Senin, 01 Juli 2019

[Vision Memory]

Suatu hari, Andi pergi ke suatu pameran teknologi di Kota Bandung. Di sana terdapat banyak karya teknologi yang lumayan menarik buatan mahasiswa lokal, khususnya mahasiswa ITB. Ada robot yang bisa bermain sepakbola, menari tradisional, membantu penyebrang jalan, sampai mencuci-mengeringkan-dan-menyetrika pakaian otomatis.

Wah, benar-benar membantu sekali, terutama buat mahasiswa pemalas, seperti aku, katar Andi berkomentar.

Ada juga drone untuk pemadam kebakaran, pengintai keamanan, pemantau kebakaran hutan, sampai pemantau kapal asing.

Wah, keren… bakal mudah ditenggelamkan’ nih pencurinya,” gumamnya. 

Selain itu banyak juga teknologi virtual yang dipamerkan di sana. Kebanyakan teknologi tersebut digunakan untuk edukasi dan hiburan alias game. Salah satu yang membuat Andi tertarik adalah karya teknologi yang satu ini. Sebuah kacamata “penganalisis” yang bisa memberikan efek AR (augmented reality) yang menganalisis dunia nyata.

“Kalau kacamata lain membuatmu dapat melihat dunia lebih jelas, kacamata ini dapat melihat dunia lebih rinci,” kata mahasiswa yang mencoba menjelaskan alat ini. Kemudian ia menyalakan laptopnya dan menayangkan simulasi dari apa yang akan kita lihat juga menggunakan alat ini.

“Nah, dengan kacamata ini, kalian seolah-olah seperti dalam game seperti GTA, Minecraft, atau game-game survival lainnya. Di sana ada terdapat keterangan kesehatan tubuh kita, keadaan mental kita, bahkan barang atau uang yang sedang kita bawa. Kita juga bisa melihat agenda atau kegiatan apa saja yang harus kita lakukan setiap hari, minggu, atau bulan. Jika target kita berjangka waktu tahunan, hal itu seperti mimpi, bukan? Nah, alat ini berarti juga bisa membantu kita mewujudkan mimpi…”

Andi pun terkagum-kagum akan hal tersebut. Tetapi, ia penasaran bagaimana alat ini bisa melakukannya. Ia pun bertanya kepada mahasiswa itu.

“Kak, data-data itu diperoleh dari mana memangnya, kak? Dari gelombang otak, ya?”

Mahasiswa itu pun menjawab.

“Tepat sekali. Semua aktivitas tubuh kita dikontrol oleh otak. Otomatis data mengenai kondisi tersebut juga diperoleh otak. Sel-sel otak yang bekerja kemudian saling mengirimkan sinyal listrik yang dapat dibaca oleh pemindai gelombang elektromagnet yang ada di kedua sisi kacamata ini. Kemudian sinyal tersebut dianalisis oleh mikroprocessor di kotak bagian kiri untuk selanjutnya ditampikan melalui miniprojector di kedua lensa kacamata ini. Sumber daya listrik untuk menjalankan semuanya diperoleh dari baterai isi ulang yang berada di kotak sebelah kanan

Andi pun terkesima akan hal itu. Di antara semua benda yang dia lihat, kacamata inilah yang paling keren.

“Kak, kak… boleh aku mencobanya?”

“Oh, tentu saja. Tapi, hanya satu orang saja, ya…” kata mahasiswa itu yang sedang menenangkan gerombolan pengunjung lain yang juga ingin mencoba kacamata itu. Kelihatannya ia kewalahan menjawab pertanyaan mereka sambil melindungi kacamata yang hendak menjadi rebutan. Sayangnya, pengunjung terlalu banyak dan bringas sehingga kacamata tersebut pun terjatuh.

Sambaran arus listrik sekilas muncul akibat guncangan ketika kacamata itu jatuh. Namun, tidak ada yang menyadari hal tersebut kecuali Andi. Ia lantas memungut kacamata yang terjatuh itu dan memakainya. Sesuatu yang buruk pun terjadi.
“Aaaarrrghhhh….”

Andi bagaikan orang yang tersengat seribu lebah. Ia tampak begitu kesakitan sambil memegang kepalanya berputar-putar hebat sementara tubuhnya tak terkendali. Semua orang panik dan kabur melihat Andi yang menyerang semuanya seperti zombie. Sementara itu, mahasiswa tadi menampakkan wajah yang begitu cemas dan kebingungan. Mungkin ia tak percaya bahwa alatnya itu ternyata berbahaya. Padahal, selama ini belum pernah ada yang terluka mencobanya. Tapi sekarang ini bukan waktunya memikirkan hal tersebut. Ia harus segera memikirkan bagaimana cara menyelamatkan Andi.

Ia pun hanya menunggu Andi sampai tenaganya habis dan kelelahan. Kemudian, ia harus segera melepas kacamata itu dan membawa Andi ke rumah sakit terdekat. Sementara rekannya mencoba menganalisis dan memperbaiki kacamata itu, ia menunggui Andi di sana.

***

Sistem, mengaktivasi…

Pengecekan sistem…

Status sistem: agak buruk

Kesadaran: 5%

Detak jantung: …

“Suara apa ini? Berisik sekali… Di mana aku? Ada apa denganku?”

Kesadaran: 90%

Mengaktifkan mode semi-otomatis: audio saja.

Ketika Andi membuka matanya, ia sedang berada di atas ranjang rumah sakit. Di sampingnya terdapat seorang mahasiswa yang sepertinya pernah ia kenal. Ia tidak begitu ingat mengenai insiden sehari yang lalu. Tiba-tiba suara aneh itu berbunyi lagi.

Mengidentifikasi: Kak Yuna. Mahasiswa ITB. Jurusan Teknik Fisika. Bertemu: tanggal 28 Juni 2025 sekitar pukul 10.00-12.00.

“Hei, hei, siapa tadi yang berbicara? Apa itu suara otakku?”

Tidak ada jawaban. Andi berpikir bahwa ia sedang berhalusinasi. Sekarang, yang ia tahu hanyalah bahwa ia baru saja mengalami kecelakaan. Mungkin kecelakaan itu mencederai otaknya dan membuatnya berhalusinasi.

