Minggu, 30 Juni 2019

[Kekasih Bintang]

Selama ini kupikir hidupku adalah untuk mengejar bintang. Sejak kecil, aku selalu menatap berlian-berlian itu di langit malam. Semua itu bagaikan percikan cat yang Tuhan lukiskan di atas kanvas yang gelap. Indah sekali.
Tapi kupikir bukan hanya itu yang mendorongku sampai sejauh ini. Tak mungkin hanya takjub dan penasaran yang membuatku terus mengejarnya selama 20 tahun ini. Rasanya bintang-bintang itu memiliki kekuatan magis yang menarikku hingga ke mari.
Setelah kupikir berulang-ulang, ternyata kekuatan itu berasal dariku sendiri. Namaku. Ya, namaku!
Ayah memberiku nama yang berarti "kekasih bintang". Aku tidak menyadari hal ini setelah ia menjelaskan bahwa ini tidak lain hanyalah nama kakekku. Tapi, aneh jika aku menggunakan nama kakekku sedangkan ia sendiri tidak. Setelah 10 tahun kepergian ayahku, aku baru menyadari bahwa ini adalah warisannya: harapan.
Ayah. Ayahku adalah orang yang pertama kali mengenalkanku tentang bintang. Waktu kecil ia mengajariku tentang pola-pola yang membentuk rasi bintang sesuai mitologi lokal. Selain itu, ia juga senang sekali mengoleksi buku-buku tentang bintang. Aku diajarkan tentang planet, tatasurya, galaksi, sampai hilal dan perhitungan kalender. Yang terakhir adalah favoritnya.
Ayahku bukanlah orang yang termasuk ahli atau menggeluti bidang itu sebagai profesi. Ia juga hanya lulusan SMP yang kebetulan mempunyai hobi seperti itu. Tapi, ia seakan mempunyai obsesi tentangnya. Di mataku, ia bagaikan "profesor bintang".
Sayangnya, di mata orang-orang, ayahku hanyalah orang bodoh. Bicaranya konyol dan sering tidak dimengerti orang. Ia payah dalam melakukan banyak hal. Pekerjannya saat itu hanya membantu toko fotocopyan miliknya. Ya, walaupun toko itu miliknya, ia hanya membantu.
Karena "kebodohan"-nya, orang-orang sering menipu dan memanfaatkannya. Uang pensiun dan tabungan selama ia menjadi karyawan habis dengan cepat karena untuk modal usaha-usaha bodong rekan-rekannya. Aku harus bersyukur setidaknya masih ada satu yang tersisa, walaupun keadaannya seperti itu.
Orang-orang pun menganggapnya sebagai pecundang. Setiap hari ia selalu diejek tetangga. Tapi, ia benar-benar seperti orang bodoh yang bahkan tak tahu bahwa ia sedang dihina. Aku sampai marah dan membenci orang-orang itu, tapi apa dayaku yang masih kecil dan penakut. Aku juga marah pada ayahku yang pura-pura bodoh itu.
Aku yakin ia sebenarnya tahu dan pasti sangat sedih. Tetapi ia selalu tampak bahagia, terutama ketika menatap langit. Kesedihannya tampak ia limpahkan pada kelamnya malam, sedang air matanya mengkristal menjadi bintik-bintik terang di angkasa. Aku menjadi iba, tapi di saat yang sama juga masih marah padanya.
Sayangnya ibu juga berpikir seperti orang-orang itu. Terjadi pertengkaran di antara mereka yang akhirnya membuat mereka terpisah. Tentu saja aku di pihak ibuku, sama-sama menganggap ayah bodoh. Ia sempat marah, membuatku takut. Ini pertama kalinya ia marah padaku.
Kemudian ia pun memutuskan untuk pergi. Pada akhirnya kami berpisah dan ia meninggal ketika aku dan ibu masih menganggapnya seperti itu.
Aku sangat sedih. Sedih sekali.
Sambil menatap langit, aku memohon ampun kepada Tuhan karena telah berburuk sangka kepadanya selama ini.
Tapi, bukannya aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa untuk membayar maafku padanya. Memang ini bukan apa-apa. Meski begitu, setidaknya aku bisa mempersembahkan ini untukmu, Ayah.
Malam ini, aku mewujudkan harapanmu, Ayah. Aku akhirnya telah resmi menjadi "kekasih bintang". Setelah berusaha mengenalnya lebih jauh, berusaha mengertinya, berusa memahaminya, berusaha tetap setia dan percaya padanya, dan akhirnya berusaha mencintainya, aku pun benar-benar mencintainya.
Walaupun jauh tak tergapai, walaupun kecil hanya setitik, walau awan mudah sekali menghapusnya, kau harus tetap mengejarnya dan benar-benar percaya padanya! Bintang itu akan tetap ada di atas sana, bersama kita, merindukan kita, sampai supernova mengakhiri riwayatnya! Percayalah! Tetaplah percaya dan jangan berpaling!
Itulah pelajaran yang didapat oleh sang "kekasih bintang".

Sabtu, 22 Juni 2019

[Teman Daring]

“Assalamu’alaikum, bro. Udah lama, ya… Alhamdulillah, berkat bantuanmu aku bisa keterima di UGM!”
“Waalaikumussalam. Wah, iya, hehe. Tapi kamu berlebihan, ah. Aku kan cuma belajar bareng aja di situ. Tapi, syukurlah kalau kamu diterima di sana, bro!”
“Wah, kamu ini suka merendah terus, ya di grup. Kalau kamu diterima di mana?”
“Aku alhamdulillah di UI”
“Wah… keren, keren…”

Begitulah isi chat dari si Niko, teman daringku (online). Sebelumnya kami belum pernah bertemu satu sama lain. Kami tinggal di dua kota yang berbeda yang jaraknya sangat jauh. Bahkan wajah satu sama lain pun tidak tahu karena kami menggunakan profpic kutipan motivasi dan anime. Kami bisa bertemu dan berteman begini awalnya dari sebuah grup Whatsapp tentang belajar UN dan SBMPTN yang terbuka untuk seluruh siswa di Indonesia. Aku menemukan link grup tersebut dari sebuah grup Facebook tanya jawab soal SMA. Awalnya aku hanya iseng saja masuk grup tersebut. Tapi, berhubung aku tidak mengikuti bimbingan belajar atau mempunyai teman belajar bersama, aku berniat untuk belajar bersama daring yang gratis untuk persiapan UN dan SBMPTN.

Kemudian di grup tersebut, orang-orang saling berbagi soal-soal dan berdiskusi menjawabnya. Di sana banyak orang-orang hebat, seperti anak-anak OSN. Tapi karena aku juga ingin belajar dan berlatih untuk menghadapi ujian-ujian tersebut, aku juga tidak mau kalah aktif menjawab setiap pertanyaan. Lama-kelamaan, aku mulai diandalkan di grup tersebut. Bahkan mereka satu per satu mulai men-DM-ku. Salah satunya adalah Niko. Di antara banyak orang yang hanya ingin bertanya soal, hanya Niko yang tiba-tiba mengajakku berteman.

***

“Sekarang, gimana kabarnya, Ki?”
“Sehat, alhamdulillah. Kamu?”
“Sehat juga.”

Setelah kami saling menceritakan cerita kami yang masing-masing diterima di universitas yang kami impikan, kami kehabisan bahan obrolan. Niko sempat mengeluh. Padahal kami dulu bisa bicara segala hal, bukan hanya bahas soal ini itu saja. Dan bagiku, itu adalah pengalaman pertamaku untuk bisa sedikit terbuka kepada orang lain. Aku baru pertama kali ini bisa berbicara mengenai kegemaranku, pengalaman pribadi, keluargaku, pandanganku, bahkan cita-citaku. Aku belum bisa berbagi tentang orang yang kusuka, walaupun ia blak-blakan dan cenderung pamer.

“Nik, gimana nih gebetanmu? Keterima di mana dia sekarang?”
“Hmm, aku belum tahu kabarnya. Tapi kuyakin dia keterima di univ yang dia inginkan juga. Tidak, pasti dia keterima. Dia pasti bakal satu univ sama aku, terus akhirnya bisa kudeketin sampai lulus dan ahirnya kita bisa pacaran, terus nikah. Hehehe… Kalau kamu? Masih jomblo aja kah? Apa kamu itu ga ada ketertarikan yanh sama yang begituan dan kerjaannya belajar terus?”
“Hahaha… Yang benar aja, bro. Yah, nanti lah pas abis kuliah lihat aja. Siapa tahu aku yang malah nikah duluan, hahahaha…”
“Ah, kamu ini masih kayak dulu, ya… Tertutup sih, kamu, makanya jomblo…”
“Hahaha, bisa aja…”

Aku sedih bahwa kenyataannya aku selama ini hampir lupa kepadanya. Itulah yang menyebabkan bahan obrolan kami cepat habis dan tak seramai dulu.

Setelah UN, grup WA tersebut cenderung sepi. Orang-orang sedang ingin agak bersantai dan menanti pengumuman SNMPTN atau masuk PTN jalur undangan. Sementara itu, SBMPTN masih sekitar 2-3 bulan lagi. Tidak ada lagi orang-orang yang meminta bantuan mengerjakan soal atau menanyakan materi tertentu.

Di saat itu, aku juga mulai jarang memerhatikan grup dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya, termasuk Niko. Aku fokus belajar, belajar, dan belajar di kamar.

Suatu ketika, aku mendapatkan notifikasi tentang chat dari suatu nomor tak dikenal. Pesan itu seperti berasal dari orang yang salah nomor.

“Assalamualaikum, bro! Dichat kok ga balas-balas? Gimana kabarnya?”

Kemudian aku cek profpic dan nama penggunanya, tak ada keterangan. Aku tidak mengenal siapa orang ini. Lalu, mengapa dia tiba-tiba seperti marah? Ah, pasti benar dia salah nomor.

“Waalaikumussalam. Maaf, ini dengan siapa, ya?”

Kemudian ia membalas dengan huruf yang dikapital semua.

“ASTAGA!!! LUPA SAMA AKU, BRO??!!”

Aku mencoba mengingat-ingat, barangkali teman sekelas? Teman seangkatan? Oh, atau jangan-jangan kakak kelas yang sudah alumni?

“Maaf, kak. Saya Kiki Ramdan, kelas 12-A. Mohon maaf lagi, ini dengan siapa?”
“Wah, hahahhaha… Jadi kamu beneran lupa sama aku, Ki???”

Ingin sekali kublokir orang yang mencurigakan dan menyebalkan ini. Tapi, dia segera menjawab.

“Aku, Niko, bro!”

Hmmm… Nik, Niko, Niko, Niko, Ni…

“ASTAGHFIRULLAH!!! MAAPP!!!”

***

Aku kira, Niko akan kecewa dan tidak mau lagi berteman denganku. Aku sudah lupa kepadanya hampir tiga kali. Waktu itu, setelah SNMPTN, dan hari ini. Tapi, entah kenapa dia masih mau menghubungiku. Padahal, kami saja berbeda jurusan, berbeda universitas, berbeda provinsi pula. Kemungkinan kita bisa bertemu juga kecil. Aku bahkan sempat berpikir pertemanan ini pada akhirnya akan gagal.

Karena sebelumnya aku belum pernah berteman, aku pun semakin tidak yakin bahwa ini berhasil. Kenyataannya aku adalah anak yang pendiam dan tidak pandai bersosial. Bukannya aku tidak mau bergaul dengan yang lain. Cara bicaraku yang lambat dan tak teratur ini membuat lawan bicaraku tak nyaman. Aku sangat benci melihat raut wajah mereka yang kebingungan. Aku pun sering berwajah muram, sehingga menambah ketidaknyamanan mereka.

Namun, aku sedikit lebih bersahabat di dunia maya. Dengan berbagai aplikasi chatting media sosial itu, aku bisa mengobrol tanpa melihat secara langsung raut wajah yang menyebalkan itu. Aku juga bisa berkomunikasi dengan lebih teratur dengan menulis. Orang-orang juga kelihatannya senang dengan aku versi daring ini.

Sayangnya justru karena itu aku takut sekali jika menjalin hubungan di sana. Aku hanya ingin bergaul biasa, tidak lebih dari itu. Aku takut kalau mereka berteman denganku kemudian tahu aku yang asli seperti apa, mereka akan menjauhiku seperti yang lain. Aku hanya tidak ingin tersakiti. Rasanya terlalu pedih jika ditinggalkan, terlebih dengan wajah-wajah kecewa seolah-olah kita menipu mereka.

“Nik, maaf. Bukannya aku sengaja ngelupain. Aku orangnya emang pelupa. Terus, HP-ku juga ganti, jadi, nomormu ga ke-save…”
“Wah, ngga kamu simpen di kartu SIM? Atau aku emang ga sepenting itu, ya? Aku itu temenmu, lho!”

Aku terkejut. Kenapa dia masih saja berharap untuk berteman? Apa dia yakin melanjutkan pertemanan yang rapuh ini? Bukannya lebih mudah untuk abai dan akhirnya melupakan satu sama lain? Lagipula dengan begitu, sakitnya juga tidak terlalu terasa, bukan? Aku ingin jujur, tetapi takut melukai perasaannya.

“Tenang, Ki. Aku tetap akan ingat kamu sampai kapan pun, walaupun kamu mungkin lupa sama aku. Aku berterima kasih banget sama kamu karena mau bantu aku soal pelajaran. Kamu baik banget, padahal kita ga kenal, ga tahu satu sama lain. Kamu juga orang yang tertutup, sama kayak aku. Tapi justru karena itu, aku ngerasa tenang. Aku pikir akhirnya aku punya teman,”

Apa? Jadi dia sama sepertiku? Aku benar-benar meremehkan janjinya dulu untuk “menjadi teman sampai kapan pun”. Ternyata dia serius. Dia sungguh serius berteman karena aku dianggapnya sebagai teman pertamanya, mungkin satu-satunya juga. Memang terdengar sangat bagus, tetapi ini berlebihan.

Bukannya aku tidak percaya dengannya atau tidak suka berteman dengannya. Kita harus realistis. Aku saja tidak yakin masih bisa berhubungan dengan teman SD, SMP, atau SMA-ku, saat aku nanti kuliah, bekerja, mempunyai keluarga sendiri, dan sebagainya. Apalagi sekadar teman daring.

Walaupun begitu, mengetahui kejadian seperti ini, aku pun mulai percaya padanya. Aku juga mulai percaya akan ketulusannya. Walaupun aku tidak mengerti apa dan bagaimana seharusnya itu berteman, aku akan berusaha sebaik mungkin. Itu karena dia juga adalah teman pertamaku.

***

Sudah satu tahun aku lulus kuliah dan Niko tak lagi memberi kabar. Dulu dialah yang selalu mengawali obrolan. Dia selalu menyapaku terlebih dahulu. Kemudian, aku mulai sadar akan kekeliruanku setelah tahun kedua kuliah. Aku menghubunginya sekali, dua kali, dan tiap bulan. Lama-lama aku lelah dan akhirnya menyerah. Haha, ternyata realitas juga menghantam dirinya rupanya. Tapi, aku tidak akan kecewa. Aku tidak akan melupakannya seumur hidupku.

Dia adalah orang yang pertama kali mengajarkanku tentang pertemanan. Intinya adalah kita harus saling percaya: percaya padanya dan percaya bahwa mereka juga percaya pada kita. Berkat itu, aku mulai mendapat banyak teman, sahabat, bahkan kekasih. Aku sangat berhutang budi pada Niko. Bantuanku dulu tak seberapa dibandingkan bantuannya yang kurasakan hingga kini.

Tak terasa istirahat makan siang pun selesai. Aku harus kembali bekerja. Aku harus segera kembali ke realita. Aku ingin angin yang berhembus di rooftop ini bisa membawa perasaanku ini, lebih baik daripada jaringan telepon dan internet.

Yah, sampai jumpa lagi teman daring-ku! Aku yakin kita pasti akan bertemu.

