Aku tidak pernah membayangkan begitu pentingnya benda ini. Lensa sederhana yang diberi pengait di kedua sisi ini bukan hanya membantu benda-benda terlihat jelas. Benda ini ternyata juga dapat melihat ketulusan hati seseorang. Bukan karena hal mistis atau psikis, melainkan karena kejadian sederhana di suatu pagi.
“Ayo, pergi ke sekolah, Mir!”
“Ayo, kak! Kita kan mau telat, cepetan! Nih, helmnya!”
“Okei… Eh, tapi bentar. Mana kacamataku?”
Ketika itu, jam dinding sudah menunjukkan pukul 06.30. Aku sudah tidak punya waktu untuk mencari kacamataku. Huh, dasar aku ceroboh! Tapi mau bagaimana lagi, kami harus segera berangkat jika tidak ingin terlambat. Terpaksa, aku pergi ke sekolah dengan mata yang rabun. Walaupun tanpa kacamata, aku masih bisa melihat dengan lumayan benda dua meter di depan. Cukup berbahaya memang jika aku harus memboncengkan adikku. Dia memintaku agar mengebut, tapi pelan-pelan, permintaan yang paradoks.
Sesampai di sekolah, teman-teman langsung menyadari penampilanku yang berbeda. Aku tanpa kacamata bermata sipit sekali. Aku sampai diejek guruku karena tidak bisa membaca tulisan di papan tulis walaupun aku duduk paling depan. Teman-teman menertawakanku. Aku ikut tertawa, menertawakan kecerobohanku yang sudah terlalu sering ini. Huh, kesalnya aku!
Alhasil, aku hanya menulis ulang catatan teman sebangkuku hari ini. Setelah itu, aku langsung pulang ke rumah. Aku izin pamit tidak mengikuti kegiatan ekstra hari ini karena harus segera menjemput adikku yang di SMP. Aku bilang kami ada acara keluarga. Ya, tentu saja acara untuk membantuku mencari kacamata itu. Secepatnya! Sebelum ibu dan ayah tahu! Jangan, jangan sampai mereka tahu kali ini!
Kami pun sampai di rumah. Setelah berganti pakaian, kami mencari-cari kacamata itu di setiap sudut ruangan. Mira, adikku, memeriksa setiap bagian yang biasa terlihat, sedangkan aku memeriksa tempat-tempat yang sempat kujumpai semalam.
Aku rasa tadi malam aku masih memakainya untuk bermain HP. Tapi karena keasyikan, aku pun tertidur di sofa dan lupa dengan keadaan kacamataku. Entah masih kupakai atau kuletakkan di suatu tempat. Tapi, aku tidak menemukannya sama sekali di sofa itu ataupun tempat di sekitarnya, ruangan keluarga.
Kemudian, tengah malam, Mira membangunkanku. Ia yang akan pergi ke WC melihatku dan menyuruhku tidur di kamar. Tapi, aku sama sekali tidak ingat itu. Yang kuingat hanya itu, kemudian bangun pagi di kamar. Tetapi, aku sama sekali tidak menemukannya di kamarku. Apa mungkin sebelum ke kamar aku jalan-jalan dulu entah kemana dalam keadaan setengah sadar?
“Mir, udah ketemu belum?”
“Kak, tadi malem kakak kemana aja, sih? Padahal hilangnya tadi malam dan kakak semalam di rumah. Kakak nggak keluyuran kan, abis itu?”
“Keluyuran kemana? Orang aku jarang keluar, kok keluyuran tengah malem?”
“Iya juga, sih. Barangkali beli nasi goreng?”
“Mana ada. Ibu sama ayah kan baru pulang waktu itu bawa makanan. Ah, udahlah… Coba Mir, cari di ruang tamu sama kamar mandi!”
