Terus saya dari kemarin pingsan, ya?”
“Iya, bener.”
“Gapapa deh, kak. Yang penting saya pingin pulang sekarang?”
“Sekarang? Sekarang banget? Tunggu dulu, temenku lagi nyari sarapan soalnya. Lagipula kamu kan baru saja pingsan seharian. Makan dulu, ya…”
“OK, kak, makasih. Hmm… Btw, apa teman kakak itu… Oh, yang satu tim itu kah? Kak Dimas, bukan?”
“Lho, kok tahu? Kalian sudah kenal ya?”
“Hmm… kelihatannya kalian pernah memperkenalkan diri waktu presentasi kemarin.”
“Oh, begitu, ya…”

Suara itu bekerja lagi. Sepertinya yang bisa mendengarnya hanyalah Andi. Ia mulai menyadari keanehan yang telah terjadi pada dirinya. Tapi, hal ini masih belum bisa dipastikan. Ia masih belum tahu apakah otaknya sedang sakit atau mendapat kekuatan super.

***

Selasa, 18 Juni 2019

[Green Moon] - Bagian 1

Xichang Space Launch Center, 2 Januari 2026.
Letnan Yui Chen, Mayor Li Zhang dan Komandan Guang Hong ditugaskan untuk menjalankan misi ke Bulan. Mereka adalah astronot-astronot terpilih yang telah menyelesaikan serangkaian seleksi dan pelatihan selama 10 tahun. Seleksi dan pelatihan mereka memang benar-benar ketat dan berat, mengingat betapa penting dan berbahaya misi ini. Wajar saja karena ini merupakan pertama kalinya sejak 50 tahun lalu manusia terakhir pergi ke Bulan. 
Misi mereka adalah mengecek kondisi ladang-ladang milik negara beserta hasil panennya yang berada di Bulan. Sejak keberhasilan Chang’e 4 melakukan percobaan pada tanaman di sana pada tahun 2019, Tiongkok segera mengirim wahana-wahana serupa yang berkapasitas lebih besar beserta lumbung-lumbung untuk penyimpanan panennya dalam jangka panjang. Mereka berencana untuk memproduksi secara masif bahan pangan domestik untuk kepentingan kolonialisasi ke depannya. Selama ini yang mengerjakan semuanya adalah robot-robot yang dipantau oleh satelit orbiter Bulan. Semua terlihat berjalan lancar dan baik-baik saja, sebelum gejala aneh itu muncul.
Pukul 06.24 waktu setempat, roket Saturn V-nya Tiongkok, Chang Zheng 5B, diluncurkan dari Launch Area 2 dan 3, Xichang Space Launch Center. Roket dengan tiga stage dan empat booster ini meluncur, membawa ketiga orang itu ke Bulan. Roket tersebut termasuk roket terkuat dan terberat dalam jenisnya, yakni long march rocket.
“Mayor Zhang, bagaimana perasaanmu menjadi orang yang tercatat dalam sejarah?”
“Saya tidak pernah memikirkan perasan, Komandan Hong! Apapun yang terjadi, yang terpenting adalah misi ini harus berhasil”
“Bagus, Mayor! Tetapi ingat, yang terpenting adalah kamu harus tetap hidup. Kamu harus tetap hidup dan menceritakan hal-hal yang luar biasa di atas sana kepada orang-orang di bawah sini. Dengan begitu, kamu akan menjadi pahlawan yang lebih berguna, meskipun biasanya yang gugur lebih populer, sih…”
“Haha, siap, Komandan!”
“Kamu juga, Letnan Chen! Kamu akan menjadi wanita pertama yang menjejakkan kaki di Bulan!”
“Maaf, Komandan, tetapi saya tidak terlalu tertarik dengan entertainment seperti itu. Saya lebih tertarik dengan tanaman-tanaman itu. Ternyata, mereka lebih dulu mengolonialisasi Bulan daripada kita,”
“Hahaha, benar sekali, Letnan! Sayang sekali kita bukanlah alien pertama di sana,”
***
Satu menit sejak peluncuran dan kini roket telah meninggalkan atmosfer tebal Bumi. Roket tersebut meluncur begitu cepat hingga mencapai 20 mach, setara dengan percepatan 5 g. Keempat booster dilepas, menyusul satu per satu stage. Mereka pergi ke Bulan menggunakan wahana CZ5B-1, singkatan dari roket besar yang pertama kali membawanya dan urutan unit.
Melihat bumi yang awalnya berupa hamparan perlahan mulai melengkung dan memperlihatkan bentuk bolanya merupakan pemandangan yang luar biasa. Seakan kita tertarik menuju dunia lain dan terdistorsi dari kenyataan. Walaupun sudah berkali-kali mereka bertiga melihat semuanya di simulasi, merasakan sendiri pengalaman menakjubkan itu bagaikan mimpi yang menjadi kenyataan.
Perjalanan menuju Bulan memakan waktu selama satu sampai dua hari. Selama itu mereka menghabiskan waktu dengan mengobrol, membaca-baca referensi dan panduan, menghubungi orang-orang tercinta di Bumi, dan sekali-kali melaukan siaran langsung dengan stasiun televisi ataupun internet. Mereka harus selalu melakukan kegiatan di tengah sepinya ruang angkasa.