[DORR]

Aku tak mengerti lagi. Kenapa aku tiba-tiba berada dalam suasana mengerikan seperti ini. Siapa yang mengirimku ke sini?
DORR-DORR
Arif terbunuh dibalik pilar-pilar bangunan. Aku ingin menolongnya tetapi wanita itu ingin membunuhku. Tidak ada pilihan lain.
Aku pergi.
Sebenarnya, siapa dia dan kenapa dia membunuh teman-temanku? Sepertinya aku kenal dia, tetapi wajahnya tertutup masker. Rambutnya diikat dua sisi, seperti orang aneh. Dia memakai gaun putih berjaket merah muda. Roknya pendek dan ia masih muda.
Dengan pistol di tangan kiri dan pisau daging di tangan kanan, ia membantai semuanya. Tubuhnya bersimbah darah korban-korbannya. Sementara itu, ia terus mengejarku sambil tertawa dan memanggil-manggil namaku.
"Yuddiii... Yuddiii.. AHAHAHA"
Aku terdesak. Aku hanya bisa berlindung di balik meja yang terus-menerus mendapat tembakan. Sesekali aku membalas balik, tapi entah kenapa pistolku selalu macet.
Tunggu! Darimana pistol ini?
"Lihat, Yuddii... Apakah pistolmu rusak? Hahaha... Sampai kapan pun kau tak kan bisa membunuhku!!!" Sial. Aku tak bisa membalas. Aku hanya bisa menunggu sampai pelurunya habis. Sesaat kemudian, tembakan berhenti. Yeah, ini kesempatanku untuk lari!
Tiba-tiba "Hey, Yuddi... Aku mencintaimu!" DORR Timah panas menembus dadaku. Jantungku terkoyak dan aku tak bisa bernafas. Badanku terhuyung ke belakang. Kepalaku pening sekali. Aku mati rasa. Sial, bagaimana aku bisa tamat tanpa mengetahui kenapa...
14 Juni 2019

[Kacamata]

Aku tidak pernah membayangkan begitu pentingnya benda ini. Lensa sederhana yang diberi pengait di kedua sisi ini bukan hanya membantu benda-benda terlihat jelas. Benda ini ternyata juga dapat melihat ketulusan hati seseorang. Bukan karena hal mistis atau psikis, melainkan karena kejadian sederhana di suatu pagi.

“Ayo, pergi ke sekolah, Mir!”
“Ayo, kak! Kita kan mau telat, cepetan! Nih, helmnya!”
“Okei… Eh, tapi bentar. Mana kacamataku?”

Ketika itu, jam dinding sudah menunjukkan pukul 06.30. Aku sudah tidak punya waktu untuk mencari kacamataku. Huh, dasar aku ceroboh! Tapi mau bagaimana lagi, kami harus segera berangkat jika tidak ingin terlambat. Terpaksa, aku pergi ke sekolah dengan mata yang rabun. Walaupun tanpa kacamata, aku masih bisa melihat dengan lumayan benda dua meter di depan. Cukup berbahaya memang jika aku harus memboncengkan adikku. Dia memintaku agar mengebut, tapi pelan-pelan, permintaan yang paradoks.

Sesampai di sekolah, teman-teman langsung menyadari penampilanku yang berbeda. Aku tanpa kacamata bermata sipit sekali. Aku sampai diejek guruku karena tidak bisa membaca tulisan di papan tulis walaupun aku duduk paling depan. Teman-teman menertawakanku. Aku ikut tertawa, menertawakan kecerobohanku yang sudah terlalu sering ini. Huh, kesalnya aku!

Alhasil, aku hanya menulis ulang catatan teman sebangkuku hari ini. Setelah itu, aku langsung pulang ke rumah. Aku izin pamit tidak mengikuti kegiatan ekstra hari ini karena harus segera menjemput adikku yang di SMP. Aku bilang kami ada acara keluarga. Ya, tentu saja acara untuk membantuku mencari kacamata itu. Secepatnya! Sebelum ibu dan ayah tahu! Jangan, jangan sampai mereka tahu kali ini!

Kami pun sampai di rumah. Setelah berganti pakaian, kami mencari-cari kacamata itu di setiap sudut ruangan. Mira, adikku, memeriksa setiap bagian yang biasa terlihat, sedangkan aku memeriksa tempat-tempat yang sempat kujumpai semalam.

Aku rasa tadi malam aku masih memakainya untuk bermain HP. Tapi karena keasyikan, aku pun tertidur di sofa dan lupa dengan keadaan kacamataku. Entah masih kupakai atau kuletakkan di suatu tempat. Tapi, aku tidak menemukannya sama sekali di sofa itu ataupun tempat di sekitarnya, ruangan keluarga.

Kemudian, tengah malam, Mira membangunkanku. Ia yang akan pergi ke WC melihatku dan menyuruhku tidur di kamar. Tapi, aku sama sekali tidak ingat itu. Yang kuingat hanya itu, kemudian bangun pagi di kamar. Tetapi, aku sama sekali tidak menemukannya di kamarku. Apa mungkin sebelum ke kamar aku jalan-jalan dulu entah kemana dalam keadaan setengah sadar?

“Mir, udah ketemu belum?”
“Kak, tadi malem kakak kemana aja, sih? Padahal hilangnya tadi malam dan kakak semalam di rumah. Kakak nggak keluyuran kan, abis itu?”
“Keluyuran kemana? Orang aku jarang keluar, kok keluyuran tengah malem?”
“Iya juga, sih. Barangkali beli nasi goreng?”
“Mana ada. Ibu sama ayah kan baru pulang waktu itu bawa makanan. Ah, udahlah… Coba Mir, cari di ruang tamu sama kamar mandi!”
“Halah, kakak ini bener-bener ngrepotin, deh… Rasain tuh kalau ketahuan ibu nanti”

Aduh, celaka! Bagaimana ini? Bagaimana jika aku tidak menemukan kacamataku? Kalau ayah tahu, pasti ia memarahiku dan mengatakannya pada ibu. Apa yang akan dikatakan ibu? Setelah bulan kemarin aku menghilangkan kacamataku dan sekarang kehilangan lagi, apa yang akan dikatakannya?

Bukannya takut dimarahi atau bagaimana. Aku kasihan sekali kepada ibu dan ayah. Mereka sudah bekerja seharian penuh, sering berlembur, bahkan pernah sehari-dua hari tidak pulang. Tapi, jangan salah. Mereka bekerja sekeras itu bukannya mendapat uang banyak, melainkan hanya sedikit sisa dari keperluan membayar hutang dan berbagai cicilan. Sialnya, penagih hutang itu datang bukan setiap bulan atau setiap pekan, melainkan hampir setiap hari. Jadi, setiap hari pemasukan besar, pengeluaran juga besar. Kita tidak sempat menabung, apalagi membeli barang-barang yang agak mahal. Kami pun hidup dengan ekonomi sekarat. Sekali-kali makan, sisanya mengandalkan berkat Tuhan.

Tapi, tidak semenyedihkan itu, kok! Itu hanya candaan gelap ayah yang berlebihan. Kami masih bisa hidup dengan cukup, bahkan berlebih, jika mereka bisa sesekali mengemplang pembayaran hutang dan cicilannya. Memang bukan hal yang baik, tapi hal itu dilakukan beberapa kali saja untuk hal darurat, kok. Contohnya, ketika kami berdua ulang tahun, berprestasi di sekolah, butuh HP, laptop, atau hal-hal semacam itu.

Aku tahu itu memang bukan masalah darurat! Maafkan kami! Tetapi, ayah dan ibu kami terlalu mencintai anak-anaknya, menurutku. Mereka pikir hal tersebut sangat wajar sebagai bentuk permohonan maaf atas kesalahan mereka yang menyebabkan kami ikut merasakan batunya. Aku berkali-kali menentang tindakan itu, tetapi mereka tetap kukuh. Adikku memintaku untuk membiarkan mereka karena mereka adalah orang tua.

