Rabu, 03 Juli 2019

[Green Moon] - Bagian 2.1

Pangkalan Bulan Tiongkok HE-103, 5 Januari 2026

“Benar kata Elon Musk. Ternyata kita adalah Von Neumann machine, hahahaha…” kata Komandan Guang Hong.
“Maksudmu, kita adalah mesin yang dikirim alien untuk menggandakan kehidupan di Bumi?” sahut Mayor Zang.
“Kalau menurutku, kita tak lain hanyalah ‘sel sprema’ yang sedang ‘membuahi’ Bulan,” kata Letnan Yui Chen.
“Hahaha… menarik sekali kamu bisa menghubungkannya dengan pemikiran James Lovelock itu… Hipotesis Gaia, kah?” tanya Komandan Guang Hong.
“Jangan-jangan Bumi, Bulan, dan seluruh alam semesta adalah makhluk hidup, ya Komandan? Masing-masing dilahirkan, mati, menggandakan diri, dan membuat keajaiban seperti ini,” sahut Letnan Yui Chen.
“Hahaha… kau benar sekali, Letnan Yui Chen. Sekarang, keajaiban itu benar-benar ada di depan kita!”

Mereka bertiga akhirnya sampai di bulan. Di depan terdapat ladang-ladang hijau tempat kehidupan berada di tengah gurun gersang yang kadang beku, kadang seperti neraka. Mereka mendarat di daerah dekat kutub Utara, di mana air terdapat dalam bentuk es dan intensitas cahaya matahari lebih tinggi. Untuk mendapatkan air, mereka mencairkannya dalam wadah tertutup bertekanan khusus dengan menggunakan energi matahari. Kemudian, sebagiannya dibiarkan menguap dengan proses fotolisis yang menghasilkan gas hidrogen untuk bahan bakar dan oksigen untuk bernafas. Sebagian oksigen digunakan untuk respirasi berbagai mikroba yang akan menghasilkan hasil samping berupa gas CO2 dan berbagai nutrien yang sangat dibutuhkan tanaman untuk berfotosintesis. Semuanya saling berhubungan dan membentuk siklus yang berkelanjutan. Jadi, tempat ini bukan hanya tempat terideal untuk sebuah ladang, melainkan ekosistem!

Benar-benar suatu hal yang luar biasa untuk mengetahuinya, apalagi melihatnya dengan mata kepala sendiri. Setidaknya itulah yang dialami oleh Letnan Yui Chen yang baru pertama kali menginjakkan kakinya di Bulan. Ia sangat terpukau dan tercenung begitu lama. Senyum lebarnya yang tak dapat ia sembunyikan membuatnya tersipu dilihat Komandan Guang Hong dan Mayor Li Zhang. Bagi veteran seperti mereka, ini hanyalah kesenangan kecil yang membuat mereka sedikit bernostalgia. Misi ini memang berat, tetapi semua ini setara dengan tiket pertunjukan sebuah mukjizat yang hebat.

Sambil berjalan menuju area ladang, Letnan Yui Chen tak berhenti-hentinya melihat pemandangan sekitar. Selain takjub dan penasaran, ia juga mengumpulkan informasi dan mencoba menganalisisnya. Di samping kiri-kanan, terdapat robot-robot yang sedang bekerja menambang tritium dan pabrik-pabrik besar yang mengolahnya. Cerobong pabrik itu mengeluarkan asap-asap hitam. Asap itu diluncurkan ke atas dan lepas begitu saja ke ruang angkasa karena gravitasi bulan yang rendah. Sebagian kecil, berupa material bermassa jenis tinggi, jatuh kembali ke permukaan menjadi bercak-bercak hitam yang menjadi polusi di sana. Kemungkinan polusi itulah yang menyebabkan keanehan di ladang.

Setelah berjalan sekitar 30 menit, mereka akhirnya sampai di depan area ladang.

“Hahaha… akhirnya kita sampai. Baik, karena di sini ada banyak tempat, kita bagi saja tugasnya. Mayor Li Zhang, tolong periksa ruang kontrol, pengelolaan sistem, dan lumbung. Letnan Yui Chen, ikut aku memeriksa fasilitas habitasi ini dan semua plantnya!”
“Siap, Komandan!”