Namun, bulan yang merupakan tempat tujuan mereka sudah berbeda dari beberapa tahun sebelumnya. Walaupun belum ada satu pun manusia yang menghuninya, robot-robot, satelit-satelit, dan fasilitas-fasilitas penyokong kehidupan sudah ramai menjamur di sana. Ditambah lagi satu makhluk hidup asli Bumi yang berkembang biak di sana, yaitu tanaman, beserta mikroba yang menyertainya, tentunya.
Di samping pertanian, Tiongkok juga membangun fasilitas-fasilitas pertambangan Hidrogen III atau tritium yang merupakan sumber bahan bakar roket melimpah di sana. Akibatnya, permukaan bulan sedikit tertutup debu-debu hitam di beberapa tempat. Hal itu bisa diamati di Bumi sebagai bercak-bercak hitam di atas permukaan Bulan. Gejala aneh yang ada di ladang diduga terkait dengan hal tersebut.
“Komandan Hong, apakah sudah saatnya mesin pendorong 4 sudah siap dinonaktifkan?”
“Tenang saja, Letnan Chen, kamu fokus saja pada tanaman itu. Biar yang begini diurus Mayor Zhang saja,”
“Baik, Komandan,”
“Jadi, bagaimana menurutmu? Apakah sudah ada perkembangan hipotesis yang dapat menjelaskan fenomena ini?”
“Dengan melihatnya secara langsung, saya bisa lebih yakin, Komandan. Tetapi, sejauh ini belum ada perubahan mengenai dugaan sebelumnya.”
“Baiklah kalau begitu. Sepertinya, Tuhan selalu marah jika manusia selalu mengambil peran-Nya di dunia. Selalu saja ada kejadian aneh di tengah rencana yang terlihat mulus…”
“Jangan remehkan manusia, Komandan. Kita adalah makhluk yang gigih jika mempunyai tekad kuat. Menurutku, itu bukan bentuk kemarahan Tuhan, melainkan ujiannnya untuk membuktikan hal itu. Jika hal seperti itu memang ada…”
“Jika ada? Haha… kau ini,”
Letnan Chen merupakan kepala projek riset penanganan gejala abnormalitas tanaman di Bulan. Dulu ia bekerja sebagai ahli rekaya genetika tanaman pangan. Salah satu karyanya adalah “Kentang Panda” yang merupakan kentang dengan ukuran super dan kaya nutrisi. Kentangnya juga sangat tahan terhadap suhu ekstrem dan pencahayaan yang minim. Ternyata, hal tersebut menarik perhatian pemerintah Tiongkok dan akhirnya karyanya dipilih dan dikembangkan sebagai “sumber pangan masa depan”. Mungkin maksudnya pangan bagi warga koloni di Bulan.
Tetapi ada satu hal yang belum dimengerti mengenai tanaman tersebut. Daunnya. Daunnya selalu berlubang-lubang dan terdapat bercak-bercak hijau di sekujur tubuh tanaman. Anehnya, kentang yang ada di bawahnya ternyata baik-baik saja dan bahkan kondisinya terlalu baik seperti itu. Belum selesai riset tentang gejala tersebut, pemerintah Tiongkok sudah menarik hasil karyanya itu. Sebagai gantinya, Letnan Chen dijadikan astronot dan penanggung jawab “ladang” dan seluruh stafnya dijadikan staf pengembang pertanian di luar angkasa.
Di dalam fasilitas pengembangan pertanian di luar angkasa, “Kentang Panda” juga mengalami modifikasi genetik tambahan agar dapat bertahan di kondisi gravitasi rendah. Efek samping mengenai daun dan bercak dibiarkan begitu saja karena tidak memengaruhi kuantitas dan kualitas produk pangan. Setelah diluncurkan tujuh tahun lalu, didapatkan hasil mengejutkan. Efek tersebut hilang dan kentang tumbuh normal. Ukurannya memang lebih kecil daripada di Bumi, hal yang biasa. Beberapa kentang dibiarkan berkembang biak dan sebagiannya disimpan dalam lumbung. Kentang itu pun tumbuh normal kembali dan dibiarkan berkembang biak lagi.
Hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun semuanya berjalan dengan baik dan lancar. Fasilitas pertanian semakin rimbun dan lumut-lumut yang terbawa juga tumbuh. Kamera pemantau semakin buram dan tidak bisa melihat segala sesuatunya dengan jelas. Walaupun begitu, pemeriksaan dari instrumen-instrumen lain menunjukkan hal yang baik. Seluruh staf riset tidak mengkhawatirkan hal itu. Tapi, Letnan Chen selalu gelisah dan merekomendasikan inspeksi langsung ke Bulan, lebih cepat 15 tahun dari rencana. Namun, pemerintah selalu menolak karena tidak bukti yang mendukung kegelisahannya itu. Sampai pada akhirnya, ia menemukan bukti tak langsung dan segera pergi ke sana.
***
Bersambung di bagian 2 ~

