Sabtu, 22 Juni 2019

[Teman Daring]

“Assalamu’alaikum, bro. Udah lama, ya… Alhamdulillah, berkat bantuanmu aku bisa keterima di UGM!”
“Waalaikumussalam. Wah, iya, hehe. Tapi kamu berlebihan, ah. Aku kan cuma belajar bareng aja di situ. Tapi, syukurlah kalau kamu diterima di sana, bro!”
“Wah, kamu ini suka merendah terus, ya di grup. Kalau kamu diterima di mana?”
“Aku alhamdulillah di UI”
“Wah… keren, keren…”

Begitulah isi chat dari si Niko, teman daringku (online). Sebelumnya kami belum pernah bertemu satu sama lain. Kami tinggal di dua kota yang berbeda yang jaraknya sangat jauh. Bahkan wajah satu sama lain pun tidak tahu karena kami menggunakan profpic kutipan motivasi dan anime. Kami bisa bertemu dan berteman begini awalnya dari sebuah grup Whatsapp tentang belajar UN dan SBMPTN yang terbuka untuk seluruh siswa di Indonesia. Aku menemukan link grup tersebut dari sebuah grup Facebook tanya jawab soal SMA. Awalnya aku hanya iseng saja masuk grup tersebut. Tapi, berhubung aku tidak mengikuti bimbingan belajar atau mempunyai teman belajar bersama, aku berniat untuk belajar bersama daring yang gratis untuk persiapan UN dan SBMPTN.

Kemudian di grup tersebut, orang-orang saling berbagi soal-soal dan berdiskusi menjawabnya. Di sana banyak orang-orang hebat, seperti anak-anak OSN. Tapi karena aku juga ingin belajar dan berlatih untuk menghadapi ujian-ujian tersebut, aku juga tidak mau kalah aktif menjawab setiap pertanyaan. Lama-kelamaan, aku mulai diandalkan di grup tersebut. Bahkan mereka satu per satu mulai men-DM-ku. Salah satunya adalah Niko. Di antara banyak orang yang hanya ingin bertanya soal, hanya Niko yang tiba-tiba mengajakku berteman.

***

“Sekarang, gimana kabarnya, Ki?”
“Sehat, alhamdulillah. Kamu?”
“Sehat juga.”

Setelah kami saling menceritakan cerita kami yang masing-masing diterima di universitas yang kami impikan, kami kehabisan bahan obrolan. Niko sempat mengeluh. Padahal kami dulu bisa bicara segala hal, bukan hanya bahas soal ini itu saja. Dan bagiku, itu adalah pengalaman pertamaku untuk bisa sedikit terbuka kepada orang lain. Aku baru pertama kali ini bisa berbicara mengenai kegemaranku, pengalaman pribadi, keluargaku, pandanganku, bahkan cita-citaku. Aku belum bisa berbagi tentang orang yang kusuka, walaupun ia blak-blakan dan cenderung pamer.

“Nik, gimana nih gebetanmu? Keterima di mana dia sekarang?”
“Hmm, aku belum tahu kabarnya. Tapi kuyakin dia keterima di univ yang dia inginkan juga. Tidak, pasti dia keterima. Dia pasti bakal satu univ sama aku, terus akhirnya bisa kudeketin sampai lulus dan ahirnya kita bisa pacaran, terus nikah. Hehehe… Kalau kamu? Masih jomblo aja kah? Apa kamu itu ga ada ketertarikan yanh sama yang begituan dan kerjaannya belajar terus?”
“Hahaha… Yang benar aja, bro. Yah, nanti lah pas abis kuliah lihat aja. Siapa tahu aku yang malah nikah duluan, hahahaha…”
“Ah, kamu ini masih kayak dulu, ya… Tertutup sih, kamu, makanya jomblo…”
“Hahaha, bisa aja…”

Aku sedih bahwa kenyataannya aku selama ini hampir lupa kepadanya. Itulah yang menyebabkan bahan obrolan kami cepat habis dan tak seramai dulu.

Setelah UN, grup WA tersebut cenderung sepi. Orang-orang sedang ingin agak bersantai dan menanti pengumuman SNMPTN atau masuk PTN jalur undangan. Sementara itu, SBMPTN masih sekitar 2-3 bulan lagi. Tidak ada lagi orang-orang yang meminta bantuan mengerjakan soal atau menanyakan materi tertentu.

Di saat itu, aku juga mulai jarang memerhatikan grup dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya, termasuk Niko. Aku fokus belajar, belajar, dan belajar di kamar.

Suatu ketika, aku mendapatkan notifikasi tentang chat dari suatu nomor tak dikenal. Pesan itu seperti berasal dari orang yang salah nomor.

“Assalamualaikum, bro! Dichat kok ga balas-balas? Gimana kabarnya?”

Kemudian aku cek profpic dan nama penggunanya, tak ada keterangan. Aku tidak mengenal siapa orang ini. Lalu, mengapa dia tiba-tiba seperti marah? Ah, pasti benar dia salah nomor.

“Waalaikumussalam. Maaf, ini dengan siapa, ya?”

Kemudian ia membalas dengan huruf yang dikapital semua.

“ASTAGA!!! LUPA SAMA AKU, BRO??!!”

Aku mencoba mengingat-ingat, barangkali teman sekelas? Teman seangkatan? Oh, atau jangan-jangan kakak kelas yang sudah alumni?

“Maaf, kak. Saya Kiki Ramdan, kelas 12-A. Mohon maaf lagi, ini dengan siapa?”
“Wah, hahahhaha… Jadi kamu beneran lupa sama aku, Ki???”