Mereka bertiga pun mlai berpencar dan menyelidiki tempat masing-masing.
***

Senin, 01 Juli 2019

[Produktif]

Huhhh, malam ini begadang lagi. Mau bagaimana lagi, besok ujian dan ada tugas artikel sepuluh halaman. Oiya, jangan lupa belajar sedikit untuk persiapan ngasprak. Kalau tidak belajar, bisa-bisa aku terkena marah senior lagi dan mendapat hukuman. Jika mendapat hukuman, aku harus mengerjakan konsekuensinya. Akhirnya aku tidak punya waktu lagi dan harus begadang lagi besoknya. Waduh…

Hei! Bukan saatnya mengeluh! Pekerjaanmu masih banyak dan belum selesai. Sadar! Sadar! Saadaa…

HoAhMmm… TiDUr DuLu sAjA… Ah... 

BRAK!

“Za! Bangun, Za!” kataku berteriak.

Seketika mata-mata tajam menatapku dari segala arah. Mereka kesal dan mengacungkan jari telunjuk di depan mulut dan berdesis panjang.

SSSSSSSSSSSTTTTT....

Yosh, adrenalinku terpompa dan listrik 1300 MW mengalir di jejaring syaraf otakku. Terima kasih tuan-tuan sekalian, mohon maaf mengganggu. Terima kasih juga petugas perpustakaan yang berbaik hati tidak mengusirku. Aku tahu ini sudah malam dan sebentar lagi akan ditutup, tapi mohon pengertiannya.

Aku buka lembar-lembar buku.

“Hmm, sampai mana tadi?” aku berbicara sendiri.

“Oh, fungsi Bessel dan solusi persamaan diferensial”

“Begini… oh, begini… hmm, jadi begitu… oke, oke… ashiapp” ujarku saat membaca materi dengan kecepatan satu halaman per detik.

Dari arah jam 2, seseorang berjalan mendekat kemari. Ia menjinjing laptop dan mendekap buku di dadanya. Dia teman kuliahku, tapi dari jurusan lain. Sepertinya, dia bernasib sama sepertiku. Wajar saja, sih soalnya dia memang tipe-tipe aktivis kampus berprestasi yang jarang pulang malam. Iya, soalnya dia pulangnya pagi dini hari.

“Lho, Za. Ngapain kamu? Biasanya habis kuliah langsung pulang?”

“Nasib, Ndre. Besok ujian, terus ada tugas. Belum persiapan ngasprak,”

“Kenapa nggak di kosan aja?”

“Ntar malah tidur, ga ngapa-ngapain di sana, mah,”

Dia duduk di sampingku, menyalakan laptop. Tangannya meraih pena dan kertas. Tanpa basa-basi, ia melanjutkan pekerjaannya. Wow, bisa pindah mode secepat itu, ya? Kalau aku, mah minimal buka HP dulu 5 menit, terus kalau laper, nyemil dulu. Eh, kalau belum makan, makan dulu. Terus minum lagi. Buka laptop, terus keinget HP main lagi. Ya, kira-kira booting-nya setengah jam, lah minimal.

Sambil mengetik dan mencatat tugasnya, ia mengajakku mengobrol.

“Oh, jadi itu alasanmu ke sini. Tapi, menurutku kalau tipe-tipe kamu, mah tetep ga produktif di sini,”

“Bentar, bentar, tipe-tipe aku? Jangan menilai orang seenaknya, dong!”

“Sabar, sabar. Bukan itu, maksudku. Kalau di sini, tempatnya ga enak. Ramai, banyak orang, susah konsentrasi. Terus ga ada tekanannya. Lagipula, mau ditutup sejam lagi, kan?”

“Iya, sih. Tapi, kalau milih tempat yang ga ramai mah di kosan, lah”

“Ya, ga gitu juga. Kosan itu banyak hawa nafsunya. Apalagi kasur.”

“Lha, terus di mana?”

“Mau tahu? Yuk ikut aku jalan-jalan!”

“Ha? Jalan-jalan? Tapi tugasku masih banyak!”