Senin, 17 Juni 2019

[Teror Tugas Akhir]


Sore ini, aku harus menemui dosen pembimbingku. Aku sudah membulatkan tekad. Pokoknya aku tidak boleh terlambat lagi. Terlambat untuk lulus. Sudah 10 semester aku berada di kampus ini dan aku tidak ingin memperpanjangnya.

Apalagi jika mereka harus repot-repot mengusirku. Selain malu, bisa-bisa cita-citaku jadi kacau. Oh, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!

“Selamat datang, Renaldi! Besok-besok jangan kebanyakan nonton anime lagi, ya..." sapa dosen pembimbingku.

“Astaghfirullah, Pak… Sudah saya bilang, bukan gara-gara itu!" ujarku kesal.

Pak Budi seperti biasa selalu bersikap jahil pada semua orang. Semua orang diperlakukan sama, bahkan pada orang bermasalah sepertiku yang sudah setahun lebih menghilang tanpa mengabarinya dan tiba-tiba muncul begitu saja. Tapi justru itulah yang membuatku bersyukur mempunyai dosen pembimbing yang begitu baik dan selalu santai.

"Ah, sudahlah… Bapak nyari kamu sudah setahunan lebih, eh selama ini malah ngurung diri di kosan barumu itu. Untung kamu tobat, ya..."

"Pak, saya setahun belakangan ngilang bukan karena anime, Pak. Gara-gara skripsi itu!"

"Hahaha... Mulai lagi ngayalnya”

"Nggak, Pak, sumpah! Rasanya skripsi itu terus-terusan neror saya! Bahkan, sampai sekarang saja saya masih kepikiran, Pak..."

"Hahaha... Justru bagus, dong. Biar kamu cepet sadar..."

"Pak, saya bukan lagi bercanda..."

"Hahaha... ya sudah, ya sudah. Sekarang, mana draftnya yang mau saya koreksi?”

Sambil menyerahkan draft skripsiku dengan senyum kecut, aku kembali teringat-ingat kejadian itu. Padahal sudah sekian lama aku mencoba melupakannya. Tetapi, aku memang sudah mempersiapkan hal ini. Mau bagaimana lagi. Mau tidak mau, aku harus berhubungan lagi dengan urusan skripsi. Kuatlah, diriku…

Setiap aku melihat tumpukan kertas-kertas itu, aku selalu teringat dengan skripsi mahasiswa ITG yang misterius itu. Sebuah skripsi yang benar-benar gila! Daripada dipajang di etalase perpustakaan, sepertinya lebih layak untuk jadi konten deep web. Brutal dan penuh konspirasi! Apalagi melihat tangan dosen yang mencoret-coret draftku dengan pena bertinta merah, seperti darah. Darah yang mengucur akibat cabikan pisau-pisau bedah. Sial, aku malah kembali mengingatnya!

Setahun lalu, aku masih merupakan mahasiswa yang rajin. Waktu itu aku sedang giat-giatnya mencari literatur untuk skripsiku. Namun, kucari-cari literatur yang terkait di perpustakaan prodi dan perpustakaan pusat tidak ada yang memuaskan. Tidak ada yang benar-benar sesuai dengan topik yang ingin kuteliti. Sudah kujelajahi seluruh koridor, dari lantai satu sampai empat, tetap saja aku tak mendapatkannya. Pak Budi sebenarnya menyuruhku untuk mencari topik yang lain saja, daripada kerepotan. Tetapi, aku bersi keras menolak. Apapun yang menghalangi, aku harus bisa menjadi ahli otak dari ITG!

"Duh, gimana nih, Fer? Masak aku harus nyerah, sih?" keluhku setelah berhari-hari mondar-mandir di perpustakaan.

"Lho, lho, kamu masuk sini kan gara-gara pengen ngejar cita-citamu! Kalau nyerah di sini, ya percuma dong selama ini!" kata Ferdi menyemangatiku.

"Lagipula, kan ada jurnal online. Pakai itu saja, bukannya sama saja?" timpalnya.

"Beda, Fer... Hasil riset di sini katanya beda dan lebih spesifik dalam mempelajari fenomena yang langka. Kalau ada yang sama, kualitasnya pun belum tentu sama," jawabku.

Sebenarnya dulu kampus ini sangat terkenal keahliannya di bidang otak dan syaraf. Tapi, entah kenapa dalam beberapa tahun belakangan gaungnya sudah tak terdengar, tertutup bidang lain, seperti teknik yang lebih tinggi pamornya. Padahal dulu hasil-hasil risetnya mendunia. Bahkan tempat ini sempat menjadi pusat penelitian syaraf dan otak terdepan di dunia. Anehnya, pemerintah tiba-tiba menghentikan aliran dananya kepada ITG. Alhasil, riset pun mandeg dan peralatan-peralatan canggih yang tersisa tidak mendapat perawatan dan berangsur-angsur usang ditelan zaman.  

Anehnya, dosen-dosen di sini tidak pernah ada yang ingat mengapa hal tersebut dapat terjadi. Ada yang bilang pemerintah pelit, saat itu ekonomi sulit, atau yang lebih seru, gara-gara riset gila yang berbahaya, menurut sebuah teori konspirasi. Tapi, aku jelas lebih percaya pada teori yang lebih nyata dan bisa dilihat contohnya pada zaman sekarang.

“Kalau dulu memang benar ITG adalah pusat penelitian, kenapa tidak mencari tahu langsung ke tempatnya, di gedung PAD?" kata Ferdi memecah kebuntuanku. Benar juga.

Dulu gedung itu adalah gedung riset gabungan antar seluruh universitas di penjuru negeri, termasuk di bidang otak dan syaraf. Namun, gedung itu kini hanya dijadikan kantor administrasi dan nyaris tidak ada lagi kegiatan akademik di sana.

"Oke, Fer. Aku coba dulu, deh. Makasih, bro,"

"Yoi, semoga berhasil!"  

"Sip, aku pergi dulu." Kemudian, aku bergegas menuju gedung yang persis ada di depan perpustakaan itu. Tiba-tiba dia terkejut dan teringat sesuatu.

"Eh, tapi ingat! Katanya gedung itu bahaya dan banyak hantunya. Jadi hati-hati aja, jangan sampai pulang malam," ujar Ferdi. Jika dilihat-lihat, gedung ini tampak angker memang. Sudah sepi, kacanya yang rusak tidak diganti, dan catnya yang menguning dibiarkan begitu saja. Benar-benar seperti rumah kosong.

"Hahah, hantu mah bukan cuma di situ aja kali, semua di ITG juga berhantu,"

"Hahaha, ya sudahlah. Kalau ada apa-apa, aku bantu. Sori, aku nggak bisa nemenin, lagi ada bimbingan,"

Kami pun berpisah dan aku pun masuk ke gedung itu. Ternyata, di sana benar-benar sepi. Hanya ada beberapa staf di lantai satu dan seorang satpam yang menjaga di depan. Naik tangga ke lantai dua, aku menemukan beberapa ruang yang dipakai perkuliahan. Di lantai tiga dan seterusnya, aku tidak berjumpa siapapun.

Yang kucari-cari ternyata ada di ujung lantai enam. Di sana terdapat sebuah perpustakaan kecil. Tapi, ruangan itu lagi-lagi seperti sudah lama ditinggalkan. Banyak debu dan sarang laba-laba di dalamnya. Pintu depannya pun dipagari tumpukan kursi, yang artinya ruangan itu memang sudah lama tidak digunakan. Yang membuatku yakin bahwa ini adalah tempat yang kucari hanyalah sebuah tulisan "Perpustakaan Riset-CN23". Dan ternyata benar, di sana merupakan peninggalan kejayaan ITG masa lalu, yang berarti semua refernsi yang kubutuhkan.