Ingin sekali kublokir orang yang mencurigakan dan menyebalkan ini. Tapi, dia segera menjawab.

“Aku, Niko, bro!”

Hmmm… Nik, Niko, Niko, Niko, Ni…

“ASTAGHFIRULLAH!!! MAAPP!!!”

***

Aku kira, Niko akan kecewa dan tidak mau lagi berteman denganku. Aku sudah lupa kepadanya hampir tiga kali. Waktu itu, setelah SNMPTN, dan hari ini. Tapi, entah kenapa dia masih mau menghubungiku. Padahal, kami saja berbeda jurusan, berbeda universitas, berbeda provinsi pula. Kemungkinan kita bisa bertemu juga kecil. Aku bahkan sempat berpikir pertemanan ini pada akhirnya akan gagal.

Karena sebelumnya aku belum pernah berteman, aku pun semakin tidak yakin bahwa ini berhasil. Kenyataannya aku adalah anak yang pendiam dan tidak pandai bersosial. Bukannya aku tidak mau bergaul dengan yang lain. Cara bicaraku yang lambat dan tak teratur ini membuat lawan bicaraku tak nyaman. Aku sangat benci melihat raut wajah mereka yang kebingungan. Aku pun sering berwajah muram, sehingga menambah ketidaknyamanan mereka.

Namun, aku sedikit lebih bersahabat di dunia maya. Dengan berbagai aplikasi chatting media sosial itu, aku bisa mengobrol tanpa melihat secara langsung raut wajah yang menyebalkan itu. Aku juga bisa berkomunikasi dengan lebih teratur dengan menulis. Orang-orang juga kelihatannya senang dengan aku versi daring ini.

Sayangnya justru karena itu aku takut sekali jika menjalin hubungan di sana. Aku hanya ingin bergaul biasa, tidak lebih dari itu. Aku takut kalau mereka berteman denganku kemudian tahu aku yang asli seperti apa, mereka akan menjauhiku seperti yang lain. Aku hanya tidak ingin tersakiti. Rasanya terlalu pedih jika ditinggalkan, terlebih dengan wajah-wajah kecewa seolah-olah kita menipu mereka.

“Nik, maaf. Bukannya aku sengaja ngelupain. Aku orangnya emang pelupa. Terus, HP-ku juga ganti, jadi, nomormu ga ke-save…”
“Wah, ngga kamu simpen di kartu SIM? Atau aku emang ga sepenting itu, ya? Aku itu temenmu, lho!”

Aku terkejut. Kenapa dia masih saja berharap untuk berteman? Apa dia yakin melanjutkan pertemanan yang rapuh ini? Bukannya lebih mudah untuk abai dan akhirnya melupakan satu sama lain? Lagipula dengan begitu, sakitnya juga tidak terlalu terasa, bukan? Aku ingin jujur, tetapi takut melukai perasaannya.

“Tenang, Ki. Aku tetap akan ingat kamu sampai kapan pun, walaupun kamu mungkin lupa sama aku. Aku berterima kasih banget sama kamu karena mau bantu aku soal pelajaran. Kamu baik banget, padahal kita ga kenal, ga tahu satu sama lain. Kamu juga orang yang tertutup, sama kayak aku. Tapi justru karena itu, aku ngerasa tenang. Aku pikir akhirnya aku punya teman,”

Apa? Jadi dia sama sepertiku? Aku benar-benar meremehkan janjinya dulu untuk “menjadi teman sampai kapan pun”. Ternyata dia serius. Dia sungguh serius berteman karena aku dianggapnya sebagai teman pertamanya, mungkin satu-satunya juga. Memang terdengar sangat bagus, tetapi ini berlebihan.

Bukannya aku tidak percaya dengannya atau tidak suka berteman dengannya. Kita harus realistis. Aku saja tidak yakin masih bisa berhubungan dengan teman SD, SMP, atau SMA-ku, saat aku nanti kuliah, bekerja, mempunyai keluarga sendiri, dan sebagainya. Apalagi sekadar teman daring.

Walaupun begitu, mengetahui kejadian seperti ini, aku pun mulai percaya padanya. Aku juga mulai percaya akan ketulusannya. Walaupun aku tidak mengerti apa dan bagaimana seharusnya itu berteman, aku akan berusaha sebaik mungkin. Itu karena dia juga adalah teman pertamaku.

***

Sudah satu tahun aku lulus kuliah dan Niko tak lagi memberi kabar. Dulu dialah yang selalu mengawali obrolan. Dia selalu menyapaku terlebih dahulu. Kemudian, aku mulai sadar akan kekeliruanku setelah tahun kedua kuliah. Aku menghubunginya sekali, dua kali, dan tiap bulan. Lama-lama aku lelah dan akhirnya menyerah. Haha, ternyata realitas juga menghantam dirinya rupanya. Tapi, aku tidak akan kecewa. Aku tidak akan melupakannya seumur hidupku.

Dia adalah orang yang pertama kali mengajarkanku tentang pertemanan. Intinya adalah kita harus saling percaya: percaya padanya dan percaya bahwa mereka juga percaya pada kita. Berkat itu, aku mulai mendapat banyak teman, sahabat, bahkan kekasih. Aku sangat berhutang budi pada Niko. Bantuanku dulu tak seberapa dibandingkan bantuannya yang kurasakan hingga kini.

Tak terasa istirahat makan siang pun selesai. Aku harus kembali bekerja. Aku harus segera kembali ke realita. Aku ingin angin yang berhembus di rooftop ini bisa membawa perasaanku ini, lebih baik daripada jaringan telepon dan internet.

Yah, sampai jumpa lagi teman daring-ku! Aku yakin kita pasti akan bertemu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar