Senin, 01 Juli 2019

[Produktif]

Huhhh, malam ini begadang lagi. Mau bagaimana lagi, besok ujian dan ada tugas artikel sepuluh halaman. Oiya, jangan lupa belajar sedikit untuk persiapan ngasprak. Kalau tidak belajar, bisa-bisa aku terkena marah senior lagi dan mendapat hukuman. Jika mendapat hukuman, aku harus mengerjakan konsekuensinya. Akhirnya aku tidak punya waktu lagi dan harus begadang lagi besoknya. Waduh…

Hei! Bukan saatnya mengeluh! Pekerjaanmu masih banyak dan belum selesai. Sadar! Sadar! Saadaa…

HoAhMmm… TiDUr DuLu sAjA… Ah... 

BRAK!

“Za! Bangun, Za!” kataku berteriak.

Seketika mata-mata tajam menatapku dari segala arah. Mereka kesal dan mengacungkan jari telunjuk di depan mulut dan berdesis panjang.

SSSSSSSSSSSTTTTT....

Yosh, adrenalinku terpompa dan listrik 1300 MW mengalir di jejaring syaraf otakku. Terima kasih tuan-tuan sekalian, mohon maaf mengganggu. Terima kasih juga petugas perpustakaan yang berbaik hati tidak mengusirku. Aku tahu ini sudah malam dan sebentar lagi akan ditutup, tapi mohon pengertiannya.

Aku buka lembar-lembar buku.

“Hmm, sampai mana tadi?” aku berbicara sendiri.

“Oh, fungsi Bessel dan solusi persamaan diferensial”

“Begini… oh, begini… hmm, jadi begitu… oke, oke… ashiapp” ujarku saat membaca materi dengan kecepatan satu halaman per detik.

Dari arah jam 2, seseorang berjalan mendekat kemari. Ia menjinjing laptop dan mendekap buku di dadanya. Dia teman kuliahku, tapi dari jurusan lain. Sepertinya, dia bernasib sama sepertiku. Wajar saja, sih soalnya dia memang tipe-tipe aktivis kampus berprestasi yang jarang pulang malam. Iya, soalnya dia pulangnya pagi dini hari.

“Lho, Za. Ngapain kamu? Biasanya habis kuliah langsung pulang?”

“Nasib, Ndre. Besok ujian, terus ada tugas. Belum persiapan ngasprak,”

“Kenapa nggak di kosan aja?”

“Ntar malah tidur, ga ngapa-ngapain di sana, mah,”

Dia duduk di sampingku, menyalakan laptop. Tangannya meraih pena dan kertas. Tanpa basa-basi, ia melanjutkan pekerjaannya. Wow, bisa pindah mode secepat itu, ya? Kalau aku, mah minimal buka HP dulu 5 menit, terus kalau laper, nyemil dulu. Eh, kalau belum makan, makan dulu. Terus minum lagi. Buka laptop, terus keinget HP main lagi. Ya, kira-kira booting-nya setengah jam, lah minimal.

Sambil mengetik dan mencatat tugasnya, ia mengajakku mengobrol.

“Oh, jadi itu alasanmu ke sini. Tapi, menurutku kalau tipe-tipe kamu, mah tetep ga produktif di sini,”

“Bentar, bentar, tipe-tipe aku? Jangan menilai orang seenaknya, dong!”

“Sabar, sabar. Bukan itu, maksudku. Kalau di sini, tempatnya ga enak. Ramai, banyak orang, susah konsentrasi. Terus ga ada tekanannya. Lagipula, mau ditutup sejam lagi, kan?”

“Iya, sih. Tapi, kalau milih tempat yang ga ramai mah di kosan, lah”

“Ya, ga gitu juga. Kosan itu banyak hawa nafsunya. Apalagi kasur.”

“Lha, terus di mana?”

“Mau tahu? Yuk ikut aku jalan-jalan!”

“Ha? Jalan-jalan? Tapi tugasku masih banyak!”

“Tenang aja, kita nanti jalan-jalan ke tempat lain buat ngerjain tugas, kok. Aku kasih rahasia nih tempat yang bisa bikin kita nyaman sekaligus produktif”

“Wah… Beneran? Oke, deh”

Andre menutup laptop dan membereskan barang-barangnya. Aku pun begitu. Kami pun pergi ke luar perpustakaan dan meninggalkan kampus. Kami berjalan kaki menyusuri trotoar di tepi jalan raya yang semakin sepi karena larutnya malam. Tapi tidak dengan simpang empat di ujung jalan. Di sana kelihatan ramai sekali di pinggir-pinggir jalan. Banyak warung dan pedagang kaki lima di sana. Aku bingung sebenarnya kami ini mau ke mana, kok harus ke sini.

“Makan yuk, Bro?”

“He??? Di sini? Ngerjain tugas di warung pinggir jalan begini?”

“Ayolah, makan dulu, Za. Kamu belom makan, kan tadi? Sebelum kelaparan, hehe…”

“Kelaparan? Apaan sih? Aku lagi belum laper dan sengaja buat laper biar ga ngantuk,”

“Udah, ini termasuk strategi biar produktif itu, lho… Nah ini, namanya efisiensi”

“Ah, bodo, ah. Terserah mastah mau bicara apa…”

Aku yang sebenarnya memang tidak benar-benar lapar, memasang setengah porsi nasi pecel. Aku juga memesan air tawar, agar tak kebanyakan gula dan membuatku mengantuk. Andre memesan nasi ayam dan es teh manis, dan sambil mengerjakan tugas? Gokil betul anak ini. Sepertinya dia sudah terbiasa dan menjadi ahli. Tentu adegan ini tidak bisa kutiru begitu saja.

Sambil mengerjakan tugas, sesekali ia memegang hapenya dan menerima panggilan. Dia menjawab setiap panggilan dengan baik dan lancar, walaupun itu berbeda-beda topik. Ada yang mengusiknya tentang masalah BEM, menjelaskan rapat unit, kepanitiaan suatu acara, lomba karya tulis, sampai curhat.temannya. Wah, tak kusangka dia bisa sehebat itu, padahal dia bukan mapres. Apalagi yang jadi mapres, ya?

“Hei, Za, kok bengong aja. Ayo makan cepet, biar bisa segera belajar dan ngerjain tugas!”

“Habis, ini kita mau ke mana?”

“Udah, makan dulu. Jangan banyak tanya, dah!”

“Haishh… Iyak, iyak, iyak.”

Baik sekali hari ini dia mentraktirku. Setelah membayar semuanya, kami pun melanjutkan perjalanan ke arah kanan dari persimpangan tadi. Dari sana, kami berjalan 70 meter dan belok ke kiri. Ia mulai menunjuk suatu kafe di ujung jalan. Kulihat jam tanganku menunjukkan pukul 22.00. Hmm, apakah aku benar-benar bisa belajar dan menyelesaikan sepuluh halaman ini?

Kami pun masuk ke kafe itu. Tempatnya terang dan tidak terlalu ramai. Kebanyakan pengunjung di sini sepertinya anak kuliahan. Ada yang bermain game, pacaran, nongkrong, dan lain-lain. Wah, baru tahu kalau anak kuliahan mainnya ke sini. Dasar, aku anak kuper!

Tapi, ternyata kita tidak duduk di tempat orang-orang tadi. Andre menunjukkan tempat tempat rahasianya, yaitu sebuah ruangan agak bersekat-sekat dan suasananya lebih tenang. Hawanya tidak terlalu panas ataupun dingin. Pencahayaannya juga pas, hanya menerangi spot-spot tertentu saja. Sepertinya, ini benar-benar tempat luar biasa untuk belajar…

Pacaran.

Sial, di sini malah kebanyakan orang yang pacaran. Mentang-mentang suasananya romantis dan agak gelap-gelap begitu.

Kami pun duduk berdua di pojok dan memesan pada pelayan.

“Hei, Ndre. Ternyata, kamu pintar-pintar begini, ternyata kelihatan aslinya ya. Hmm, nggak kaget, sih soalnya orang-orang yang hebat itu emang aneh-aneh”

“Hei, hei, jangan ngawur kamu, Za! Siapa juga yang minat sama kamu!”

“Tuh, kan! Homo! Hahaha… aku foto, terus story IG, terus tulis, ‘bersama MaHo’… Hahahaha”

“Naudzubillah… Udah, udah. Jangan terpengaruh sekitar! Biarin orang lain pada pacaran, tapi kita belajar. Aku kalau keos selalu ke sini buat ngatasin kekeosan itu. Dan itu sendiri, woi!”

“Hahaha… oke, deh. Tapi ngenes juga, yak ga ada yang nemenin. Eh, btw kita kudu pesen apa? Kan udah makan?”

“Itulah sebabnya kita sudah makan, teman. Seperti yang Anda tahu di sini makanannya harganya selangit-selangit. Kalau makan di sini pasti kita bangkrut, teman. Maka dari itulah kita perlu strategi efisiensi seperti tadi…”

“Oo… Seperti itu, terus kita pesen apa di sini? Minumnya juga delapan belas ribuan paling murah.”

“Salah, teman. Coba lihat ujung paling atas bagian kanan, yang hampir ketutupan sama penjepit kertas. Ada air putih.”

“Buset! Air putih goceng?”

“Jangan dilihat air putihnya, bung. Tapi, lihatlah apa yang kita dapat. Tempat nyaman. Belajar beres. Tugas beres. Itu…”

“Gayamu kayak Mario Teguh. Tapi, apa ga mal..”

“Udah, ah ngobrolnya! Kalau malu ya udah pesen minuman lain yang delapan belasan ribu itu. Jangan lupa kalau pesen, aku juga ya. Traktir juga, biar impas.”

“Tapi, tapi, tapi…”

Kami akhirnya pesan dua gelas air putih. Dari raut muka pelayan yang mengantar pesanan yang datar dan mata yang memicing terlihat jelas keheranannya yang bercampur kesal. Apalagi ketika melihat Andre, tatapannya seperti pembunuh berdarah dingin yang siap membunuhnya kapan saja. Ternyata uratnya sudah putus sejak lama, ya urat malunya si Andre.

Aku terpaksa memesan minuman yang lain lagi. Setelah itu, aku mulai belajar dan mengerjakan tugas. Awalnya canggung dan malu, belajar di tempat seperti ini. Kayak orang yang ambis saja. Tapi, kata Andre, ini sangat efektif untuk semua orang, khususnya para milenial. Katanya ini sudah menjadi solusi yang populer bagi para milenial yang lebih suka menyendiri, tapi tidak produktif. Dengan berada di luar dan nyaman, mereka akan lebih efektif bekerja. Memang, modern problem requires modern solution.

Wow, tidak terasa sekarang sudah pukul 2 pagi. Aku sudah belajar semua untuk ujian dan asisten praktikum nanti, juga tugasku sudah selesai. Ya, memang agak lupa-lupa sedikit sih. Wajar karena belajar di waktu yang mepet-mepet. Tetapi ini lebih baik daripada tidak belajar sama sekali akibat tewas di atas kasur.

Kulihat si Andre masih sibuk telfon-telfonan sambil mengerjakan tugas. Sepertinya ia masih sedikit lama di sini. Dasar, mau sampai subuh dia di sini? Memang mastah mah beda!

Ahbodohlah… Aku sudah sangat capek dan mengantuk. Aku bilang pada Andre untuk pulang lebih dulu. Aku berjalan agak gontai, bagaikan pulang dari suatu pertempuran. Tapi, kali ini dengan membawa kemenangan. Aku tersenyum dan melangkah keluar.

Saat kualihkan pandangan sebentar, aku melihat masih ada seseorang yang berada di ruangan private itu selain Andre. Dia sendiri dan sedang mengerjakan sesuatu dengan laptopnya. Tidak, sepertinya aku mengenalnya. Dia tidak asing.

Sial, aku kepergok mengamatinya.

“Andre!”

TAMAT

Credit for My Friend's NID

Tidak ada komentar:

Posting Komentar