Sejak itu, aku menyukai tempat ini dan rutin mengunjunginya sampai pada suatu hari…

***

"Nak, ini ya revisinya...,” kata Pak Budi sambil menyerahkan draft yang sudah dikoreksi.

"Oiya, Pak. Kalau begitu akan saya perbaiki segera, saya pamit dulu.” Ujarku sembari bangkit dan hendak keluar ruangan. Tapi, Pak Budi segera mencegahku.

"Lho, lho, lho... sebentar... ini baru koreksi bab satu. Bab duanya belum.”

Astaga, lagi-lagi bapak ini bercanda. Sudah sejak awal aku menduga hal ini akan terjadi. Ide untuk berangkat bimbingan sore hari benar-benar tidak bagus.

"Waduh, Pak. Tapi sebentar lagi malam, saya harus segera pulang,” kataku dengan mimik yang serius.

"Ya sudah atuh, sekalian malam di sini, revisi juga sekalian," ujarnya, lagi-lagi dengan nada bercanda.

"Tapi, Pak... Saya harus pulang,” pintaku. Kali ini dengan wajah agak memelas. Syukurlah, bapak ini akhirnya mengerti.

"Lho, ada apa sih? Apa kamu ada penyakit?"

"Nggak, Pak... saya cuma ta... ta... takut," kataku dengan gugup.

"Hahaha... yang bener nih?” ejek bapak itu.

"Pak, kan sudah saya jelasin di WA sebelumnya, kalau saya itu ..."

"Ah, sudah, sudah... lebih takut itu atau takut nggak lulus lagi tahun ini?" sergah bapak itu.

Aku sangat benci ini. Malam hari di kampus. Mengingatkanku akan malam itu.

***

Pada hari itu, aku terlalu asyik membaca di perpustakaan itu, sampai-sampai melanggar batas waktu operasional gedung, yakni jam empat sore. Aku bahkan tidak menyadari malam hari telah tiba. Entah mengapa tidak ada satpam yang menegurku. Padahal, biasanya mereka selalu galak mengusir mahasiswa keterlaluan ambis sepertiku ini. Apa jangan-jangan karena mitos hantu itu? Ya ampun, padahal mereka sudah bertahun-tahun bertemu mereka di seluruh penjuru kampus ini.

Aku sebenarnya merinding. Bisa kau bayangkan, sendirian dalam sebuah ruangan kumuh dan terpencil ini di lantai enam! Tetapi, demi cita-cita, apapun harus kulakukan!

Untuk mengusir sepi, aku memutar lagu dari handphoneku. Kuraih headset di tas, kupasang di telinga, kembali membaca dan mencatat hal-hal penting, dan... hei! Di mana penaku?

Aku yakin tadi ada didepanku. Kucari di tas, tidak ada. Di bawah meja, tidak ada. Sungguh kesal sekali! Terpaksa aku harus turun dan membeli pena di bawah.

Tapi, saat aku hendak membuka pintu keluar, terdengar suara pena jatuh.

Sebuah pena tergeletak di sampingku. Rupanya selama ini pena itu ada di saku kemejaku. Bodohnya aku…

Alhamdulillah, aku tidak perlu repot-repot keluar. Kembali kuambil secarik kertas dan menulis catatan.

Allahu Akbar! Kenapa tintanya merah?

Astaghfirullah! Bau apa ini? Darah?

Oh, tidak, tidak. Berpikir jernih, berpikir jernih! Sepertinya aku harus pulang, Aku sudah mulai kelelahan. Aku mulai berhalusinasi. Aku harus pulang. Pulang!

Kalang kabut aku berusaha secepat mungkin keluar dari sini. Tapi, lagi-lagi cobaan menimpa. Tiba-tiba lampunya mati semua. Sial, aku terjatuh tersandung sesuatu. Handphoneku terlempar entah kemana.

Tanganku hanya bisa meraba-raba sekitar tanpa menghasilkan apapun. Tombol lampu jauh dari sini. Aku juga masih belum bisa menemukan handphoneku. Terlalu gelap. Di balik pintu luar juga sangat gelap. Kakiku sudah gontai gemetaran karena ketakutan. Aku terjebak di sini.