“Halah, kakak ini bener-bener ngrepotin, deh… Rasain tuh kalau ketahuan ibu nanti”
Aduh, celaka! Bagaimana ini? Bagaimana jika aku tidak menemukan kacamataku? Kalau ayah tahu, pasti ia memarahiku dan mengatakannya pada ibu. Apa yang akan dikatakan ibu? Setelah bulan kemarin aku menghilangkan kacamataku dan sekarang kehilangan lagi, apa yang akan dikatakannya?
Bukannya takut dimarahi atau bagaimana. Aku kasihan sekali kepada ibu dan ayah. Mereka sudah bekerja seharian penuh, sering berlembur, bahkan pernah sehari-dua hari tidak pulang. Tapi, jangan salah. Mereka bekerja sekeras itu bukannya mendapat uang banyak, melainkan hanya sedikit sisa dari keperluan membayar hutang dan berbagai cicilan. Sialnya, penagih hutang itu datang bukan setiap bulan atau setiap pekan, melainkan hampir setiap hari. Jadi, setiap hari pemasukan besar, pengeluaran juga besar. Kita tidak sempat menabung, apalagi membeli barang-barang yang agak mahal. Kami pun hidup dengan ekonomi sekarat. Sekali-kali makan, sisanya mengandalkan berkat Tuhan.
Tapi, tidak semenyedihkan itu, kok! Itu hanya candaan gelap ayah yang berlebihan. Kami masih bisa hidup dengan cukup, bahkan berlebih, jika mereka bisa sesekali mengemplang pembayaran hutang dan cicilannya. Memang bukan hal yang baik, tapi hal itu dilakukan beberapa kali saja untuk hal darurat, kok. Contohnya, ketika kami berdua ulang tahun, berprestasi di sekolah, butuh HP, laptop, atau hal-hal semacam itu.
Aku tahu itu memang bukan masalah darurat! Maafkan kami! Tetapi, ayah dan ibu kami terlalu mencintai anak-anaknya, menurutku. Mereka pikir hal tersebut sangat wajar sebagai bentuk permohonan maaf atas kesalahan mereka yang menyebabkan kami ikut merasakan batunya. Aku berkali-kali menentang tindakan itu, tetapi mereka tetap kukuh. Adikku memintaku untuk membiarkan mereka karena mereka adalah orang tua.
“Kak, menurutku jika kakak ga ingin membebani mereka, itu bagus. Aku sangat setuju. Tapi, lihat bagaimana mereka berkali-kali tetap melakukan itu.”
“Tapi, kan bisa saja mereka melakukannya setelah semua masalah mereka beres. Kalau begini bukannya semakin menambah beban dan memperburuk masalahnya?”
“Kak, tapi umur tidak ada yang tahu, kak,”
“Jangan berkata sembrono, kamu Mir!”
“Bukan begitu maksudku, kak. Tapi… Bahkan ibu sampai berlinang air mata waktu kamu memarahinya soal kacamata baru itu. Walaupun kakak berkali-kali menghilangkan kacamata, sedikit pun ibu tidak pernah marah. Tidak pernah pula menyebutmu ceroboh, teledor, atau sebutan buruk lainnya, meski itu sepele. Tidak pernah pula ibu mengeluhkan harga kacamata yang ratusan ribu itu, walaupun ia sampai harus tidak pulang tiga hari. Ayah juga begitu, walaupun sambil marah-marah. Tapi, ia marah karena marah pada dirinya sendiri dan merasa kasihan terhadap istrinya. Intinya, inilah bentuk cinta orang tua. Di dalamnya ada rasa tanggung jawab. Rasanya seperti malu sekali jika tidak memberikan yang terbaik. Ya, walaupun aku belum pernah menjadi orang tua, sih…”
“Jangan berkata begitu, Mir. Aku malah seperti mengambil keuntungan sendiri di sini…”
“Maksudnya?”