Kemudian, Yuna, mahasiswa itu, bangun.

“Alhamdulillah, kamu sudah bangun. Saya mohon maaf, ya dik atas kejadian kemarin.”
“Hah, kejadian kemarin? Memangnya ada kejadian apa kemarin, kak?”

Menganalisis…
Kejadian satu hari lalu, tanggal 27 Juni 2025. Subjek tak sadarkan diri setelah menyentuh kacamata “penganalisis” yang jatuh ke lantai.

“Hah, kacamata ‘penganalisis’ katamu? Sebentar… Oh iya, benar juga. Aku kemarin pergi ke pameran dan menyentuh benda itu”
“Sepertinya kamu mulai ingat, ya? Maafkan saya… Saya takut banget kalau kamu kenapa-kenapa. Kami pikir kacamata ini menggunakan arus listrik yang lemah, jadi aman. Kami juga udah nyobain beberapa kali kemarin dan biasa-biasa aja.”
“Oh iya, ya kak? Terus saya dari kemarin pingsan, ya?”
“Iya, bener.”
“Gapapa deh, kak. Yang penting saya pingin pulang sekarang?”
“Sekarang? Sekarang banget? Tunggu dulu, temenku lagi nyari sarapan soalnya. Lagipula kamu kan baru saja pingsan seharian. Makan dulu, ya…”
“OK, kak, makasih. Hmm… Btw, apa teman kakak itu… Oh, yang satu tim itu kah? Kak Dimas, bukan?”
“Lho, kok tahu? Kalian sudah kenal ya?”
“Hmm… kelihatannya kalian pernah memperkenalkan diri waktu presentasi kemarin.”
“Oh, begitu, ya…”

Suara itu bekerja lagi. Sepertinya yang bisa mendengarnya hanyalah Andi. Ia mulai menyadari keanehan yang telah terjadi pada dirinya. Tapi, hal ini masih belum bisa dipastikan. Ia masih belum tahu apakah otaknya sedang sakit atau mendapat kekuatan super.

***

Minggu, 30 Juni 2019

[Kekasih Bintang]

Selama ini kupikir hidupku adalah untuk mengejar bintang. Sejak kecil, aku selalu menatap berlian-berlian itu di langit malam. Semua itu bagaikan percikan cat yang Tuhan lukiskan di atas kanvas yang gelap. Indah sekali.
Tapi kupikir bukan hanya itu yang mendorongku sampai sejauh ini. Tak mungkin hanya takjub dan penasaran yang membuatku terus mengejarnya selama 20 tahun ini. Rasanya bintang-bintang itu memiliki kekuatan magis yang menarikku hingga ke mari.
Setelah kupikir berulang-ulang, ternyata kekuatan itu berasal dariku sendiri. Namaku. Ya, namaku!
Ayah memberiku nama yang berarti "kekasih bintang". Aku tidak menyadari hal ini setelah ia menjelaskan bahwa ini tidak lain hanyalah nama kakekku. Tapi, aneh jika aku menggunakan nama kakekku sedangkan ia sendiri tidak. Setelah 10 tahun kepergian ayahku, aku baru menyadari bahwa ini adalah warisannya: harapan.
Ayah. Ayahku adalah orang yang pertama kali mengenalkanku tentang bintang. Waktu kecil ia mengajariku tentang pola-pola yang membentuk rasi bintang sesuai mitologi lokal. Selain itu, ia juga senang sekali mengoleksi buku-buku tentang bintang. Aku diajarkan tentang planet, tatasurya, galaksi, sampai hilal dan perhitungan kalender. Yang terakhir adalah favoritnya.
Ayahku bukanlah orang yang termasuk ahli atau menggeluti bidang itu sebagai profesi. Ia juga hanya lulusan SMP yang kebetulan mempunyai hobi seperti itu. Tapi, ia seakan mempunyai obsesi tentangnya. Di mataku, ia bagaikan "profesor bintang".
Sayangnya, di mata orang-orang, ayahku hanyalah orang bodoh. Bicaranya konyol dan sering tidak dimengerti orang. Ia payah dalam melakukan banyak hal. Pekerjannya saat itu hanya membantu toko fotocopyan miliknya. Ya, walaupun toko itu miliknya, ia hanya membantu.
Karena "kebodohan"-nya, orang-orang sering menipu dan memanfaatkannya. Uang pensiun dan tabungan selama ia menjadi karyawan habis dengan cepat karena untuk modal usaha-usaha bodong rekan-rekannya. Aku harus bersyukur setidaknya masih ada satu yang tersisa, walaupun keadaannya seperti itu.
Orang-orang pun menganggapnya sebagai pecundang. Setiap hari ia selalu diejek tetangga. Tapi, ia benar-benar seperti orang bodoh yang bahkan tak tahu bahwa ia sedang dihina. Aku sampai marah dan membenci orang-orang itu, tapi apa dayaku yang masih kecil dan penakut. Aku juga marah pada ayahku yang pura-pura bodoh itu.
Aku yakin ia sebenarnya tahu dan pasti sangat sedih. Tetapi ia selalu tampak bahagia, terutama ketika menatap langit. Kesedihannya tampak ia limpahkan pada kelamnya malam, sedang air matanya mengkristal menjadi bintik-bintik terang di angkasa. Aku menjadi iba, tapi di saat yang sama juga masih marah padanya.
Sayangnya ibu juga berpikir seperti orang-orang itu. Terjadi pertengkaran di antara mereka yang akhirnya membuat mereka terpisah. Tentu saja aku di pihak ibuku, sama-sama menganggap ayah bodoh. Ia sempat marah, membuatku takut. Ini pertama kalinya ia marah padaku.
Kemudian ia pun memutuskan untuk pergi. Pada akhirnya kami berpisah dan ia meninggal ketika aku dan ibu masih menganggapnya seperti itu.
Aku sangat sedih. Sedih sekali.
Sambil menatap langit, aku memohon ampun kepada Tuhan karena telah berburuk sangka kepadanya selama ini.
Tapi, bukannya aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa untuk membayar maafku padanya. Memang ini bukan apa-apa. Meski begitu, setidaknya aku bisa mempersembahkan ini untukmu, Ayah.
Malam ini, aku mewujudkan harapanmu, Ayah. Aku akhirnya telah resmi menjadi "kekasih bintang". Setelah berusaha mengenalnya lebih jauh, berusaha mengertinya, berusa memahaminya, berusaha tetap setia dan percaya padanya, dan akhirnya berusaha mencintainya, aku pun benar-benar mencintainya.
Walaupun jauh tak tergapai, walaupun kecil hanya setitik, walau awan mudah sekali menghapusnya, kau harus tetap mengejarnya dan benar-benar percaya padanya! Bintang itu akan tetap ada di atas sana, bersama kita, merindukan kita, sampai supernova mengakhiri riwayatnya! Percayalah! Tetaplah percaya dan jangan berpaling!
Itulah pelajaran yang didapat oleh sang "kekasih bintang".

Sabtu, 22 Juni 2019

[Teman Daring]

“Assalamu’alaikum, bro. Udah lama, ya… Alhamdulillah, berkat bantuanmu aku bisa keterima di UGM!”
“Waalaikumussalam. Wah, iya, hehe. Tapi kamu berlebihan, ah. Aku kan cuma belajar bareng aja di situ. Tapi, syukurlah kalau kamu diterima di sana, bro!”
“Wah, kamu ini suka merendah terus, ya di grup. Kalau kamu diterima di mana?”
“Aku alhamdulillah di UI”
“Wah… keren, keren…”

Begitulah isi chat dari si Niko, teman daringku (online). Sebelumnya kami belum pernah bertemu satu sama lain. Kami tinggal di dua kota yang berbeda yang jaraknya sangat jauh. Bahkan wajah satu sama lain pun tidak tahu karena kami menggunakan profpic kutipan motivasi dan anime. Kami bisa bertemu dan berteman begini awalnya dari sebuah grup Whatsapp tentang belajar UN dan SBMPTN yang terbuka untuk seluruh siswa di Indonesia. Aku menemukan link grup tersebut dari sebuah grup Facebook tanya jawab soal SMA. Awalnya aku hanya iseng saja masuk grup tersebut. Tapi, berhubung aku tidak mengikuti bimbingan belajar atau mempunyai teman belajar bersama, aku berniat untuk belajar bersama daring yang gratis untuk persiapan UN dan SBMPTN.

Kemudian di grup tersebut, orang-orang saling berbagi soal-soal dan berdiskusi menjawabnya. Di sana banyak orang-orang hebat, seperti anak-anak OSN. Tapi karena aku juga ingin belajar dan berlatih untuk menghadapi ujian-ujian tersebut, aku juga tidak mau kalah aktif menjawab setiap pertanyaan. Lama-kelamaan, aku mulai diandalkan di grup tersebut. Bahkan mereka satu per satu mulai men-DM-ku. Salah satunya adalah Niko. Di antara banyak orang yang hanya ingin bertanya soal, hanya Niko yang tiba-tiba mengajakku berteman.

***

“Sekarang, gimana kabarnya, Ki?”
“Sehat, alhamdulillah. Kamu?”
“Sehat juga.”

Setelah kami saling menceritakan cerita kami yang masing-masing diterima di universitas yang kami impikan, kami kehabisan bahan obrolan. Niko sempat mengeluh. Padahal kami dulu bisa bicara segala hal, bukan hanya bahas soal ini itu saja. Dan bagiku, itu adalah pengalaman pertamaku untuk bisa sedikit terbuka kepada orang lain. Aku baru pertama kali ini bisa berbicara mengenai kegemaranku, pengalaman pribadi, keluargaku, pandanganku, bahkan cita-citaku. Aku belum bisa berbagi tentang orang yang kusuka, walaupun ia blak-blakan dan cenderung pamer.

“Nik, gimana nih gebetanmu? Keterima di mana dia sekarang?”
“Hmm, aku belum tahu kabarnya. Tapi kuyakin dia keterima di univ yang dia inginkan juga. Tidak, pasti dia keterima. Dia pasti bakal satu univ sama aku, terus akhirnya bisa kudeketin sampai lulus dan ahirnya kita bisa pacaran, terus nikah. Hehehe… Kalau kamu? Masih jomblo aja kah? Apa kamu itu ga ada ketertarikan yanh sama yang begituan dan kerjaannya belajar terus?”
“Hahaha… Yang benar aja, bro. Yah, nanti lah pas abis kuliah lihat aja. Siapa tahu aku yang malah nikah duluan, hahahaha…”
“Ah, kamu ini masih kayak dulu, ya… Tertutup sih, kamu, makanya jomblo…”
“Hahaha, bisa aja…”

Aku sedih bahwa kenyataannya aku selama ini hampir lupa kepadanya. Itulah yang menyebabkan bahan obrolan kami cepat habis dan tak seramai dulu.

Setelah UN, grup WA tersebut cenderung sepi. Orang-orang sedang ingin agak bersantai dan menanti pengumuman SNMPTN atau masuk PTN jalur undangan. Sementara itu, SBMPTN masih sekitar 2-3 bulan lagi. Tidak ada lagi orang-orang yang meminta bantuan mengerjakan soal atau menanyakan materi tertentu.

Di saat itu, aku juga mulai jarang memerhatikan grup dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya, termasuk Niko. Aku fokus belajar, belajar, dan belajar di kamar.

Suatu ketika, aku mendapatkan notifikasi tentang chat dari suatu nomor tak dikenal. Pesan itu seperti berasal dari orang yang salah nomor.

“Assalamualaikum, bro! Dichat kok ga balas-balas? Gimana kabarnya?”

Kemudian aku cek profpic dan nama penggunanya, tak ada keterangan. Aku tidak mengenal siapa orang ini. Lalu, mengapa dia tiba-tiba seperti marah? Ah, pasti benar dia salah nomor.

“Waalaikumussalam. Maaf, ini dengan siapa, ya?”

Kemudian ia membalas dengan huruf yang dikapital semua.

“ASTAGA!!! LUPA SAMA AKU, BRO??!!”

Aku mencoba mengingat-ingat, barangkali teman sekelas? Teman seangkatan? Oh, atau jangan-jangan kakak kelas yang sudah alumni?

“Maaf, kak. Saya Kiki Ramdan, kelas 12-A. Mohon maaf lagi, ini dengan siapa?”
“Wah, hahahhaha… Jadi kamu beneran lupa sama aku, Ki???”

Ingin sekali kublokir orang yang mencurigakan dan menyebalkan ini. Tapi, dia segera menjawab.

“Aku, Niko, bro!”

Hmmm… Nik, Niko, Niko, Niko, Ni…

“ASTAGHFIRULLAH!!! MAAPP!!!”

***

Aku kira, Niko akan kecewa dan tidak mau lagi berteman denganku. Aku sudah lupa kepadanya hampir tiga kali. Waktu itu, setelah SNMPTN, dan hari ini. Tapi, entah kenapa dia masih mau menghubungiku. Padahal, kami saja berbeda jurusan, berbeda universitas, berbeda provinsi pula. Kemungkinan kita bisa bertemu juga kecil. Aku bahkan sempat berpikir pertemanan ini pada akhirnya akan gagal.

Karena sebelumnya aku belum pernah berteman, aku pun semakin tidak yakin bahwa ini berhasil. Kenyataannya aku adalah anak yang pendiam dan tidak pandai bersosial. Bukannya aku tidak mau bergaul dengan yang lain. Cara bicaraku yang lambat dan tak teratur ini membuat lawan bicaraku tak nyaman. Aku sangat benci melihat raut wajah mereka yang kebingungan. Aku pun sering berwajah muram, sehingga menambah ketidaknyamanan mereka.

Namun, aku sedikit lebih bersahabat di dunia maya. Dengan berbagai aplikasi chatting media sosial itu, aku bisa mengobrol tanpa melihat secara langsung raut wajah yang menyebalkan itu. Aku juga bisa berkomunikasi dengan lebih teratur dengan menulis. Orang-orang juga kelihatannya senang dengan aku versi daring ini.

Sayangnya justru karena itu aku takut sekali jika menjalin hubungan di sana. Aku hanya ingin bergaul biasa, tidak lebih dari itu. Aku takut kalau mereka berteman denganku kemudian tahu aku yang asli seperti apa, mereka akan menjauhiku seperti yang lain. Aku hanya tidak ingin tersakiti. Rasanya terlalu pedih jika ditinggalkan, terlebih dengan wajah-wajah kecewa seolah-olah kita menipu mereka.

“Nik, maaf. Bukannya aku sengaja ngelupain. Aku orangnya emang pelupa. Terus, HP-ku juga ganti, jadi, nomormu ga ke-save…”
“Wah, ngga kamu simpen di kartu SIM? Atau aku emang ga sepenting itu, ya? Aku itu temenmu, lho!”

Aku terkejut. Kenapa dia masih saja berharap untuk berteman? Apa dia yakin melanjutkan pertemanan yang rapuh ini? Bukannya lebih mudah untuk abai dan akhirnya melupakan satu sama lain? Lagipula dengan begitu, sakitnya juga tidak terlalu terasa, bukan? Aku ingin jujur, tetapi takut melukai perasaannya.

“Tenang, Ki. Aku tetap akan ingat kamu sampai kapan pun, walaupun kamu mungkin lupa sama aku. Aku berterima kasih banget sama kamu karena mau bantu aku soal pelajaran. Kamu baik banget, padahal kita ga kenal, ga tahu satu sama lain. Kamu juga orang yang tertutup, sama kayak aku. Tapi justru karena itu, aku ngerasa tenang. Aku pikir akhirnya aku punya teman,”

Apa? Jadi dia sama sepertiku? Aku benar-benar meremehkan janjinya dulu untuk “menjadi teman sampai kapan pun”. Ternyata dia serius. Dia sungguh serius berteman karena aku dianggapnya sebagai teman pertamanya, mungkin satu-satunya juga. Memang terdengar sangat bagus, tetapi ini berlebihan.

Bukannya aku tidak percaya dengannya atau tidak suka berteman dengannya. Kita harus realistis. Aku saja tidak yakin masih bisa berhubungan dengan teman SD, SMP, atau SMA-ku, saat aku nanti kuliah, bekerja, mempunyai keluarga sendiri, dan sebagainya. Apalagi sekadar teman daring.

Walaupun begitu, mengetahui kejadian seperti ini, aku pun mulai percaya padanya. Aku juga mulai percaya akan ketulusannya. Walaupun aku tidak mengerti apa dan bagaimana seharusnya itu berteman, aku akan berusaha sebaik mungkin. Itu karena dia juga adalah teman pertamaku.

***

Sudah satu tahun aku lulus kuliah dan Niko tak lagi memberi kabar. Dulu dialah yang selalu mengawali obrolan. Dia selalu menyapaku terlebih dahulu. Kemudian, aku mulai sadar akan kekeliruanku setelah tahun kedua kuliah. Aku menghubunginya sekali, dua kali, dan tiap bulan. Lama-lama aku lelah dan akhirnya menyerah. Haha, ternyata realitas juga menghantam dirinya rupanya. Tapi, aku tidak akan kecewa. Aku tidak akan melupakannya seumur hidupku.

Dia adalah orang yang pertama kali mengajarkanku tentang pertemanan. Intinya adalah kita harus saling percaya: percaya padanya dan percaya bahwa mereka juga percaya pada kita. Berkat itu, aku mulai mendapat banyak teman, sahabat, bahkan kekasih. Aku sangat berhutang budi pada Niko. Bantuanku dulu tak seberapa dibandingkan bantuannya yang kurasakan hingga kini.

Tak terasa istirahat makan siang pun selesai. Aku harus kembali bekerja. Aku harus segera kembali ke realita. Aku ingin angin yang berhembus di rooftop ini bisa membawa perasaanku ini, lebih baik daripada jaringan telepon dan internet.

Yah, sampai jumpa lagi teman daring-ku! Aku yakin kita pasti akan bertemu.

[DORR]

Aku tak mengerti lagi. Kenapa aku tiba-tiba berada dalam suasana mengerikan seperti ini. Siapa yang mengirimku ke sini?
DORR-DORR
Arif terbunuh dibalik pilar-pilar bangunan. Aku ingin menolongnya tetapi wanita itu ingin membunuhku. Tidak ada pilihan lain.
Aku pergi.
Sebenarnya, siapa dia dan kenapa dia membunuh teman-temanku? Sepertinya aku kenal dia, tetapi wajahnya tertutup masker. Rambutnya diikat dua sisi, seperti orang aneh. Dia memakai gaun putih berjaket merah muda. Roknya pendek dan ia masih muda.
Dengan pistol di tangan kiri dan pisau daging di tangan kanan, ia membantai semuanya. Tubuhnya bersimbah darah korban-korbannya. Sementara itu, ia terus mengejarku sambil tertawa dan memanggil-manggil namaku.
"Yuddiii... Yuddiii.. AHAHAHA"
Aku terdesak. Aku hanya bisa berlindung di balik meja yang terus-menerus mendapat tembakan. Sesekali aku membalas balik, tapi entah kenapa pistolku selalu macet.
Tunggu! Darimana pistol ini?
"Lihat, Yuddii... Apakah pistolmu rusak? Hahaha... Sampai kapan pun kau tak kan bisa membunuhku!!!" Sial. Aku tak bisa membalas. Aku hanya bisa menunggu sampai pelurunya habis. Sesaat kemudian, tembakan berhenti. Yeah, ini kesempatanku untuk lari!
Tiba-tiba "Hey, Yuddi... Aku mencintaimu!" DORR Timah panas menembus dadaku. Jantungku terkoyak dan aku tak bisa bernafas. Badanku terhuyung ke belakang. Kepalaku pening sekali. Aku mati rasa. Sial, bagaimana aku bisa tamat tanpa mengetahui kenapa...
14 Juni 2019

[Kacamata]

Aku tidak pernah membayangkan begitu pentingnya benda ini. Lensa sederhana yang diberi pengait di kedua sisi ini bukan hanya membantu benda-benda terlihat jelas. Benda ini ternyata juga dapat melihat ketulusan hati seseorang. Bukan karena hal mistis atau psikis, melainkan karena kejadian sederhana di suatu pagi.

“Ayo, pergi ke sekolah, Mir!”
“Ayo, kak! Kita kan mau telat, cepetan! Nih, helmnya!”
“Okei… Eh, tapi bentar. Mana kacamataku?”

Ketika itu, jam dinding sudah menunjukkan pukul 06.30. Aku sudah tidak punya waktu untuk mencari kacamataku. Huh, dasar aku ceroboh! Tapi mau bagaimana lagi, kami harus segera berangkat jika tidak ingin terlambat. Terpaksa, aku pergi ke sekolah dengan mata yang rabun. Walaupun tanpa kacamata, aku masih bisa melihat dengan lumayan benda dua meter di depan. Cukup berbahaya memang jika aku harus memboncengkan adikku. Dia memintaku agar mengebut, tapi pelan-pelan, permintaan yang paradoks.

Sesampai di sekolah, teman-teman langsung menyadari penampilanku yang berbeda. Aku tanpa kacamata bermata sipit sekali. Aku sampai diejek guruku karena tidak bisa membaca tulisan di papan tulis walaupun aku duduk paling depan. Teman-teman menertawakanku. Aku ikut tertawa, menertawakan kecerobohanku yang sudah terlalu sering ini. Huh, kesalnya aku!

Alhasil, aku hanya menulis ulang catatan teman sebangkuku hari ini. Setelah itu, aku langsung pulang ke rumah. Aku izin pamit tidak mengikuti kegiatan ekstra hari ini karena harus segera menjemput adikku yang di SMP. Aku bilang kami ada acara keluarga. Ya, tentu saja acara untuk membantuku mencari kacamata itu. Secepatnya! Sebelum ibu dan ayah tahu! Jangan, jangan sampai mereka tahu kali ini!

Kami pun sampai di rumah. Setelah berganti pakaian, kami mencari-cari kacamata itu di setiap sudut ruangan. Mira, adikku, memeriksa setiap bagian yang biasa terlihat, sedangkan aku memeriksa tempat-tempat yang sempat kujumpai semalam.

Aku rasa tadi malam aku masih memakainya untuk bermain HP. Tapi karena keasyikan, aku pun tertidur di sofa dan lupa dengan keadaan kacamataku. Entah masih kupakai atau kuletakkan di suatu tempat. Tapi, aku tidak menemukannya sama sekali di sofa itu ataupun tempat di sekitarnya, ruangan keluarga.

Kemudian, tengah malam, Mira membangunkanku. Ia yang akan pergi ke WC melihatku dan menyuruhku tidur di kamar. Tapi, aku sama sekali tidak ingat itu. Yang kuingat hanya itu, kemudian bangun pagi di kamar. Tetapi, aku sama sekali tidak menemukannya di kamarku. Apa mungkin sebelum ke kamar aku jalan-jalan dulu entah kemana dalam keadaan setengah sadar?

“Mir, udah ketemu belum?”
“Kak, tadi malem kakak kemana aja, sih? Padahal hilangnya tadi malam dan kakak semalam di rumah. Kakak nggak keluyuran kan, abis itu?”
“Keluyuran kemana? Orang aku jarang keluar, kok keluyuran tengah malem?”
“Iya juga, sih. Barangkali beli nasi goreng?”
“Mana ada. Ibu sama ayah kan baru pulang waktu itu bawa makanan. Ah, udahlah… Coba Mir, cari di ruang tamu sama kamar mandi!”
“Halah, kakak ini bener-bener ngrepotin, deh… Rasain tuh kalau ketahuan ibu nanti”

Aduh, celaka! Bagaimana ini? Bagaimana jika aku tidak menemukan kacamataku? Kalau ayah tahu, pasti ia memarahiku dan mengatakannya pada ibu. Apa yang akan dikatakan ibu? Setelah bulan kemarin aku menghilangkan kacamataku dan sekarang kehilangan lagi, apa yang akan dikatakannya?

Bukannya takut dimarahi atau bagaimana. Aku kasihan sekali kepada ibu dan ayah. Mereka sudah bekerja seharian penuh, sering berlembur, bahkan pernah sehari-dua hari tidak pulang. Tapi, jangan salah. Mereka bekerja sekeras itu bukannya mendapat uang banyak, melainkan hanya sedikit sisa dari keperluan membayar hutang dan berbagai cicilan. Sialnya, penagih hutang itu datang bukan setiap bulan atau setiap pekan, melainkan hampir setiap hari. Jadi, setiap hari pemasukan besar, pengeluaran juga besar. Kita tidak sempat menabung, apalagi membeli barang-barang yang agak mahal. Kami pun hidup dengan ekonomi sekarat. Sekali-kali makan, sisanya mengandalkan berkat Tuhan.

Tapi, tidak semenyedihkan itu, kok! Itu hanya candaan gelap ayah yang berlebihan. Kami masih bisa hidup dengan cukup, bahkan berlebih, jika mereka bisa sesekali mengemplang pembayaran hutang dan cicilannya. Memang bukan hal yang baik, tapi hal itu dilakukan beberapa kali saja untuk hal darurat, kok. Contohnya, ketika kami berdua ulang tahun, berprestasi di sekolah, butuh HP, laptop, atau hal-hal semacam itu.

Aku tahu itu memang bukan masalah darurat! Maafkan kami! Tetapi, ayah dan ibu kami terlalu mencintai anak-anaknya, menurutku. Mereka pikir hal tersebut sangat wajar sebagai bentuk permohonan maaf atas kesalahan mereka yang menyebabkan kami ikut merasakan batunya. Aku berkali-kali menentang tindakan itu, tetapi mereka tetap kukuh. Adikku memintaku untuk membiarkan mereka karena mereka adalah orang tua.

“Kak, menurutku jika kakak ga ingin membebani mereka, itu bagus. Aku sangat setuju. Tapi, lihat bagaimana mereka berkali-kali tetap melakukan itu.”
“Tapi, kan bisa saja mereka melakukannya setelah semua masalah mereka beres. Kalau begini bukannya semakin menambah beban dan memperburuk masalahnya?”
“Kak, tapi umur tidak ada yang tahu, kak,”
“Jangan berkata sembrono, kamu Mir!”
“Bukan begitu maksudku, kak. Tapi… Bahkan ibu sampai berlinang air mata waktu kamu memarahinya soal kacamata baru itu. Walaupun kakak berkali-kali menghilangkan kacamata, sedikit pun ibu tidak pernah marah. Tidak pernah pula menyebutmu ceroboh, teledor, atau sebutan buruk lainnya, meski itu sepele. Tidak pernah pula ibu mengeluhkan harga kacamata yang ratusan ribu itu, walaupun ia sampai harus tidak pulang tiga hari. Ayah juga begitu, walaupun sambil marah-marah. Tapi, ia marah karena marah pada dirinya sendiri dan merasa kasihan terhadap istrinya. Intinya, inilah bentuk cinta orang tua. Di dalamnya ada rasa tanggung jawab. Rasanya seperti malu sekali jika tidak memberikan yang terbaik. Ya, walaupun aku belum pernah menjadi orang tua, sih…”
“Jangan berkata begitu, Mir. Aku malah seperti mengambil keuntungan sendiri di sini…”
“Maksudnya?”
“Jangan sampai kita berpikir, ‘Lagipula kami memang jarang diperhatikan sejak kecil dan berbagai kebutuhan modern juga sangat penting sekaran ini’. Apapun kesalahan yang diperbuat orang tua, besarnya tidak akan melebihi kebaikan yang kita lakukan sebagai anak. Bahkan, kebaikan kita dibanding kasih sayang mereka adalah bagaikan sebutir nasi dan sebuah kelapa, atau lebih besar lagi. Aku malu selalu merepotkan ibu dan ayah. Aku malu membuat orang tua kita menderita hanya untuk membahagiakan kita. Aku tahu mereka juga memiliki tanggung jawab dan harus berkorban karenanya. Tetapi, jangan sampai mereka terlalu memaksakan diri… Lagipula, aku sudah besar dan bisa berjuang sendiri…”
“Tapi, nyatanya, kak? Kakak belum bisa bekerja. Uang yang kakak dapat dari lomba-lomba juga tak cukup untuk memenuhi kebutuhan kakak sendiri. Bahkan kacamata itu,”
“Kacamata? Itu karena aku terlalu sering menghilangkannya. Uangku habis untuk itu dan membeli laptop. Aku terlalu ceroboh memang… Tapi, kali ini tak akan kubiarkan lagi. Apalagi ini akhir bulan dimana listrik, air, dan bahan makanan harus segera dibayar”
“Kalau itu, aku sih udah tahu. Tapi, kak, yang harus kakak lakukan adalah meminta maaf. Minta maaflah pada ibu dan ayah… Mungkin kecerobohan kakak adalah karena dosa kakak yang selalu marah pada mereka dan tidak pernah mencoba melihat kasih sayang mereka…”

Kata-kata Mira begitu menusuk. Aku yang selama ini mengkhawatirkan mereka berdua justru gagal melihat kasih sayangnya?

Aku selalu menolak untuk diberi ini-itu karena menurutku hal itu tidak penting dan mendesak. Tetapi, mereka sebenarnya hanya ingin kami berdua tidak berpikir keluarga kami kekurangan, apalagi merasa minder. Aku selalu marah apabila mereka memaksakan diri. Tetapi, mereka hanya ingin menunjukkan betapa pedulinya mereka terhadap kami.

Dan ketika aku berulang kali melakukan kesalahan, ibu justru tidak mau memarahiku. Padahal… padahal beliau adalah orang yang paling berhak memarahiku, lebih dari ayah. Yang selalu membelikan kacamata baru adalah ibu. Dan ketika sudah kehilangan untuk kedelapan kalinya, ayah bersikeras untuk melarang ibu membelikannya. Tapi, ibu juga bersikeras membujuk ayah agar tetap membelikannya karena hal itu sangat penting untukku belajar dan beraktivitas. Beliau sampai menawarkan untuk membelinya dengan uangnya sendiri. Belakangan aku tahu kalau selama ini ayahlah yang memberikan uang untuk kacamataku itu.

Bukan karena mereka sudah mulai tidak peduli, lantas tidak memarahiku. Bukan! Mereka berpikir seperti apa yang Mira katakan. Mereka terlalu menyalahkan diri mereka sendiri sampai-sampai tak bisa menyalahkanku. Jadi, bukannya aku yang ceroboh, melainkan aku melakukannya karena menjadi korban atas dosa-dosa mereka, pikir mereka.

Itulah kenapa Mira mengatakan bahwa ini adalah dosaku. Seandainya aku berhenti untuk marah kepada mereka, mereka tidak akan berpikir seperti itu. Seandainya aku bisa melihat ketulusan hati mereka lebih dulu, kecerobohan ini pasti takkan terjadi lagi.

Saat ayah dan ibu pulang tengah malam, aku langsung mendekap mereka dan mengecup kedua tangan mereka. Mataku yang mengalirkan air mata bercampur dengan peluh-peluh hasil kerja keras mereka hari ini. Rindu bertemu haru. Harapan bertemu kenyataan. Aku pun memohon maaf dan menyesal karena bukan saja mataku yang rabun, ternyata hatiku juga.

Rabu, 19 Juni 2019

[Melihat Bulan]

Malam ini bulan purnama terbit lebih larut dari yang kuperkirakan. Sudah sekitar pukul delapan malam, bulan itu baru naik sejengkal. Pasti air laut sedang pasang di kampung ibuku. Aku membayangkan air rob yang dari tadi pagi menggenangi jalanan, semakin naik, dan merangsek masuk ke rumah-rumah warga di sana. Untung rumah ibuku dibangun sedikit lebih tinggi.

Ingin kukatakan pada ibuku bahwa ini tidak ada kaitannya dengan hari Jumat dan penguasa lautan. Kalau memang sedang tengah bulan, ya mau bagaimana lagi, air pun pasang. Nelayan-nelayan yang kadung percaya mitos hari Jumat itu malah pergi hari ini, di saat ombak sedang tinggi-tingginya. Aku hanya bisa berharap mereka bisa selamat dan kembali bersama keluarganya dengan aman.

Ah, tapi menyaksikan bulan purnama terbit begini asyiknya di dermaga kampung ibuku. Menghadap lautan lepas, tanpa pepohonan dan bangunan-bangunan yang mengganggu. Diiringi angin darat yang sangat kencang dan ombak yang menggulung-gulung dahsyat, bulan itu bagaikan cahaya harapan yang membangkitkan kekuatan alam di saat mentari pergi. 

Selasa, 18 Juni 2019

[Green Moon] - Bagian 1

Xichang Space Launch Center, 2 Januari 2026.
Letnan Yui Chen, Mayor Li Zhang dan Komandan Guang Hong ditugaskan untuk menjalankan misi ke Bulan. Mereka adalah astronot-astronot terpilih yang telah menyelesaikan serangkaian seleksi dan pelatihan selama 10 tahun. Seleksi dan pelatihan mereka memang benar-benar ketat dan berat, mengingat betapa penting dan berbahaya misi ini. Wajar saja karena ini merupakan pertama kalinya sejak 50 tahun lalu manusia terakhir pergi ke Bulan. 
Misi mereka adalah mengecek kondisi ladang-ladang milik negara beserta hasil panennya yang berada di Bulan. Sejak keberhasilan Chang’e 4 melakukan percobaan pada tanaman di sana pada tahun 2019, Tiongkok segera mengirim wahana-wahana serupa yang berkapasitas lebih besar beserta lumbung-lumbung untuk penyimpanan panennya dalam jangka panjang. Mereka berencana untuk memproduksi secara masif bahan pangan domestik untuk kepentingan kolonialisasi ke depannya. Selama ini yang mengerjakan semuanya adalah robot-robot yang dipantau oleh satelit orbiter Bulan. Semua terlihat berjalan lancar dan baik-baik saja, sebelum gejala aneh itu muncul.
Pukul 06.24 waktu setempat, roket Saturn V-nya Tiongkok, Chang Zheng 5B, diluncurkan dari Launch Area 2 dan 3, Xichang Space Launch Center. Roket dengan tiga stage dan empat booster ini meluncur, membawa ketiga orang itu ke Bulan. Roket tersebut termasuk roket terkuat dan terberat dalam jenisnya, yakni long march rocket.
“Mayor Zhang, bagaimana perasaanmu menjadi orang yang tercatat dalam sejarah?”
“Saya tidak pernah memikirkan perasan, Komandan Hong! Apapun yang terjadi, yang terpenting adalah misi ini harus berhasil”
“Bagus, Mayor! Tetapi ingat, yang terpenting adalah kamu harus tetap hidup. Kamu harus tetap hidup dan menceritakan hal-hal yang luar biasa di atas sana kepada orang-orang di bawah sini. Dengan begitu, kamu akan menjadi pahlawan yang lebih berguna, meskipun biasanya yang gugur lebih populer, sih…”
“Haha, siap, Komandan!”
“Kamu juga, Letnan Chen! Kamu akan menjadi wanita pertama yang menjejakkan kaki di Bulan!”
“Maaf, Komandan, tetapi saya tidak terlalu tertarik dengan entertainment seperti itu. Saya lebih tertarik dengan tanaman-tanaman itu. Ternyata, mereka lebih dulu mengolonialisasi Bulan daripada kita,”
“Hahaha, benar sekali, Letnan! Sayang sekali kita bukanlah alien pertama di sana,”
***
Satu menit sejak peluncuran dan kini roket telah meninggalkan atmosfer tebal Bumi. Roket tersebut meluncur begitu cepat hingga mencapai 20 mach, setara dengan percepatan 5 g. Keempat booster dilepas, menyusul satu per satu stage. Mereka pergi ke Bulan menggunakan wahana CZ5B-1, singkatan dari roket besar yang pertama kali membawanya dan urutan unit.
Melihat bumi yang awalnya berupa hamparan perlahan mulai melengkung dan memperlihatkan bentuk bolanya merupakan pemandangan yang luar biasa. Seakan kita tertarik menuju dunia lain dan terdistorsi dari kenyataan. Walaupun sudah berkali-kali mereka bertiga melihat semuanya di simulasi, merasakan sendiri pengalaman menakjubkan itu bagaikan mimpi yang menjadi kenyataan.
Perjalanan menuju Bulan memakan waktu selama satu sampai dua hari. Selama itu mereka menghabiskan waktu dengan mengobrol, membaca-baca referensi dan panduan, menghubungi orang-orang tercinta di Bumi, dan sekali-kali melaukan siaran langsung dengan stasiun televisi ataupun internet. Mereka harus selalu melakukan kegiatan di tengah sepinya ruang angkasa.
Namun, bulan yang merupakan tempat tujuan mereka sudah berbeda dari beberapa tahun sebelumnya. Walaupun belum ada satu pun manusia yang menghuninya, robot-robot, satelit-satelit, dan fasilitas-fasilitas penyokong kehidupan sudah ramai menjamur di sana. Ditambah lagi satu makhluk hidup asli Bumi yang berkembang biak di sana, yaitu tanaman, beserta mikroba yang menyertainya, tentunya.
Di samping pertanian, Tiongkok juga membangun fasilitas-fasilitas pertambangan Hidrogen III atau tritium yang merupakan sumber bahan bakar roket melimpah di sana. Akibatnya, permukaan bulan sedikit tertutup debu-debu hitam di beberapa tempat. Hal itu bisa diamati di Bumi sebagai bercak-bercak hitam di atas permukaan Bulan. Gejala aneh yang ada di ladang diduga terkait dengan hal tersebut.
“Komandan Hong, apakah sudah saatnya mesin pendorong 4 sudah siap dinonaktifkan?”
“Tenang saja, Letnan Chen, kamu fokus saja pada tanaman itu. Biar yang begini diurus Mayor Zhang saja,”
“Baik, Komandan,”
“Jadi, bagaimana menurutmu? Apakah sudah ada perkembangan hipotesis yang dapat menjelaskan fenomena ini?”
“Dengan melihatnya secara langsung, saya bisa lebih yakin, Komandan. Tetapi, sejauh ini belum ada perubahan mengenai dugaan sebelumnya.”
“Baiklah kalau begitu. Sepertinya, Tuhan selalu marah jika manusia selalu mengambil peran-Nya di dunia. Selalu saja ada kejadian aneh di tengah rencana yang terlihat mulus…”
“Jangan remehkan manusia, Komandan. Kita adalah makhluk yang gigih jika mempunyai tekad kuat. Menurutku, itu bukan bentuk kemarahan Tuhan, melainkan ujiannnya untuk membuktikan hal itu. Jika hal seperti itu memang ada…”
“Jika ada? Haha… kau ini,”
Letnan Chen merupakan kepala projek riset penanganan gejala abnormalitas tanaman di Bulan. Dulu ia bekerja sebagai ahli rekaya genetika tanaman pangan. Salah satu karyanya adalah “Kentang Panda” yang merupakan kentang dengan ukuran super dan kaya nutrisi. Kentangnya juga sangat tahan terhadap suhu ekstrem dan pencahayaan yang minim. Ternyata, hal tersebut menarik perhatian pemerintah Tiongkok dan akhirnya karyanya dipilih dan dikembangkan sebagai “sumber pangan masa depan”. Mungkin maksudnya pangan bagi warga koloni di Bulan.
Tetapi ada satu hal yang belum dimengerti mengenai tanaman tersebut. Daunnya. Daunnya selalu berlubang-lubang dan terdapat bercak-bercak hijau di sekujur tubuh tanaman. Anehnya, kentang yang ada di bawahnya ternyata baik-baik saja dan bahkan kondisinya terlalu baik seperti itu. Belum selesai riset tentang gejala tersebut, pemerintah Tiongkok sudah menarik hasil karyanya itu. Sebagai gantinya, Letnan Chen dijadikan astronot dan penanggung jawab “ladang” dan seluruh stafnya dijadikan staf pengembang pertanian di luar angkasa.
Di dalam fasilitas pengembangan pertanian di luar angkasa, “Kentang Panda” juga mengalami modifikasi genetik tambahan agar dapat bertahan di kondisi gravitasi rendah. Efek samping mengenai daun dan bercak dibiarkan begitu saja karena tidak memengaruhi kuantitas dan kualitas produk pangan. Setelah diluncurkan tujuh tahun lalu, didapatkan hasil mengejutkan. Efek tersebut hilang dan kentang tumbuh normal. Ukurannya memang lebih kecil daripada di Bumi, hal yang biasa. Beberapa kentang dibiarkan berkembang biak dan sebagiannya disimpan dalam lumbung. Kentang itu pun tumbuh normal kembali dan dibiarkan berkembang biak lagi.
Hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun semuanya berjalan dengan baik dan lancar. Fasilitas pertanian semakin rimbun dan lumut-lumut yang terbawa juga tumbuh. Kamera pemantau semakin buram dan tidak bisa melihat segala sesuatunya dengan jelas. Walaupun begitu, pemeriksaan dari instrumen-instrumen lain menunjukkan hal yang baik. Seluruh staf riset tidak mengkhawatirkan hal itu. Tapi, Letnan Chen selalu gelisah dan merekomendasikan inspeksi langsung ke Bulan, lebih cepat 15 tahun dari rencana. Namun, pemerintah selalu menolak karena tidak bukti yang mendukung kegelisahannya itu. Sampai pada akhirnya, ia menemukan bukti tak langsung dan segera pergi ke sana.
***
Bersambung di bagian 2 ~