Tiba-tiba muncul cahaya berkedip dan bunyi getaran. Untung handphoneku tidak kumode silent. Tapi, kenapa bisa di situ? Aku jatuh di sini, tetapi benda itu bisa berada sejauh 5 meter. Ah, sudah tidak usah berpikir aneh-aneh, yang penting aku menemukannya.

Sambil merangkak, kuraih handphone itu. Tapi, ketika meraih benda itu, aku merasakan ada sesuatu di bawahnya. Ternyata sebuah risalah!

Dengan flash kamera handphone kucoba melihat judulnya. Ternyata menarik sekali. Aku menemukan sebuah skripsi yang berjudul Stimulasi Neurostasis pada Penderita Cedera Otak Traumatis. Skripsi ini disusun oleh Felisia Hastari, Mahasiswa S1 Teknik Kedokteran ITG pada tahun 1998. Wah, persis seperti yang ingin kuteliti!

Namun, ketika aku membukanya, kejadian aneh terjadi lagi. Tiba-tiba ada suara benturan keras di lantai bawah. Padahal, seharusnya sudah tidak ada orang lagi di gedung ini kecuali aku! Tidak mungkin suara sekencang itu berasal dari tikus atau kucing.

Suara itu kemudian diikuti derap langkah kaki yang sedang menuju ke atas. Semakin keras, semakin jelas seiring waktu. Dia berlari. Seseorang sedang menuju kemari!

BRAK! Suara pintu didobrak.

"Renaldi!" kata seseorang di depan pintu.

Suara itu, tidak asing. Tidak salah lagi, itu Ferdi!

"Gila! Ngagetin banget kamu, Fer! Kok tahu aku bisa ada di sini?"

"Aku tahulah bocah ambis kayak kamu tuh gimana... Keras kepala!"

"Oh, kamu khawatir?"

"Bukan apa-apa, aku cuma ngerasa ada firasat buruk dan aura yang sangat gelap di sekitar sini,"

"Tapi, kok kamu bisa ke sini? Bukannya dikunci, ya pintu masuknya?"

"Kamu, tuh yang kok bisa masih di sini? Mau cari mati di sini?"

"Mati? Apa maksudmu?"

"Iya, dulu di sini rumornya banyak mahasiswa yang bunuh diri dari gedung ini. Jadi, pasti banyak jin-jin jahat di sekitar sini! Kalau kamu nggak kuat, kamu juga bisa ikutan bunuh diri, lagi..."

Hah? Apakah benar dulu di sini banyak mahasiswa yang bunuh diri. Kukira itu hanya rumor belaka. Katanya, kalau seseorang melihat hantu di gedung ini, IPK orang itu bisa jadi 4.0. Ketika melihatnya saat ujian, otomatis dapat 100. Sayangnya, aku belum pernah melihat itu dan sama sekali tidak berminat, memang.

"Tadi udah ada gangguan-gangguan jin, kan?"

"Yah, mungkin..."

"Sudah kuduga, emang ada yang nggak beres sama tempat ini. Menurutku, itulah alasan tempat ini ditinggalkan. Tapi, aku heran kenapa gedung ini dibiarkan begitu saja. Maksudku, kenapa nggak direnovasi atau dihancurkan dan dibangun ulang?"

"Mungkin gara-gara tempat ini dulu jadi pusat penelitian penting?"

"Sepertinya begitu. Aku selalu mikir bahwa tempat ini seharusnya udah nggak ada lagi sejak lama. Tepatnya sejak pemerintah resmi menutup tempat ini. Bahkan beberapa orang mengatakan bahwa tempat ini harus dihancurkan. Entah kenapa? Apakah ada hubungannya sama mahasiswa-mahasiswa yang bunuh diri itu?"

"Aku juga berpikiran seperti itu, tapi aku nggak tahu yang pasti. Soalnya semuanya juga tutup mulut, seperti dosen, satpam, dan TU. Informasinya ya cuma dari koran lama sama diskusi netizen di Internet. Tapi, aku sama sekali ga percaya kabar picisan,"

"Aku juga, sih, tapi firasatku menolak hal itu. Pasti ada sesuatu yang terjadi,"

"Aku kepikiran sesuatu. Bagaimana kalau kita menyelidiki hal ini?"

Ferdi pun setuju. Aku memberi tahunya bahwa tempat ini adalah ruangan perpustakaan yang berhubungan dengan riset-riset yang jaya di masa lalu itu. Ia berkeliling mencari sesuatu yang bisa diselidiki, sedangkan aku mencoba mencari petunjuk dari skripsi ini. Semoga tidak ada kejadian aneh lagi.

Aku pun membaca abstraknya. Isinya adalah tentang penelitian untuk memahami cara dan fungsi kerja otak sehingga trauma dapat diatasi. Mereka mencoba membuat semacam "peta otak" yang menggambarkan bagian-bagian otak mana saja yang aktif saat seseorang mengalami trauma. Untuk melakukannya, mereka menggunakan metode neurostasis, yang aku sendiri belum tahu bagaimana cara kerjanya. Yang jelas, menurut laporan, mereka berhasil melakukannya pada tikus percobaan.

Hei, sebentar... Apa ini?

... pengujian stimulasi neurostasis pada manusia.

Yang benar saja. Apa maksudnya?

Kemudian lembar demi lembar pun kubaca. Membaca skripsi setebal 500 halaman itu serasa membaca komik yang begitu seru, sekaligus mendebarkan. Penuh hal mengejutkan, membuatku tak bisa berpaling dari memelototinya.


Semuanya benar-benar mengejutkan. Tapi tak ada lebih mengejutkan di banding bab tiga dan selanjutnya. Hal aneh lagi-lagi terjadi. Lagi-lagi aku berhalusinasi bahwa tinta yang digunakan dalam cetakan itu semuanya berwarna merah. Merah, merah, dan merah.

Aku berusaha kembali tenang. Aku berusaha menafikan pandanganku dan meyakinkan diriku bahwa aku sedang berhalusinasi. Aku teruskan untuk membaca dan alangkah terkejutnya aku! Ternyata mereka benar-benar melakukan pengujian terhadap manusia! Kebanyakan mereka berasal dari pasien rumah sakit jiwa, mungkin karena trauma yang dialami sebagian besar dari mereka.

Para peserta uji coba terlebih dahulu diberi zat sedatif dan diminta untuk menghirup cairan nitrogen beku untuk menjalani operasi neurostasis. Beberapa di antaranya seketika meninggal karena tak kuat menjalani proses itu. Namun hal yang lebih buruk dialami oleh yang berhasil bertahan.

Setelah mereka berhasil menjalani operasi tersebut, isi kepala mereka segera diteliti. Benar-benar secara harfiah diteliti! Karena pada masa itu teknologi detector EEG (electroencephalography) dan semacamnya belum ada, maka identifikasi dilakukan secara manual. Pembedahan otak manusia yang masih hidup!

Mereka secara langsung melihat denyutan bagian-bagian otak yang aktif. Menurut mereka, itu adalah reaksi jaringan neuron yang saling mengirimkan sinyal listrik, namun diperlambat hingga orde detik. Dengan begitu, mereka dapat melihat aktvitas otak dan membuat petanya.

Sayangnya, hal tersebut hanya bisa dilakukan selama beberapa menit. Karena subjek penelitian terbatas dan untuk meminimalisir korban, maka subjek tadi akan menjalani operasi tersebut beberapa kali. Di sinilah sebenarnya banyak korban yang jatuh dengan tragis.

Ada beberapa kasus di mana pembedahan tidak dilakukan secara sempurna sehingga subjek meninggal dengan otak tersayat-sayat. Ada juga kasus di mana pendinginan tidak berlangsung dengan sempurna dan akhirnya mengalami pendarahan yang hebat. Yang paling menakutkan adalah subjek yang tiba-tiba tersadar di tengah operasi dan memberontak. Bahkan, disebutkan dalam lampiran bahwa seorang tenaga laboratorium meninggal akibat serangan manusia gila yang kepalanya separuh terbuka.

Di akhir lampiran, terdapat beberapa catatan kecil. Sepertinya itu ditulis sendiri oleh pengarang.

Kumohon hentikan kegilaan ini!
Siapapun, jangan biarkan tragedi ini terus berlanjut!
Ini pembantaian, bukan penelitian!
Tapi, aku terpaksa harus menuntaskan pekerjaan ini.
Aku menyesal, menyesal...
Aku harap aku bisa segera pergi ke neraka agar Tuhan segera membakar dosa-dosaku...

Astaghfirullah! Astaga!

Di balik itu risalah itu, di cover belakangnya, tertempel sebuah koran tahun 70-an. Isinya adalah tentang berita meninggalnya mahasiswa ITG akibat bunuh diri. Ia meninggal setelah lompat dari lantai empat gedung ini. Banyak yang terkejut bahwa seorang gadis yang ramah dan jenius ini bisa meninggalkan dunia begitu saja dengan tiba-tiba di akhir kelulusannya.