“Kak, menurutku jika kakak ga ingin membebani mereka, itu bagus. Aku sangat setuju. Tapi, lihat bagaimana mereka berkali-kali tetap melakukan itu.”
“Tapi, kan bisa saja mereka melakukannya setelah semua masalah mereka beres. Kalau begini bukannya semakin menambah beban dan memperburuk masalahnya?”
“Kak, tapi umur tidak ada yang tahu, kak,”
“Jangan berkata sembrono, kamu Mir!”
“Bukan begitu maksudku, kak. Tapi… Bahkan ibu sampai berlinang air mata waktu kamu memarahinya soal kacamata baru itu. Walaupun kakak berkali-kali menghilangkan kacamata, sedikit pun ibu tidak pernah marah. Tidak pernah pula menyebutmu ceroboh, teledor, atau sebutan buruk lainnya, meski itu sepele. Tidak pernah pula ibu mengeluhkan harga kacamata yang ratusan ribu itu, walaupun ia sampai harus tidak pulang tiga hari. Ayah juga begitu, walaupun sambil marah-marah. Tapi, ia marah karena marah pada dirinya sendiri dan merasa kasihan terhadap istrinya. Intinya, inilah bentuk cinta orang tua. Di dalamnya ada rasa tanggung jawab. Rasanya seperti malu sekali jika tidak memberikan yang terbaik. Ya, walaupun aku belum pernah menjadi orang tua, sih…”
“Jangan berkata begitu, Mir. Aku malah seperti mengambil keuntungan sendiri di sini…”
“Maksudnya?”
“Jangan sampai kita berpikir, ‘Lagipula kami memang jarang diperhatikan sejak kecil dan berbagai kebutuhan modern juga sangat penting sekaran ini’. Apapun kesalahan yang diperbuat orang tua, besarnya tidak akan melebihi kebaikan yang kita lakukan sebagai anak. Bahkan, kebaikan kita dibanding kasih sayang mereka adalah bagaikan sebutir nasi dan sebuah kelapa, atau lebih besar lagi. Aku malu selalu merepotkan ibu dan ayah. Aku malu membuat orang tua kita menderita hanya untuk membahagiakan kita. Aku tahu mereka juga memiliki tanggung jawab dan harus berkorban karenanya. Tetapi, jangan sampai mereka terlalu memaksakan diri… Lagipula, aku sudah besar dan bisa berjuang sendiri…”
“Tapi, nyatanya, kak? Kakak belum bisa bekerja. Uang yang kakak dapat dari lomba-lomba juga tak cukup untuk memenuhi kebutuhan kakak sendiri. Bahkan kacamata itu,”
“Kacamata? Itu karena aku terlalu sering menghilangkannya. Uangku habis untuk itu dan membeli laptop. Aku terlalu ceroboh memang… Tapi, kali ini tak akan kubiarkan lagi. Apalagi ini akhir bulan dimana listrik, air, dan bahan makanan harus segera dibayar”
“Kalau itu, aku sih udah tahu. Tapi, kak, yang harus kakak lakukan adalah meminta maaf. Minta maaflah pada ibu dan ayah… Mungkin kecerobohan kakak adalah karena dosa kakak yang selalu marah pada mereka dan tidak pernah mencoba melihat kasih sayang mereka…”

Kata-kata Mira begitu menusuk. Aku yang selama ini mengkhawatirkan mereka berdua justru gagal melihat kasih sayangnya?

Aku selalu menolak untuk diberi ini-itu karena menurutku hal itu tidak penting dan mendesak. Tetapi, mereka sebenarnya hanya ingin kami berdua tidak berpikir keluarga kami kekurangan, apalagi merasa minder. Aku selalu marah apabila mereka memaksakan diri. Tetapi, mereka hanya ingin menunjukkan betapa pedulinya mereka terhadap kami.

Dan ketika aku berulang kali melakukan kesalahan, ibu justru tidak mau memarahiku. Padahal… padahal beliau adalah orang yang paling berhak memarahiku, lebih dari ayah. Yang selalu membelikan kacamata baru adalah ibu. Dan ketika sudah kehilangan untuk kedelapan kalinya, ayah bersikeras untuk melarang ibu membelikannya. Tapi, ibu juga bersikeras membujuk ayah agar tetap membelikannya karena hal itu sangat penting untukku belajar dan beraktivitas. Beliau sampai menawarkan untuk membelinya dengan uangnya sendiri. Belakangan aku tahu kalau selama ini ayahlah yang memberikan uang untuk kacamataku itu.

Bukan karena mereka sudah mulai tidak peduli, lantas tidak memarahiku. Bukan! Mereka berpikir seperti apa yang Mira katakan. Mereka terlalu menyalahkan diri mereka sendiri sampai-sampai tak bisa menyalahkanku. Jadi, bukannya aku yang ceroboh, melainkan aku melakukannya karena menjadi korban atas dosa-dosa mereka, pikir mereka.

Itulah kenapa Mira mengatakan bahwa ini adalah dosaku. Seandainya aku berhenti untuk marah kepada mereka, mereka tidak akan berpikir seperti itu. Seandainya aku bisa melihat ketulusan hati mereka lebih dulu, kecerobohan ini pasti takkan terjadi lagi.

Saat ayah dan ibu pulang tengah malam, aku langsung mendekap mereka dan mengecup kedua tangan mereka. Mataku yang mengalirkan air mata bercampur dengan peluh-peluh hasil kerja keras mereka hari ini. Rindu bertemu haru. Harapan bertemu kenyataan. Aku pun memohon maaf dan menyesal karena bukan saja mataku yang rabun, ternyata hatiku juga.

Rabu, 19 Juni 2019

[Melihat Bulan]

Malam ini bulan purnama terbit lebih larut dari yang kuperkirakan. Sudah sekitar pukul delapan malam, bulan itu baru naik sejengkal. Pasti air laut sedang pasang di kampung ibuku. Aku membayangkan air rob yang dari tadi pagi menggenangi jalanan, semakin naik, dan merangsek masuk ke rumah-rumah warga di sana. Untung rumah ibuku dibangun sedikit lebih tinggi.

Ingin kukatakan pada ibuku bahwa ini tidak ada kaitannya dengan hari Jumat dan penguasa lautan. Kalau memang sedang tengah bulan, ya mau bagaimana lagi, air pun pasang. Nelayan-nelayan yang kadung percaya mitos hari Jumat itu malah pergi hari ini, di saat ombak sedang tinggi-tingginya. Aku hanya bisa berharap mereka bisa selamat dan kembali bersama keluarganya dengan aman.

Ah, tapi menyaksikan bulan purnama terbit begini asyiknya di dermaga kampung ibuku. Menghadap lautan lepas, tanpa pepohonan dan bangunan-bangunan yang mengganggu. Diiringi angin darat yang sangat kencang dan ombak yang menggulung-gulung dahsyat, bulan itu bagaikan cahaya harapan yang membangkitkan kekuatan alam di saat mentari pergi. 