“Tenang aja, kita nanti jalan-jalan ke tempat lain buat ngerjain tugas, kok. Aku kasih rahasia nih tempat yang bisa bikin kita nyaman sekaligus produktif”

“Wah… Beneran? Oke, deh”

Andre menutup laptop dan membereskan barang-barangnya. Aku pun begitu. Kami pun pergi ke luar perpustakaan dan meninggalkan kampus. Kami berjalan kaki menyusuri trotoar di tepi jalan raya yang semakin sepi karena larutnya malam. Tapi tidak dengan simpang empat di ujung jalan. Di sana kelihatan ramai sekali di pinggir-pinggir jalan. Banyak warung dan pedagang kaki lima di sana. Aku bingung sebenarnya kami ini mau ke mana, kok harus ke sini.

“Makan yuk, Bro?”

“He??? Di sini? Ngerjain tugas di warung pinggir jalan begini?”

“Ayolah, makan dulu, Za. Kamu belom makan, kan tadi? Sebelum kelaparan, hehe…”

“Kelaparan? Apaan sih? Aku lagi belum laper dan sengaja buat laper biar ga ngantuk,”

“Udah, ini termasuk strategi biar produktif itu, lho… Nah ini, namanya efisiensi”

“Ah, bodo, ah. Terserah mastah mau bicara apa…”

Aku yang sebenarnya memang tidak benar-benar lapar, memasang setengah porsi nasi pecel. Aku juga memesan air tawar, agar tak kebanyakan gula dan membuatku mengantuk. Andre memesan nasi ayam dan es teh manis, dan sambil mengerjakan tugas? Gokil betul anak ini. Sepertinya dia sudah terbiasa dan menjadi ahli. Tentu adegan ini tidak bisa kutiru begitu saja.

Sambil mengerjakan tugas, sesekali ia memegang hapenya dan menerima panggilan. Dia menjawab setiap panggilan dengan baik dan lancar, walaupun itu berbeda-beda topik. Ada yang mengusiknya tentang masalah BEM, menjelaskan rapat unit, kepanitiaan suatu acara, lomba karya tulis, sampai curhat.temannya. Wah, tak kusangka dia bisa sehebat itu, padahal dia bukan mapres. Apalagi yang jadi mapres, ya?

“Hei, Za, kok bengong aja. Ayo makan cepet, biar bisa segera belajar dan ngerjain tugas!”

“Habis, ini kita mau ke mana?”

“Udah, makan dulu. Jangan banyak tanya, dah!”

“Haishh… Iyak, iyak, iyak.”

Baik sekali hari ini dia mentraktirku. Setelah membayar semuanya, kami pun melanjutkan perjalanan ke arah kanan dari persimpangan tadi. Dari sana, kami berjalan 70 meter dan belok ke kiri. Ia mulai menunjuk suatu kafe di ujung jalan. Kulihat jam tanganku menunjukkan pukul 22.00. Hmm, apakah aku benar-benar bisa belajar dan menyelesaikan sepuluh halaman ini?

Kami pun masuk ke kafe itu. Tempatnya terang dan tidak terlalu ramai. Kebanyakan pengunjung di sini sepertinya anak kuliahan. Ada yang bermain game, pacaran, nongkrong, dan lain-lain. Wah, baru tahu kalau anak kuliahan mainnya ke sini. Dasar, aku anak kuper!

Tapi, ternyata kita tidak duduk di tempat orang-orang tadi. Andre menunjukkan tempat tempat rahasianya, yaitu sebuah ruangan agak bersekat-sekat dan suasananya lebih tenang. Hawanya tidak terlalu panas ataupun dingin. Pencahayaannya juga pas, hanya menerangi spot-spot tertentu saja. Sepertinya, ini benar-benar tempat luar biasa untuk belajar…

Pacaran.

Sial, di sini malah kebanyakan orang yang pacaran. Mentang-mentang suasananya romantis dan agak gelap-gelap begitu.

Kami pun duduk berdua di pojok dan memesan pada pelayan.

“Hei, Ndre. Ternyata, kamu pintar-pintar begini, ternyata kelihatan aslinya ya. Hmm, nggak kaget, sih soalnya orang-orang yang hebat itu emang aneh-aneh”

“Hei, hei, jangan ngawur kamu, Za! Siapa juga yang minat sama kamu!”

“Tuh, kan! Homo! Hahaha… aku foto, terus story IG, terus tulis, ‘bersama MaHo’… Hahahaha”

“Naudzubillah… Udah, udah. Jangan terpengaruh sekitar! Biarin orang lain pada pacaran, tapi kita belajar. Aku kalau keos selalu ke sini buat ngatasin kekeosan itu. Dan itu sendiri, woi!”

“Hahaha… oke, deh. Tapi ngenes juga, yak ga ada yang nemenin. Eh, btw kita kudu pesen apa? Kan udah makan?”

“Itulah sebabnya kita sudah makan, teman. Seperti yang Anda tahu di sini makanannya harganya selangit-selangit. Kalau makan di sini pasti kita bangkrut, teman. Maka dari itulah kita perlu strategi efisiensi seperti tadi…”

“Oo… Seperti itu, terus kita pesen apa di sini? Minumnya juga delapan belas ribuan paling murah.”

“Salah, teman. Coba lihat ujung paling atas bagian kanan, yang hampir ketutupan sama penjepit kertas. Ada air putih.”

“Buset! Air putih goceng?”

“Jangan dilihat air putihnya, bung. Tapi, lihatlah apa yang kita dapat. Tempat nyaman. Belajar beres. Tugas beres. Itu…”

“Gayamu kayak Mario Teguh. Tapi, apa ga mal..”

“Udah, ah ngobrolnya! Kalau malu ya udah pesen minuman lain yang delapan belasan ribu itu. Jangan lupa kalau pesen, aku juga ya. Traktir juga, biar impas.”

“Tapi, tapi, tapi…”

Kami akhirnya pesan dua gelas air putih. Dari raut muka pelayan yang mengantar pesanan yang datar dan mata yang memicing terlihat jelas keheranannya yang bercampur kesal. Apalagi ketika melihat Andre, tatapannya seperti pembunuh berdarah dingin yang siap membunuhnya kapan saja. Ternyata uratnya sudah putus sejak lama, ya urat malunya si Andre.

Aku terpaksa memesan minuman yang lain lagi. Setelah itu, aku mulai belajar dan mengerjakan tugas. Awalnya canggung dan malu, belajar di tempat seperti ini. Kayak orang yang ambis saja. Tapi, kata Andre, ini sangat efektif untuk semua orang, khususnya para milenial. Katanya ini sudah menjadi solusi yang populer bagi para milenial yang lebih suka menyendiri, tapi tidak produktif. Dengan berada di luar dan nyaman, mereka akan lebih efektif bekerja. Memang, modern problem requires modern solution.

Wow, tidak terasa sekarang sudah pukul 2 pagi. Aku sudah belajar semua untuk ujian dan asisten praktikum nanti, juga tugasku sudah selesai. Ya, memang agak lupa-lupa sedikit sih. Wajar karena belajar di waktu yang mepet-mepet. Tetapi ini lebih baik daripada tidak belajar sama sekali akibat tewas di atas kasur.

Kulihat si Andre masih sibuk telfon-telfonan sambil mengerjakan tugas. Sepertinya ia masih sedikit lama di sini. Dasar, mau sampai subuh dia di sini? Memang mastah mah beda!

Ahbodohlah… Aku sudah sangat capek dan mengantuk. Aku bilang pada Andre untuk pulang lebih dulu. Aku berjalan agak gontai, bagaikan pulang dari suatu pertempuran. Tapi, kali ini dengan membawa kemenangan. Aku tersenyum dan melangkah keluar.

Saat kualihkan pandangan sebentar, aku melihat masih ada seseorang yang berada di ruangan private itu selain Andre. Dia sendiri dan sedang mengerjakan sesuatu dengan laptopnya. Tidak, sepertinya aku mengenalnya. Dia tidak asing.

Sial, aku kepergok mengamatinya.

“Andre!”

TAMAT

Credit for My Friend's NID

[Vision Memory]

Suatu hari, Andi pergi ke suatu pameran teknologi di Kota Bandung. Di sana terdapat banyak karya teknologi yang lumayan menarik buatan mahasiswa lokal, khususnya mahasiswa ITB. Ada robot yang bisa bermain sepakbola, menari tradisional, membantu penyebrang jalan, sampai mencuci-mengeringkan-dan-menyetrika pakaian otomatis.

Wah, benar-benar membantu sekali, terutama buat mahasiswa pemalas, seperti aku, katar Andi berkomentar.

Ada juga drone untuk pemadam kebakaran, pengintai keamanan, pemantau kebakaran hutan, sampai pemantau kapal asing.

Wah, keren… bakal mudah ditenggelamkan’ nih pencurinya,” gumamnya. 

Selain itu banyak juga teknologi virtual yang dipamerkan di sana. Kebanyakan teknologi tersebut digunakan untuk edukasi dan hiburan alias game. Salah satu yang membuat Andi tertarik adalah karya teknologi yang satu ini. Sebuah kacamata “penganalisis” yang bisa memberikan efek AR (augmented reality) yang menganalisis dunia nyata.

“Kalau kacamata lain membuatmu dapat melihat dunia lebih jelas, kacamata ini dapat melihat dunia lebih rinci,” kata mahasiswa yang mencoba menjelaskan alat ini. Kemudian ia menyalakan laptopnya dan menayangkan simulasi dari apa yang akan kita lihat juga menggunakan alat ini.

“Nah, dengan kacamata ini, kalian seolah-olah seperti dalam game seperti GTA, Minecraft, atau game-game survival lainnya. Di sana ada terdapat keterangan kesehatan tubuh kita, keadaan mental kita, bahkan barang atau uang yang sedang kita bawa. Kita juga bisa melihat agenda atau kegiatan apa saja yang harus kita lakukan setiap hari, minggu, atau bulan. Jika target kita berjangka waktu tahunan, hal itu seperti mimpi, bukan? Nah, alat ini berarti juga bisa membantu kita mewujudkan mimpi…”

Andi pun terkagum-kagum akan hal tersebut. Tetapi, ia penasaran bagaimana alat ini bisa melakukannya. Ia pun bertanya kepada mahasiswa itu.

“Kak, data-data itu diperoleh dari mana memangnya, kak? Dari gelombang otak, ya?”

Mahasiswa itu pun menjawab.

“Tepat sekali. Semua aktivitas tubuh kita dikontrol oleh otak. Otomatis data mengenai kondisi tersebut juga diperoleh otak. Sel-sel otak yang bekerja kemudian saling mengirimkan sinyal listrik yang dapat dibaca oleh pemindai gelombang elektromagnet yang ada di kedua sisi kacamata ini. Kemudian sinyal tersebut dianalisis oleh mikroprocessor di kotak bagian kiri untuk selanjutnya ditampikan melalui miniprojector di kedua lensa kacamata ini. Sumber daya listrik untuk menjalankan semuanya diperoleh dari baterai isi ulang yang berada di kotak sebelah kanan

Andi pun terkesima akan hal itu. Di antara semua benda yang dia lihat, kacamata inilah yang paling keren.

“Kak, kak… boleh aku mencobanya?”

“Oh, tentu saja. Tapi, hanya satu orang saja, ya…” kata mahasiswa itu yang sedang menenangkan gerombolan pengunjung lain yang juga ingin mencoba kacamata itu. Kelihatannya ia kewalahan menjawab pertanyaan mereka sambil melindungi kacamata yang hendak menjadi rebutan. Sayangnya, pengunjung terlalu banyak dan bringas sehingga kacamata tersebut pun terjatuh.

Sambaran arus listrik sekilas muncul akibat guncangan ketika kacamata itu jatuh. Namun, tidak ada yang menyadari hal tersebut kecuali Andi. Ia lantas memungut kacamata yang terjatuh itu dan memakainya. Sesuatu yang buruk pun terjadi.
“Aaaarrrghhhh….”

Andi bagaikan orang yang tersengat seribu lebah. Ia tampak begitu kesakitan sambil memegang kepalanya berputar-putar hebat sementara tubuhnya tak terkendali. Semua orang panik dan kabur melihat Andi yang menyerang semuanya seperti zombie. Sementara itu, mahasiswa tadi menampakkan wajah yang begitu cemas dan kebingungan. Mungkin ia tak percaya bahwa alatnya itu ternyata berbahaya. Padahal, selama ini belum pernah ada yang terluka mencobanya. Tapi sekarang ini bukan waktunya memikirkan hal tersebut. Ia harus segera memikirkan bagaimana cara menyelamatkan Andi.

Ia pun hanya menunggu Andi sampai tenaganya habis dan kelelahan. Kemudian, ia harus segera melepas kacamata itu dan membawa Andi ke rumah sakit terdekat. Sementara rekannya mencoba menganalisis dan memperbaiki kacamata itu, ia menunggui Andi di sana.

***

Sistem, mengaktivasi…

Pengecekan sistem…

Status sistem: agak buruk

Kesadaran: 5%

Detak jantung: …

“Suara apa ini? Berisik sekali… Di mana aku? Ada apa denganku?”

Kesadaran: 90%

Mengaktifkan mode semi-otomatis: audio saja.

Ketika Andi membuka matanya, ia sedang berada di atas ranjang rumah sakit. Di sampingnya terdapat seorang mahasiswa yang sepertinya pernah ia kenal. Ia tidak begitu ingat mengenai insiden sehari yang lalu. Tiba-tiba suara aneh itu berbunyi lagi.

Mengidentifikasi: Kak Yuna. Mahasiswa ITB. Jurusan Teknik Fisika. Bertemu: tanggal 28 Juni 2025 sekitar pukul 10.00-12.00.

“Hei, hei, siapa tadi yang berbicara? Apa itu suara otakku?”

Tidak ada jawaban. Andi berpikir bahwa ia sedang berhalusinasi. Sekarang, yang ia tahu hanyalah bahwa ia baru saja mengalami kecelakaan. Mungkin kecelakaan itu mencederai otaknya dan membuatnya berhalusinasi.

Kemudian, Yuna, mahasiswa itu, bangun.

“Alhamdulillah, kamu sudah bangun. Saya mohon maaf, ya dik atas kejadian kemarin.”
“Hah, kejadian kemarin? Memangnya ada kejadian apa kemarin, kak?”

Menganalisis…
Kejadian satu hari lalu, tanggal 27 Juni 2025. Subjek tak sadarkan diri setelah menyentuh kacamata “penganalisis” yang jatuh ke lantai.

“Hah, kacamata ‘penganalisis’ katamu? Sebentar… Oh iya, benar juga. Aku kemarin pergi ke pameran dan menyentuh benda itu”
“Sepertinya kamu mulai ingat, ya? Maafkan saya… Saya takut banget kalau kamu kenapa-kenapa. Kami pikir kacamata ini menggunakan arus listrik yang lemah, jadi aman. Kami juga udah nyobain beberapa kali kemarin dan biasa-biasa aja.”
“Oh iya, ya kak? Terus saya dari kemarin pingsan, ya?”
“Iya, bener.”
“Gapapa deh, kak. Yang penting saya pingin pulang sekarang?”
“Sekarang? Sekarang banget? Tunggu dulu, temenku lagi nyari sarapan soalnya. Lagipula kamu kan baru saja pingsan seharian. Makan dulu, ya…”
“OK, kak, makasih. Hmm… Btw, apa teman kakak itu… Oh, yang satu tim itu kah? Kak Dimas, bukan?”
“Lho, kok tahu? Kalian sudah kenal ya?”
“Hmm… kelihatannya kalian pernah memperkenalkan diri waktu presentasi kemarin.”
“Oh, begitu, ya…”

Suara itu bekerja lagi. Sepertinya yang bisa mendengarnya hanyalah Andi. Ia mulai menyadari keanehan yang telah terjadi pada dirinya. Tapi, hal ini masih belum bisa dipastikan. Ia masih belum tahu apakah otaknya sedang sakit atau mendapat kekuatan super.

***