Aku sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Aku sudah tidak peduli dengan skripsi ini. Yang kupikirkan adalah bagaimana caranya agar aku bisa keluar dari sini. Semua ini membuatku gila!

Tiba-tiba Ferdi tersungkur dihadapanku. Aku semakin panik. Rasanya nyawa sudah ubun-ubun, hendak melarikan diri dari ini semua. Terpaksa aku harus menggendongnya. Aku berlari, menuruni tangga demi tangga.

Suara dan penampakan itu semakin jelas. Pembantaian yang dikatakan Felisia Hastari itu sudah menjadi film yang berputar di dalam otakku. Kadang aku seakan melihat otak dan darah yang bececeran di sepanjang jalan di depanku. Semakin dekat ke lantai satu, semakin menggila dan tiba-tiba.

Manusia zombie dengan separuh kepalanya terbuka menghantuiku di depan mata. Entah mengapa hal itu terasa begitu nyata. Ia mengejarku sambal membawa pisau bedah. Aku hanya bisa melarikan diri. Lari dan lari. Akhirnya aku berhasil ke luar gedung itu.

Aku cek jam di handphone dan menunjukan pukul 2 pagi. Satpam-satpam pasti sudah selesai berpatroli dari daerah belakang ini. Arinya, tidak ada siapa-siapa lagi. Aku mencoba ke depan mencari bantuan.

Tapi di saat aku menoleh ke belakang, Ferdi tiba-tiba menghilang. Aku tidak sempat untuk mencarinya karena lebih khawatir akan keadaanku. Aku pun lari dan tiba-tiba dia ada di depanku. Tapi bukan Ferdi tadi! Zombie bermuka Ferdi yang tiba-tiba menyerahkan skripsi itu padaku. Aku hampir pingsan, tapi aku berlari sekuat tenaga sampai akhirnya aku tertabrak oleh sesuatu dan pingsan.

Ketika aku bangun, aku berada di rumah sakit. Ferdi tertidur lesu disampngku bersama beberapa teman-teman yang lain. Kali ini, Ferdi yang normal, bukan zombie itu. Tapi entah kenapa dia seperti lupa ingatan. Katanya aku sedang terkena demam sejak seminggu lalu dan tak sadarkan hari selama dua hari ini. Dia sama sekali tak mengingat kejadian itu, ataupun mengenai gedung itu.

Sejak saat itu, aku pun memutuskan untuk melupakannya juga. Benar-benar mimpi buruk yang harus dilupakan. Sayangnya, mulai sejak itu pula aku selalu merasa takut untuk masuk kuliah. Agar aku bisa benar-benar melupakan kejadian itu, aku memutuskan untuk mengambil cuti beberapa semester.

***

Ah, lelah sekali mengerjakan revisian skripsi ini. Tapi, masih banyak hal yang belum terselesaikan. Sementara itu, Pak Budi masih asyik ber-youtube ria di depan laptopnya.

"Pak, sudah jam 11 dan saya butuh istirahat,” kataku dengan sedikit mengantuk. Sejak setahun ini, aku jarang sekali begadang dan banyak istirahat memang.

“Boleh aja istirahat, asalkan beres," ujar Pak Budi dengan kejamnya.


"Ya ampun, Pak... Tapi saya udah capek dan ngantuk banget, Pak... mana bisa ngerjain kalau begini,"

"Ya ampun, biasanya aja begadang nonton anime kuat, ngerjain ini masak ga kuat," sambil melirikku. Ia tak berkata apa-apa lagi, hanya menatapku tajam.

"Ya Allah... iya deh, pak, iya..."

“Hahaha... Bapak mau keluar buat beli makan buat kita, kalau gitu..."

"Terserah Bapak, deh..."

Kemudian Bapak itu pergi keluar. Terdengar suara benda jatuh.

"Pak, Pak, Pak... uang atau kunci mobil bapak jatuh, tuh..."

Tetapi beliau tidak mendengarku. Ternyata yang jatuh bukanlah uang atau kunci, melainkan sebuah pena. Bukan bekas revisi, tetapi persis seperti penaku setahun lalu. Aku kembali duduk, mencoba tenang, dan kembali mengetik draft revisianku.

Hei, apa ini PDF, aku sepertinya tidak pernah membukanya.

Kubuka PDF itu dan isinya ...

Stimulasi Neurostasis pada Penderita Cedera Otak...