Selasa, 18 Juni 2019

[Green Moon] - Bagian 1

Xichang Space Launch Center, 2 Januari 2026.
Letnan Yui Chen, Mayor Li Zhang dan Komandan Guang Hong ditugaskan untuk menjalankan misi ke Bulan. Mereka adalah astronot-astronot terpilih yang telah menyelesaikan serangkaian seleksi dan pelatihan selama 10 tahun. Seleksi dan pelatihan mereka memang benar-benar ketat dan berat, mengingat betapa penting dan berbahaya misi ini. Wajar saja karena ini merupakan pertama kalinya sejak 50 tahun lalu manusia terakhir pergi ke Bulan. 
Misi mereka adalah mengecek kondisi ladang-ladang milik negara beserta hasil panennya yang berada di Bulan. Sejak keberhasilan Chang’e 4 melakukan percobaan pada tanaman di sana pada tahun 2019, Tiongkok segera mengirim wahana-wahana serupa yang berkapasitas lebih besar beserta lumbung-lumbung untuk penyimpanan panennya dalam jangka panjang. Mereka berencana untuk memproduksi secara masif bahan pangan domestik untuk kepentingan kolonialisasi ke depannya. Selama ini yang mengerjakan semuanya adalah robot-robot yang dipantau oleh satelit orbiter Bulan. Semua terlihat berjalan lancar dan baik-baik saja, sebelum gejala aneh itu muncul.
Pukul 06.24 waktu setempat, roket Saturn V-nya Tiongkok, Chang Zheng 5B, diluncurkan dari Launch Area 2 dan 3, Xichang Space Launch Center. Roket dengan tiga stage dan empat booster ini meluncur, membawa ketiga orang itu ke Bulan. Roket tersebut termasuk roket terkuat dan terberat dalam jenisnya, yakni long march rocket.
“Mayor Zhang, bagaimana perasaanmu menjadi orang yang tercatat dalam sejarah?”
“Saya tidak pernah memikirkan perasan, Komandan Hong! Apapun yang terjadi, yang terpenting adalah misi ini harus berhasil”
“Bagus, Mayor! Tetapi ingat, yang terpenting adalah kamu harus tetap hidup. Kamu harus tetap hidup dan menceritakan hal-hal yang luar biasa di atas sana kepada orang-orang di bawah sini. Dengan begitu, kamu akan menjadi pahlawan yang lebih berguna, meskipun biasanya yang gugur lebih populer, sih…”
“Haha, siap, Komandan!”
“Kamu juga, Letnan Chen! Kamu akan menjadi wanita pertama yang menjejakkan kaki di Bulan!”
“Maaf, Komandan, tetapi saya tidak terlalu tertarik dengan entertainment seperti itu. Saya lebih tertarik dengan tanaman-tanaman itu. Ternyata, mereka lebih dulu mengolonialisasi Bulan daripada kita,”
“Hahaha, benar sekali, Letnan! Sayang sekali kita bukanlah alien pertama di sana,”
***
Satu menit sejak peluncuran dan kini roket telah meninggalkan atmosfer tebal Bumi. Roket tersebut meluncur begitu cepat hingga mencapai 20 mach, setara dengan percepatan 5 g. Keempat booster dilepas, menyusul satu per satu stage. Mereka pergi ke Bulan menggunakan wahana CZ5B-1, singkatan dari roket besar yang pertama kali membawanya dan urutan unit.
Melihat bumi yang awalnya berupa hamparan perlahan mulai melengkung dan memperlihatkan bentuk bolanya merupakan pemandangan yang luar biasa. Seakan kita tertarik menuju dunia lain dan terdistorsi dari kenyataan. Walaupun sudah berkali-kali mereka bertiga melihat semuanya di simulasi, merasakan sendiri pengalaman menakjubkan itu bagaikan mimpi yang menjadi kenyataan.
Perjalanan menuju Bulan memakan waktu selama satu sampai dua hari. Selama itu mereka menghabiskan waktu dengan mengobrol, membaca-baca referensi dan panduan, menghubungi orang-orang tercinta di Bumi, dan sekali-kali melaukan siaran langsung dengan stasiun televisi ataupun internet. Mereka harus selalu melakukan kegiatan di tengah sepinya ruang angkasa.
Namun, bulan yang merupakan tempat tujuan mereka sudah berbeda dari beberapa tahun sebelumnya. Walaupun belum ada satu pun manusia yang menghuninya, robot-robot, satelit-satelit, dan fasilitas-fasilitas penyokong kehidupan sudah ramai menjamur di sana. Ditambah lagi satu makhluk hidup asli Bumi yang berkembang biak di sana, yaitu tanaman, beserta mikroba yang menyertainya, tentunya.
Di samping pertanian, Tiongkok juga membangun fasilitas-fasilitas pertambangan Hidrogen III atau tritium yang merupakan sumber bahan bakar roket melimpah di sana. Akibatnya, permukaan bulan sedikit tertutup debu-debu hitam di beberapa tempat. Hal itu bisa diamati di Bumi sebagai bercak-bercak hitam di atas permukaan Bulan. Gejala aneh yang ada di ladang diduga terkait dengan hal tersebut.
“Komandan Hong, apakah sudah saatnya mesin pendorong 4 sudah siap dinonaktifkan?”
“Tenang saja, Letnan Chen, kamu fokus saja pada tanaman itu. Biar yang begini diurus Mayor Zhang saja,”
“Baik, Komandan,”
“Jadi, bagaimana menurutmu? Apakah sudah ada perkembangan hipotesis yang dapat menjelaskan fenomena ini?”
“Dengan melihatnya secara langsung, saya bisa lebih yakin, Komandan. Tetapi, sejauh ini belum ada perubahan mengenai dugaan sebelumnya.”
“Baiklah kalau begitu. Sepertinya, Tuhan selalu marah jika manusia selalu mengambil peran-Nya di dunia. Selalu saja ada kejadian aneh di tengah rencana yang terlihat mulus…”
“Jangan remehkan manusia, Komandan. Kita adalah makhluk yang gigih jika mempunyai tekad kuat. Menurutku, itu bukan bentuk kemarahan Tuhan, melainkan ujiannnya untuk membuktikan hal itu. Jika hal seperti itu memang ada…”
“Jika ada? Haha… kau ini,”
Letnan Chen merupakan kepala projek riset penanganan gejala abnormalitas tanaman di Bulan. Dulu ia bekerja sebagai ahli rekaya genetika tanaman pangan. Salah satu karyanya adalah “Kentang Panda” yang merupakan kentang dengan ukuran super dan kaya nutrisi. Kentangnya juga sangat tahan terhadap suhu ekstrem dan pencahayaan yang minim. Ternyata, hal tersebut menarik perhatian pemerintah Tiongkok dan akhirnya karyanya dipilih dan dikembangkan sebagai “sumber pangan masa depan”. Mungkin maksudnya pangan bagi warga koloni di Bulan.
Tetapi ada satu hal yang belum dimengerti mengenai tanaman tersebut. Daunnya. Daunnya selalu berlubang-lubang dan terdapat bercak-bercak hijau di sekujur tubuh tanaman. Anehnya, kentang yang ada di bawahnya ternyata baik-baik saja dan bahkan kondisinya terlalu baik seperti itu. Belum selesai riset tentang gejala tersebut, pemerintah Tiongkok sudah menarik hasil karyanya itu. Sebagai gantinya, Letnan Chen dijadikan astronot dan penanggung jawab “ladang” dan seluruh stafnya dijadikan staf pengembang pertanian di luar angkasa.
Di dalam fasilitas pengembangan pertanian di luar angkasa, “Kentang Panda” juga mengalami modifikasi genetik tambahan agar dapat bertahan di kondisi gravitasi rendah. Efek samping mengenai daun dan bercak dibiarkan begitu saja karena tidak memengaruhi kuantitas dan kualitas produk pangan. Setelah diluncurkan tujuh tahun lalu, didapatkan hasil mengejutkan. Efek tersebut hilang dan kentang tumbuh normal. Ukurannya memang lebih kecil daripada di Bumi, hal yang biasa. Beberapa kentang dibiarkan berkembang biak dan sebagiannya disimpan dalam lumbung. Kentang itu pun tumbuh normal kembali dan dibiarkan berkembang biak lagi.
Hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun semuanya berjalan dengan baik dan lancar. Fasilitas pertanian semakin rimbun dan lumut-lumut yang terbawa juga tumbuh. Kamera pemantau semakin buram dan tidak bisa melihat segala sesuatunya dengan jelas. Walaupun begitu, pemeriksaan dari instrumen-instrumen lain menunjukkan hal yang baik. Seluruh staf riset tidak mengkhawatirkan hal itu. Tapi, Letnan Chen selalu gelisah dan merekomendasikan inspeksi langsung ke Bulan, lebih cepat 15 tahun dari rencana. Namun, pemerintah selalu menolak karena tidak bukti yang mendukung kegelisahannya itu. Sampai pada akhirnya, ia menemukan bukti tak langsung dan segera pergi ke sana.
***
Bersambung di bagian 2 ~

Senin, 17 Juni 2019

[Teror Tugas Akhir]


Sore ini, aku harus menemui dosen pembimbingku. Aku sudah membulatkan tekad. Pokoknya aku tidak boleh terlambat lagi. Terlambat untuk lulus. Sudah 10 semester aku berada di kampus ini dan aku tidak ingin memperpanjangnya.

Apalagi jika mereka harus repot-repot mengusirku. Selain malu, bisa-bisa cita-citaku jadi kacau. Oh, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!

“Selamat datang, Renaldi! Besok-besok jangan kebanyakan nonton anime lagi, ya..." sapa dosen pembimbingku.

“Astaghfirullah, Pak… Sudah saya bilang, bukan gara-gara itu!" ujarku kesal.

Pak Budi seperti biasa selalu bersikap jahil pada semua orang. Semua orang diperlakukan sama, bahkan pada orang bermasalah sepertiku yang sudah setahun lebih menghilang tanpa mengabarinya dan tiba-tiba muncul begitu saja. Tapi justru itulah yang membuatku bersyukur mempunyai dosen pembimbing yang begitu baik dan selalu santai.

"Ah, sudahlah… Bapak nyari kamu sudah setahunan lebih, eh selama ini malah ngurung diri di kosan barumu itu. Untung kamu tobat, ya..."

"Pak, saya setahun belakangan ngilang bukan karena anime, Pak. Gara-gara skripsi itu!"

"Hahaha... Mulai lagi ngayalnya”

"Nggak, Pak, sumpah! Rasanya skripsi itu terus-terusan neror saya! Bahkan, sampai sekarang saja saya masih kepikiran, Pak..."

"Hahaha... Justru bagus, dong. Biar kamu cepet sadar..."

"Pak, saya bukan lagi bercanda..."

"Hahaha... ya sudah, ya sudah. Sekarang, mana draftnya yang mau saya koreksi?”

Sambil menyerahkan draft skripsiku dengan senyum kecut, aku kembali teringat-ingat kejadian itu. Padahal sudah sekian lama aku mencoba melupakannya. Tetapi, aku memang sudah mempersiapkan hal ini. Mau bagaimana lagi. Mau tidak mau, aku harus berhubungan lagi dengan urusan skripsi. Kuatlah, diriku…

Setiap aku melihat tumpukan kertas-kertas itu, aku selalu teringat dengan skripsi mahasiswa ITG yang misterius itu. Sebuah skripsi yang benar-benar gila! Daripada dipajang di etalase perpustakaan, sepertinya lebih layak untuk jadi konten deep web. Brutal dan penuh konspirasi! Apalagi melihat tangan dosen yang mencoret-coret draftku dengan pena bertinta merah, seperti darah. Darah yang mengucur akibat cabikan pisau-pisau bedah. Sial, aku malah kembali mengingatnya!

Setahun lalu, aku masih merupakan mahasiswa yang rajin. Waktu itu aku sedang giat-giatnya mencari literatur untuk skripsiku. Namun, kucari-cari literatur yang terkait di perpustakaan prodi dan perpustakaan pusat tidak ada yang memuaskan. Tidak ada yang benar-benar sesuai dengan topik yang ingin kuteliti. Sudah kujelajahi seluruh koridor, dari lantai satu sampai empat, tetap saja aku tak mendapatkannya. Pak Budi sebenarnya menyuruhku untuk mencari topik yang lain saja, daripada kerepotan. Tetapi, aku bersi keras menolak. Apapun yang menghalangi, aku harus bisa menjadi ahli otak dari ITG!

"Duh, gimana nih, Fer? Masak aku harus nyerah, sih?" keluhku setelah berhari-hari mondar-mandir di perpustakaan.

"Lho, lho, kamu masuk sini kan gara-gara pengen ngejar cita-citamu! Kalau nyerah di sini, ya percuma dong selama ini!" kata Ferdi menyemangatiku.

"Lagipula, kan ada jurnal online. Pakai itu saja, bukannya sama saja?" timpalnya.

"Beda, Fer... Hasil riset di sini katanya beda dan lebih spesifik dalam mempelajari fenomena yang langka. Kalau ada yang sama, kualitasnya pun belum tentu sama," jawabku.

Sebenarnya dulu kampus ini sangat terkenal keahliannya di bidang otak dan syaraf. Tapi, entah kenapa dalam beberapa tahun belakangan gaungnya sudah tak terdengar, tertutup bidang lain, seperti teknik yang lebih tinggi pamornya. Padahal dulu hasil-hasil risetnya mendunia. Bahkan tempat ini sempat menjadi pusat penelitian syaraf dan otak terdepan di dunia. Anehnya, pemerintah tiba-tiba menghentikan aliran dananya kepada ITG. Alhasil, riset pun mandeg dan peralatan-peralatan canggih yang tersisa tidak mendapat perawatan dan berangsur-angsur usang ditelan zaman.  

Anehnya, dosen-dosen di sini tidak pernah ada yang ingat mengapa hal tersebut dapat terjadi. Ada yang bilang pemerintah pelit, saat itu ekonomi sulit, atau yang lebih seru, gara-gara riset gila yang berbahaya, menurut sebuah teori konspirasi. Tapi, aku jelas lebih percaya pada teori yang lebih nyata dan bisa dilihat contohnya pada zaman sekarang.

“Kalau dulu memang benar ITG adalah pusat penelitian, kenapa tidak mencari tahu langsung ke tempatnya, di gedung PAD?" kata Ferdi memecah kebuntuanku. Benar juga.

Dulu gedung itu adalah gedung riset gabungan antar seluruh universitas di penjuru negeri, termasuk di bidang otak dan syaraf. Namun, gedung itu kini hanya dijadikan kantor administrasi dan nyaris tidak ada lagi kegiatan akademik di sana.

"Oke, Fer. Aku coba dulu, deh. Makasih, bro,"

"Yoi, semoga berhasil!"  

"Sip, aku pergi dulu." Kemudian, aku bergegas menuju gedung yang persis ada di depan perpustakaan itu. Tiba-tiba dia terkejut dan teringat sesuatu.

"Eh, tapi ingat! Katanya gedung itu bahaya dan banyak hantunya. Jadi hati-hati aja, jangan sampai pulang malam," ujar Ferdi. Jika dilihat-lihat, gedung ini tampak angker memang. Sudah sepi, kacanya yang rusak tidak diganti, dan catnya yang menguning dibiarkan begitu saja. Benar-benar seperti rumah kosong.

"Hahah, hantu mah bukan cuma di situ aja kali, semua di ITG juga berhantu,"

"Hahaha, ya sudahlah. Kalau ada apa-apa, aku bantu. Sori, aku nggak bisa nemenin, lagi ada bimbingan,"

Kami pun berpisah dan aku pun masuk ke gedung itu. Ternyata, di sana benar-benar sepi. Hanya ada beberapa staf di lantai satu dan seorang satpam yang menjaga di depan. Naik tangga ke lantai dua, aku menemukan beberapa ruang yang dipakai perkuliahan. Di lantai tiga dan seterusnya, aku tidak berjumpa siapapun.

Yang kucari-cari ternyata ada di ujung lantai enam. Di sana terdapat sebuah perpustakaan kecil. Tapi, ruangan itu lagi-lagi seperti sudah lama ditinggalkan. Banyak debu dan sarang laba-laba di dalamnya. Pintu depannya pun dipagari tumpukan kursi, yang artinya ruangan itu memang sudah lama tidak digunakan. Yang membuatku yakin bahwa ini adalah tempat yang kucari hanyalah sebuah tulisan "Perpustakaan Riset-CN23". Dan ternyata benar, di sana merupakan peninggalan kejayaan ITG masa lalu, yang berarti semua refernsi yang kubutuhkan.

Sejak itu, aku menyukai tempat ini dan rutin mengunjunginya sampai pada suatu hari…

***

"Nak, ini ya revisinya...,” kata Pak Budi sambil menyerahkan draft yang sudah dikoreksi.

"Oiya, Pak. Kalau begitu akan saya perbaiki segera, saya pamit dulu.” Ujarku sembari bangkit dan hendak keluar ruangan. Tapi, Pak Budi segera mencegahku.

"Lho, lho, lho... sebentar... ini baru koreksi bab satu. Bab duanya belum.”

Astaga, lagi-lagi bapak ini bercanda. Sudah sejak awal aku menduga hal ini akan terjadi. Ide untuk berangkat bimbingan sore hari benar-benar tidak bagus.

"Waduh, Pak. Tapi sebentar lagi malam, saya harus segera pulang,” kataku dengan mimik yang serius.

"Ya sudah atuh, sekalian malam di sini, revisi juga sekalian," ujarnya, lagi-lagi dengan nada bercanda.

"Tapi, Pak... Saya harus pulang,” pintaku. Kali ini dengan wajah agak memelas. Syukurlah, bapak ini akhirnya mengerti.

"Lho, ada apa sih? Apa kamu ada penyakit?"

"Nggak, Pak... saya cuma ta... ta... takut," kataku dengan gugup.

"Hahaha... yang bener nih?” ejek bapak itu.

"Pak, kan sudah saya jelasin di WA sebelumnya, kalau saya itu ..."

"Ah, sudah, sudah... lebih takut itu atau takut nggak lulus lagi tahun ini?" sergah bapak itu.

Aku sangat benci ini. Malam hari di kampus. Mengingatkanku akan malam itu.

***

Pada hari itu, aku terlalu asyik membaca di perpustakaan itu, sampai-sampai melanggar batas waktu operasional gedung, yakni jam empat sore. Aku bahkan tidak menyadari malam hari telah tiba. Entah mengapa tidak ada satpam yang menegurku. Padahal, biasanya mereka selalu galak mengusir mahasiswa keterlaluan ambis sepertiku ini. Apa jangan-jangan karena mitos hantu itu? Ya ampun, padahal mereka sudah bertahun-tahun bertemu mereka di seluruh penjuru kampus ini.

Aku sebenarnya merinding. Bisa kau bayangkan, sendirian dalam sebuah ruangan kumuh dan terpencil ini di lantai enam! Tetapi, demi cita-cita, apapun harus kulakukan!

Untuk mengusir sepi, aku memutar lagu dari handphoneku. Kuraih headset di tas, kupasang di telinga, kembali membaca dan mencatat hal-hal penting, dan... hei! Di mana penaku?

Aku yakin tadi ada didepanku. Kucari di tas, tidak ada. Di bawah meja, tidak ada. Sungguh kesal sekali! Terpaksa aku harus turun dan membeli pena di bawah.

Tapi, saat aku hendak membuka pintu keluar, terdengar suara pena jatuh.

Sebuah pena tergeletak di sampingku. Rupanya selama ini pena itu ada di saku kemejaku. Bodohnya aku…

Alhamdulillah, aku tidak perlu repot-repot keluar. Kembali kuambil secarik kertas dan menulis catatan.

Allahu Akbar! Kenapa tintanya merah?

Astaghfirullah! Bau apa ini? Darah?

Oh, tidak, tidak. Berpikir jernih, berpikir jernih! Sepertinya aku harus pulang, Aku sudah mulai kelelahan. Aku mulai berhalusinasi. Aku harus pulang. Pulang!

Kalang kabut aku berusaha secepat mungkin keluar dari sini. Tapi, lagi-lagi cobaan menimpa. Tiba-tiba lampunya mati semua. Sial, aku terjatuh tersandung sesuatu. Handphoneku terlempar entah kemana.

Tanganku hanya bisa meraba-raba sekitar tanpa menghasilkan apapun. Tombol lampu jauh dari sini. Aku juga masih belum bisa menemukan handphoneku. Terlalu gelap. Di balik pintu luar juga sangat gelap. Kakiku sudah gontai gemetaran karena ketakutan. Aku terjebak di sini.

Tiba-tiba muncul cahaya berkedip dan bunyi getaran. Untung handphoneku tidak kumode silent. Tapi, kenapa bisa di situ? Aku jatuh di sini, tetapi benda itu bisa berada sejauh 5 meter. Ah, sudah tidak usah berpikir aneh-aneh, yang penting aku menemukannya.

Sambil merangkak, kuraih handphone itu. Tapi, ketika meraih benda itu, aku merasakan ada sesuatu di bawahnya. Ternyata sebuah risalah!

Dengan flash kamera handphone kucoba melihat judulnya. Ternyata menarik sekali. Aku menemukan sebuah skripsi yang berjudul Stimulasi Neurostasis pada Penderita Cedera Otak Traumatis. Skripsi ini disusun oleh Felisia Hastari, Mahasiswa S1 Teknik Kedokteran ITG pada tahun 1998. Wah, persis seperti yang ingin kuteliti!

Namun, ketika aku membukanya, kejadian aneh terjadi lagi. Tiba-tiba ada suara benturan keras di lantai bawah. Padahal, seharusnya sudah tidak ada orang lagi di gedung ini kecuali aku! Tidak mungkin suara sekencang itu berasal dari tikus atau kucing.

Suara itu kemudian diikuti derap langkah kaki yang sedang menuju ke atas. Semakin keras, semakin jelas seiring waktu. Dia berlari. Seseorang sedang menuju kemari!

BRAK! Suara pintu didobrak.

"Renaldi!" kata seseorang di depan pintu.

Suara itu, tidak asing. Tidak salah lagi, itu Ferdi!

"Gila! Ngagetin banget kamu, Fer! Kok tahu aku bisa ada di sini?"

"Aku tahulah bocah ambis kayak kamu tuh gimana... Keras kepala!"

"Oh, kamu khawatir?"

"Bukan apa-apa, aku cuma ngerasa ada firasat buruk dan aura yang sangat gelap di sekitar sini,"

"Tapi, kok kamu bisa ke sini? Bukannya dikunci, ya pintu masuknya?"

"Kamu, tuh yang kok bisa masih di sini? Mau cari mati di sini?"

"Mati? Apa maksudmu?"

"Iya, dulu di sini rumornya banyak mahasiswa yang bunuh diri dari gedung ini. Jadi, pasti banyak jin-jin jahat di sekitar sini! Kalau kamu nggak kuat, kamu juga bisa ikutan bunuh diri, lagi..."

Hah? Apakah benar dulu di sini banyak mahasiswa yang bunuh diri. Kukira itu hanya rumor belaka. Katanya, kalau seseorang melihat hantu di gedung ini, IPK orang itu bisa jadi 4.0. Ketika melihatnya saat ujian, otomatis dapat 100. Sayangnya, aku belum pernah melihat itu dan sama sekali tidak berminat, memang.

"Tadi udah ada gangguan-gangguan jin, kan?"

"Yah, mungkin..."

"Sudah kuduga, emang ada yang nggak beres sama tempat ini. Menurutku, itulah alasan tempat ini ditinggalkan. Tapi, aku heran kenapa gedung ini dibiarkan begitu saja. Maksudku, kenapa nggak direnovasi atau dihancurkan dan dibangun ulang?"

"Mungkin gara-gara tempat ini dulu jadi pusat penelitian penting?"

"Sepertinya begitu. Aku selalu mikir bahwa tempat ini seharusnya udah nggak ada lagi sejak lama. Tepatnya sejak pemerintah resmi menutup tempat ini. Bahkan beberapa orang mengatakan bahwa tempat ini harus dihancurkan. Entah kenapa? Apakah ada hubungannya sama mahasiswa-mahasiswa yang bunuh diri itu?"

"Aku juga berpikiran seperti itu, tapi aku nggak tahu yang pasti. Soalnya semuanya juga tutup mulut, seperti dosen, satpam, dan TU. Informasinya ya cuma dari koran lama sama diskusi netizen di Internet. Tapi, aku sama sekali ga percaya kabar picisan,"

"Aku juga, sih, tapi firasatku menolak hal itu. Pasti ada sesuatu yang terjadi,"

"Aku kepikiran sesuatu. Bagaimana kalau kita menyelidiki hal ini?"

Ferdi pun setuju. Aku memberi tahunya bahwa tempat ini adalah ruangan perpustakaan yang berhubungan dengan riset-riset yang jaya di masa lalu itu. Ia berkeliling mencari sesuatu yang bisa diselidiki, sedangkan aku mencoba mencari petunjuk dari skripsi ini. Semoga tidak ada kejadian aneh lagi.

Aku pun membaca abstraknya. Isinya adalah tentang penelitian untuk memahami cara dan fungsi kerja otak sehingga trauma dapat diatasi. Mereka mencoba membuat semacam "peta otak" yang menggambarkan bagian-bagian otak mana saja yang aktif saat seseorang mengalami trauma. Untuk melakukannya, mereka menggunakan metode neurostasis, yang aku sendiri belum tahu bagaimana cara kerjanya. Yang jelas, menurut laporan, mereka berhasil melakukannya pada tikus percobaan.

Hei, sebentar... Apa ini?

... pengujian stimulasi neurostasis pada manusia.

Yang benar saja. Apa maksudnya?

Kemudian lembar demi lembar pun kubaca. Membaca skripsi setebal 500 halaman itu serasa membaca komik yang begitu seru, sekaligus mendebarkan. Penuh hal mengejutkan, membuatku tak bisa berpaling dari memelototinya.


Semuanya benar-benar mengejutkan. Tapi tak ada lebih mengejutkan di banding bab tiga dan selanjutnya. Hal aneh lagi-lagi terjadi. Lagi-lagi aku berhalusinasi bahwa tinta yang digunakan dalam cetakan itu semuanya berwarna merah. Merah, merah, dan merah.

Aku berusaha kembali tenang. Aku berusaha menafikan pandanganku dan meyakinkan diriku bahwa aku sedang berhalusinasi. Aku teruskan untuk membaca dan alangkah terkejutnya aku! Ternyata mereka benar-benar melakukan pengujian terhadap manusia! Kebanyakan mereka berasal dari pasien rumah sakit jiwa, mungkin karena trauma yang dialami sebagian besar dari mereka.

Para peserta uji coba terlebih dahulu diberi zat sedatif dan diminta untuk menghirup cairan nitrogen beku untuk menjalani operasi neurostasis. Beberapa di antaranya seketika meninggal karena tak kuat menjalani proses itu. Namun hal yang lebih buruk dialami oleh yang berhasil bertahan.

Setelah mereka berhasil menjalani operasi tersebut, isi kepala mereka segera diteliti. Benar-benar secara harfiah diteliti! Karena pada masa itu teknologi detector EEG (electroencephalography) dan semacamnya belum ada, maka identifikasi dilakukan secara manual. Pembedahan otak manusia yang masih hidup!

Mereka secara langsung melihat denyutan bagian-bagian otak yang aktif. Menurut mereka, itu adalah reaksi jaringan neuron yang saling mengirimkan sinyal listrik, namun diperlambat hingga orde detik. Dengan begitu, mereka dapat melihat aktvitas otak dan membuat petanya.

Sayangnya, hal tersebut hanya bisa dilakukan selama beberapa menit. Karena subjek penelitian terbatas dan untuk meminimalisir korban, maka subjek tadi akan menjalani operasi tersebut beberapa kali. Di sinilah sebenarnya banyak korban yang jatuh dengan tragis.

Ada beberapa kasus di mana pembedahan tidak dilakukan secara sempurna sehingga subjek meninggal dengan otak tersayat-sayat. Ada juga kasus di mana pendinginan tidak berlangsung dengan sempurna dan akhirnya mengalami pendarahan yang hebat. Yang paling menakutkan adalah subjek yang tiba-tiba tersadar di tengah operasi dan memberontak. Bahkan, disebutkan dalam lampiran bahwa seorang tenaga laboratorium meninggal akibat serangan manusia gila yang kepalanya separuh terbuka.

Di akhir lampiran, terdapat beberapa catatan kecil. Sepertinya itu ditulis sendiri oleh pengarang.

Kumohon hentikan kegilaan ini!
Siapapun, jangan biarkan tragedi ini terus berlanjut!
Ini pembantaian, bukan penelitian!
Tapi, aku terpaksa harus menuntaskan pekerjaan ini.
Aku menyesal, menyesal...
Aku harap aku bisa segera pergi ke neraka agar Tuhan segera membakar dosa-dosaku...

Astaghfirullah! Astaga!

Di balik itu risalah itu, di cover belakangnya, tertempel sebuah koran tahun 70-an. Isinya adalah tentang berita meninggalnya mahasiswa ITG akibat bunuh diri. Ia meninggal setelah lompat dari lantai empat gedung ini. Banyak yang terkejut bahwa seorang gadis yang ramah dan jenius ini bisa meninggalkan dunia begitu saja dengan tiba-tiba di akhir kelulusannya.

Aku sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Aku sudah tidak peduli dengan skripsi ini. Yang kupikirkan adalah bagaimana caranya agar aku bisa keluar dari sini. Semua ini membuatku gila!

Tiba-tiba Ferdi tersungkur dihadapanku. Aku semakin panik. Rasanya nyawa sudah ubun-ubun, hendak melarikan diri dari ini semua. Terpaksa aku harus menggendongnya. Aku berlari, menuruni tangga demi tangga.

Suara dan penampakan itu semakin jelas. Pembantaian yang dikatakan Felisia Hastari itu sudah menjadi film yang berputar di dalam otakku. Kadang aku seakan melihat otak dan darah yang bececeran di sepanjang jalan di depanku. Semakin dekat ke lantai satu, semakin menggila dan tiba-tiba.

Manusia zombie dengan separuh kepalanya terbuka menghantuiku di depan mata. Entah mengapa hal itu terasa begitu nyata. Ia mengejarku sambal membawa pisau bedah. Aku hanya bisa melarikan diri. Lari dan lari. Akhirnya aku berhasil ke luar gedung itu.

Aku cek jam di handphone dan menunjukan pukul 2 pagi. Satpam-satpam pasti sudah selesai berpatroli dari daerah belakang ini. Arinya, tidak ada siapa-siapa lagi. Aku mencoba ke depan mencari bantuan.

Tapi di saat aku menoleh ke belakang, Ferdi tiba-tiba menghilang. Aku tidak sempat untuk mencarinya karena lebih khawatir akan keadaanku. Aku pun lari dan tiba-tiba dia ada di depanku. Tapi bukan Ferdi tadi! Zombie bermuka Ferdi yang tiba-tiba menyerahkan skripsi itu padaku. Aku hampir pingsan, tapi aku berlari sekuat tenaga sampai akhirnya aku tertabrak oleh sesuatu dan pingsan.

Ketika aku bangun, aku berada di rumah sakit. Ferdi tertidur lesu disampngku bersama beberapa teman-teman yang lain. Kali ini, Ferdi yang normal, bukan zombie itu. Tapi entah kenapa dia seperti lupa ingatan. Katanya aku sedang terkena demam sejak seminggu lalu dan tak sadarkan hari selama dua hari ini. Dia sama sekali tak mengingat kejadian itu, ataupun mengenai gedung itu.

Sejak saat itu, aku pun memutuskan untuk melupakannya juga. Benar-benar mimpi buruk yang harus dilupakan. Sayangnya, mulai sejak itu pula aku selalu merasa takut untuk masuk kuliah. Agar aku bisa benar-benar melupakan kejadian itu, aku memutuskan untuk mengambil cuti beberapa semester.

***

Ah, lelah sekali mengerjakan revisian skripsi ini. Tapi, masih banyak hal yang belum terselesaikan. Sementara itu, Pak Budi masih asyik ber-youtube ria di depan laptopnya.

"Pak, sudah jam 11 dan saya butuh istirahat,” kataku dengan sedikit mengantuk. Sejak setahun ini, aku jarang sekali begadang dan banyak istirahat memang.

“Boleh aja istirahat, asalkan beres," ujar Pak Budi dengan kejamnya.


"Ya ampun, Pak... Tapi saya udah capek dan ngantuk banget, Pak... mana bisa ngerjain kalau begini,"

"Ya ampun, biasanya aja begadang nonton anime kuat, ngerjain ini masak ga kuat," sambil melirikku. Ia tak berkata apa-apa lagi, hanya menatapku tajam.

"Ya Allah... iya deh, pak, iya..."

“Hahaha... Bapak mau keluar buat beli makan buat kita, kalau gitu..."

"Terserah Bapak, deh..."

Kemudian Bapak itu pergi keluar. Terdengar suara benda jatuh.

"Pak, Pak, Pak... uang atau kunci mobil bapak jatuh, tuh..."

Tetapi beliau tidak mendengarku. Ternyata yang jatuh bukanlah uang atau kunci, melainkan sebuah pena. Bukan bekas revisi, tetapi persis seperti penaku setahun lalu. Aku kembali duduk, mencoba tenang, dan kembali mengetik draft revisianku.

Hei, apa ini PDF, aku sepertinya tidak pernah membukanya.

Kubuka PDF itu dan isinya ...

Stimulasi Neurostasis pada Penderita Cedera Otak...