“Jangan sampai kita berpikir, ‘Lagipula kami memang jarang diperhatikan sejak kecil dan berbagai kebutuhan modern juga sangat penting sekaran ini’. Apapun kesalahan yang diperbuat orang tua, besarnya tidak akan melebihi kebaikan yang kita lakukan sebagai anak. Bahkan, kebaikan kita dibanding kasih sayang mereka adalah bagaikan sebutir nasi dan sebuah kelapa, atau lebih besar lagi. Aku malu selalu merepotkan ibu dan ayah. Aku malu membuat orang tua kita menderita hanya untuk membahagiakan kita. Aku tahu mereka juga memiliki tanggung jawab dan harus berkorban karenanya. Tetapi, jangan sampai mereka terlalu memaksakan diri… Lagipula, aku sudah besar dan bisa berjuang sendiri…”
“Tapi, nyatanya, kak? Kakak belum bisa bekerja. Uang yang kakak dapat dari lomba-lomba juga tak cukup untuk memenuhi kebutuhan kakak sendiri. Bahkan kacamata itu,”
“Kacamata? Itu karena aku terlalu sering menghilangkannya. Uangku habis untuk itu dan membeli laptop. Aku terlalu ceroboh memang… Tapi, kali ini tak akan kubiarkan lagi. Apalagi ini akhir bulan dimana listrik, air, dan bahan makanan harus segera dibayar”
“Kalau itu, aku sih udah tahu. Tapi, kak, yang harus kakak lakukan adalah meminta maaf. Minta maaflah pada ibu dan ayah… Mungkin kecerobohan kakak adalah karena dosa kakak yang selalu marah pada mereka dan tidak pernah mencoba melihat kasih sayang mereka…”
Kata-kata Mira begitu menusuk. Aku yang selama ini mengkhawatirkan mereka berdua justru gagal melihat kasih sayangnya?
Aku selalu menolak untuk diberi ini-itu karena menurutku hal itu tidak penting dan mendesak. Tetapi, mereka sebenarnya hanya ingin kami berdua tidak berpikir keluarga kami kekurangan, apalagi merasa minder. Aku selalu marah apabila mereka memaksakan diri. Tetapi, mereka hanya ingin menunjukkan betapa pedulinya mereka terhadap kami.
Dan ketika aku berulang kali melakukan kesalahan, ibu justru tidak mau memarahiku. Padahal… padahal beliau adalah orang yang paling berhak memarahiku, lebih dari ayah. Yang selalu membelikan kacamata baru adalah ibu. Dan ketika sudah kehilangan untuk kedelapan kalinya, ayah bersikeras untuk melarang ibu membelikannya. Tapi, ibu juga bersikeras membujuk ayah agar tetap membelikannya karena hal itu sangat penting untukku belajar dan beraktivitas. Beliau sampai menawarkan untuk membelinya dengan uangnya sendiri. Belakangan aku tahu kalau selama ini ayahlah yang memberikan uang untuk kacamataku itu.
Bukan karena mereka sudah mulai tidak peduli, lantas tidak memarahiku. Bukan! Mereka berpikir seperti apa yang Mira katakan. Mereka terlalu menyalahkan diri mereka sendiri sampai-sampai tak bisa menyalahkanku. Jadi, bukannya aku yang ceroboh, melainkan aku melakukannya karena menjadi korban atas dosa-dosa mereka, pikir mereka.
Itulah kenapa Mira mengatakan bahwa ini adalah dosaku. Seandainya aku berhenti untuk marah kepada mereka, mereka tidak akan berpikir seperti itu. Seandainya aku bisa melihat ketulusan hati mereka lebih dulu, kecerobohan ini pasti takkan terjadi lagi.
Saat ayah dan ibu pulang tengah malam, aku langsung mendekap mereka dan mengecup kedua tangan mereka. Mataku yang mengalirkan air mata bercampur dengan peluh-peluh hasil kerja keras mereka hari ini. Rindu bertemu haru. Harapan bertemu kenyataan. Aku pun memohon maaf dan menyesal karena bukan saja mataku yang rabun, ternyata hatiku juga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar