Ramadan yang Sulit, Tapi Semoga Tidak Sia-Sia
Ramadan kali ini merupakan Ramadan yang sangat berbeda dari Ramadan sebelumnya. Semua orang yang keluar harus memakai masker. Pasar dan supermarket menjadi lebih sepi. Tidak ada salat tarawih, bahkan salat wajib berjamaah di masjid, kecuali beberapa. Kamu yang sedang merantau tidak boleh mudik ke kampung halaman, kecuali jika himbauan pemerintah dan tenaga medis diabaikan. Semua ini terjadi sejak wabah Covid-19 menyerang.
Mulai pertengahan Maret, ITB mulai menerapkan karantina kampus dan pembelajaran daring. Karena kuliah secara fisik sudah tidak diperlukan lagi, teman-teman satu per satu mulai meninggalkan kontrakan. Aku enggan meninggalkan kontrakan karena ingin fokus kuliah dan menaati himbauan pemegang otoritas. Aku tahu jika berada di rumah, aku tidak bisa fokus berkuliah. Selain itu, sudah jelas jika Rasulullah SAW menyeru bahwa jika terjadi wabah, kita tidak usah bepergian ke tempat lain. Setidaknya, aku akan memikirkan lagi untuk pulang kampung jika tugasku untuk berkuliah sudah selesai, yakni pada tanggal 15 Mei 2020.
Hampir saja aku tinggal sendirian di kontrakan, sebelum akhirnya seorang teman membatalkan kepulangannya. Dia adalah Mas A, alumni ITB dari jurusan mesin. Selain itu, seorang teman juga memutuskan untuk pindah ke kontrakan kami. Dia adalah Mas Be, mahasiswa TPSDA ITB yang sedang berjuang menyelesaikan Tugas Akhirnya. Bertiga, kami bertahan di kontrakan tersebut hingga Ramadan tiba.
Salat Tarawih
Malam pertama membuat kami canggung. Siapa yang akan memimpin salat Isya dan Tarawih? Tentu saja yang paling senior, bukan? Tetapi, Mas A sedang tidak enak badan. Selain itu, aku malah dipaksa menjadi imam. Wah, jika menurut tradisi di kampung halaman, aku perlu membaca surat at-Takatsur sampai al-Lahab, walaupun sebenarnya itu tidak wajib. Tapi, aku rindu suasana kampung halaman sehingga aku memaksakan diri untuk membacanya. Seperti kebanyakan “imam dadakan” yang banyak bermunculan di Ramadan kali ini, aku membuat kesalahan. Aku menyadarinya seusai salat dan bertanya pada Mas Be, kenapa dia tidak mengingatkanku.
“Aku mau mengingatkan, tapi bacaanmu terlanjur cepat, jadi aku ga mengingatkan,” kata Mas Be. Alah, paling kamu juga lupa, Mas, pikirku.
Pada malam kedua, kondisi Mas A sudah lebih baik dan bersedia mengikuti salat Tarawih. Kami memutuskan untuk bergiliran menjadi imam setiap malam dan malam ini gilirannya Mas Be. Karena aku rindu kampung halamanku, aku memutuskan untuk menjadi bilal, yakni yang mengucapkan “sesuatu” setiap memulai sepasang rakaat Tarawih. Ini bukan merupakan syariat atau ketentuan salat Tarawih, tetapi tradisi yang banyak dilakukan di banyak komunitas Muslim.
Mas Be membaca surat-surat dalam salat Tarawih yang tidak sama sepertiku. Tidak apa-apa, lagipula memang tidak ada ketentuan pastinya. Setidaknya kita sama-sama salat Tarawih 20 rakaat dan salat Witir 3 rakaat. Tetapi, di tengah rakaat ke-8, Mas A undur diri. Wah, sayang sekali karena aku dengar keutamaan salat Tarawih yang utama itu akan didapat jika mengikuti sampai imam mengakhirinya. Tetapi, mengingat kondisinya yang sedang kurang baik, aku memahaminya. Kami pun melanjutkan salat tanpanya.
Malam berikutnya, giliran Mas A menjadi imam. Malam berikutnya lagi, giliranku, kemudian Mas Be, dan seterusnya. Seiring waktu, kami mulai tidak konsisten. Kami mulai meninggalkan witir berjamaah. Kadang-kadang kami mengerjakan salat Tarawih 8 rakaat. Kadang, tanpa bilal. Kadang, aku tidak ikut. Yah, kamu pasti tahu jika manusia bisa bosan dan menginginkan sedikit variasi.
Sahur
Memasuki bulan puasa artinya memulai siklus sirkardian yang baru. Jika tubuh kita biasanya tidur di waktu malam, bangun di waktu siang, kita harus sedikit memodifikasinya. Beberapa orang membutuhkan adaptasi untuk hal tersebut sehingga mungkin melewatkan waktu sahurnya di hari-hari pertama puasa. Tetapi, waktu sahur kami di hari-hari pertama Ramadan justru berlangsung sempurna.
Kita bisa bangun pukul setengah dua atau pukul tiga dini hari. Terima kasih untuk anak-anak kampung Regol yang sudah berkeliling sambil berteriak-teriak dan menabuh alat musiknya. Tapi, mengenai anak-anak itu, aku sedikit terkesan karena mereka tidak hanya berteriak “Sahuurr!!! Sahurrr!!!”. Mereka kreatif. Kamu tahu, mereka membuat lirik!
Bangunin sahur dimarahin…
Ga dibangunin , kesiangan…
Gue pusing…
Gue pusing…
Gue…
Salah lagi…
Mungkin berkat kebisingan yang sangat keras dan lirik menjengkelkan itu, kami dan mungkin warga lainnya bisa bangun tepat waktu untuk sahur. Sekali lagi, terima kasih bocah-bocah nakal yang sering sengaja berhenti di depan kontrakan dan berisik sekali!
Setelah sahur, kami mengerjakan salat Tahajud dan beribadah masing-masing. Ada juga yang tidur. Lalu, kami bangun lagi ketika salat Subuh dan tidur setelah itu. Biasanya aku bangun jam sepuluh pagi. Aku tidak tahu yang lain. Tetapi aku tahu kalau Mas Be pernah baru bangun jam setengah tiga siang.
Namun seiring waktu, hal ini membawa kebiasaan buruk. Siklus sirkadian kami berubah 180 derajat: kami tidur di siang hari dan begadang di malam hari.
Gejala pertama yang kami alami adalah insomnia. Mas Be mengaku tidak bisa mengantuk selama dua hari, mungkin. Aku tidak bisa mengantuk selama satu hari. Tetapi, setelah itu aku berubah menjadi manusia nokturnal. Aku tidak bisa bekerja seproduktif siang hari ketika malam. Aku tidak bisa belajar atau mengerjakan tugas. Akhirnya, aku mulai terjerumus dalam rayuan game-game dan anime-anime ilegal. Tetapi tidak semuanya ilegal, kok! Aku membeli beberapa, hehe.
UAS
Kebiasaan-kebiasaan itu menyebabkanku sulit berkonsentrasi dalam belajar. Jujur, aku sering melewatkan kuliah online karena tidur di pagi hari. Selain itu, kemampuan belajar juga menurun karena pusing dan terjerumus dalam jebakan hiki-NEET tadi (hikikomori: orang yang mengurung diri di kamar, NEET: not in education or employment atau pengangguran). Padahal, aku belum selesai menuntaskan misiku dalam berkuliah di semester ini. Aku kira aku bisa lebih fokus jika belajar di sini daripada di rumah, tetapi sama saja. Sayang sekali.
Ketika ujian akhir semester, aku merasa tidak dalam kondisi terbaik. Aku sudah berusaha belajar, tetapi dikurangi oleh kebiasaan-kebiasaan buruk tadi. Aku mengakui kalau performaku parah sekali kali ini. Aku seperti menyia-nyiakan hasil belajarku selama satu semester ini. Aku mengecewakan orang tua dan semua orang yang sudah membantuku kuliah selama ini. Aku mengecewakan orang yang mempercayaiku. Aku kecewa sekali terhadap diriku ini.
Sedikit Cahaya
Mungkin tidak baik jika kita terlalu kecewa dan menyalahkan diri sendiri. Mungkin aku frustrasi karena hard disk laptopku rusak seminggu sebelum UAS. Kita tahu bahwa hard disk itu mahal. Padahal, kondisi uang sedang tidak baik dan file-file perkuliahanku hilang begitu saja. Memang salah jika terlalu banyak mengandalkan teknologi dalam belajar (baca: malas mencatat). Untungnya, sebagian file sudah di-back up. Tetapi, wi-fi kontrakan sudah mati dan aku harus men-download-nya dengan kuota data internet. Tetapi tiba-tiba jaringan 4G melambat karena penggunaan yang melebihi batas kuota Unlimited. Terpaksa aku membeli kuota data lagi. Tetapi beberapa hari kemudian, aku mendapat bantuan kuota dari ITB. Kenapa aku harus membeli kuota lagi?!
Selain itu, mungkin aku juga frustrasi karena tidak bisa bertemu keluarga di rumah, seperti kebanyakan teman-teman. Aku juga tidak bisa bepergian di kota ini karena sedang berlangsung PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Beberapa akses jalan ditutup dan toko-toko dibatasi jam bukanya. Walaupun pemerintah membolehkan kita keluar jika terdapat keperluan yang penting, tetapi aku ikhlas mengurung diri di kontrakan, bahkan di kamar, selama berminggu-minggu. Sangat jarang sekali aku berbicara dengan Mas A dan Mas Be, karena aku nyaman sekali menyendiri. Kadang aku ingin mengobrol, tetapi karena sudah terlalu lama tidak mengasah skill sosial ini, aku kesulitan. Kamu tahu? Mau tapi tak mampu.
Oke, mungkin itu sedikit tambahan cerita sedihnya.
Rasanya ingin sekali, sekali-kali berinteraksi dengan orang lain, selain ibu melalui telefon. Syukurlah aku mempunyai beberapa teman, atau sahabat, yang nyaman untuk diajak chatting. Walaupun sedikit, tetapi aku sangat berterima kasih pada mereka yang mau meluangkan waktu untuk itu.
Tetapi di antara mereka, terdapat seseorang yang sangat istimewa. Orangnya sangat cantik, baik, dan perhatian. Aku sudah mengenalnya sejak lama dan aku pernah berharap padanya. Dia adalah orang pertama dan satu-satunya yang kuharapkan sejauh ini. Tetapi hanya sampai pada harapan, karena dia sangat jauh untuk bisa dicapai diriku yang sekarang.
Ketika Ramadan ini berlangsung, aku sudah mulai membuang itu sedikit demi sedikit. Aku tahu kalau dia sangat baik dan perhatian, tetapi dia terlalu baik sehingga mungkin semua orang diperlakukan seperti itu. Aku juga tahu kalau dia tidak tertarik pada kepentingan pribadi, seperti ikatan kehidupan bersama. Dia lebih tertarik untuk mewujudkan cita-citanya untuk Indonesia dan dunia. Kemudian, setelah selama ini kami saling berkomunikasi, dia menghilang.
Aku mulai berpikir jernih. Memang bukan saatnya diriku memikirkan hal itu. Aku harus memikirkan itu setelah aku selesai dengan urusan kuliah dan urusan pribadiku. Mungkin benar jika kita sebaiknya tidak mendekati hal-hal semacam itu, jika kita belum siap. Kita bisa tersesat dan mendarat di jalan yang buruk. Mungkin kepayahanku di akademik, aku yang terjerumus kebiasaan jelek, dan sering frustrasi merupakan efek samping dari hal tersebut, walaupun tidak secara langsung.
Baiklah, mungkin lebih baik begini. Hal tersebut memang tidak bisa dilupakan, tetapi bisa dikaburkan dari ingatan. Setelah itu, aku hampir tidak memikirkan hal itu.
Tiba-tiba, di suatu pagi yang cerah di hari ketujuh bulan Ramadan, aku terbangun setelah mendapat mimpi yang indah. Aku bermimpi melihatnya datang ke kota ini. Padahal, dia kuliah di ujung pulau yang lain dan saat ini sedang di rumah. Kemudian dalam penglihatanku, dia sedang menuju ke kontrakan ini dan mimpi itu selesai. Aku terbangun dengan sedikit kecewa karena ingin tahu kelanjutannya. Tetapi, setelah bangun tiba-tiba aku membuka twitter dan melihat quote bahasa Arab yang artinya,
“Apa yang dibayangkan dan dipercayai oleh pikiran dapat dicapai…”
- Napoleon Hill
Aku tidak tahu kenapa kebetulan aneh itu bisa terjadi. Seharusnya itu juga ada di dalam mimpi! Tapi, kebetulan tidak berhenti sampai di situ. Temanku yang orangnya alim ilmu agama dan disangka tidak suka perempuan, tiba-tiba curhat masalah orang yang disukainya waktu MTs. Dia kini sudah dinikahi oleh gurunya sendiri. Aku kaget, dan berduka atas hal tersebut.
Bukan itu saja, temanku yang lain juga curhat perihal ke-bucinan-nya. Aku juluki dia “Raja Harem” karena pacaran dengan tiga perempuan dalam waktu berdekatan. Tapi, akhirnya hal itu terbongkar dan dia kehilangan semuanya. Aku marah. Bukannya dia bercerita pada orang yang salah? Aku belum pernah pacaran dan apakah aku terlihat sebagai orang yang meyakinkan untuk mendengarkan itu? Atau dia hanya pamer? Tetapi tenang, aku hanya bercanda. Aku ikut sedih dan senang ketika ia kembali kepada jalan yang benar: fokus pada kuliah.
Hampir seminggu kemudian dan seminggu kemudiannya lagi aku memimpikannya, tetapi tidak ada kebetulan menarik yang terjadi lagi. Hanya mimpi menarik, seperti tiba-tiba kami menjadi guru atau bertemu di dunia lain. Sepertinya hal ini akibat terlalu banyak menonton anime isekai.
Aku tidak menganggap mimpi itu terlalu serius. Bisa jadi hal ini merupakan mekanisme psikologis yang defensif. Ia memberi sedikit cahaya, sebelum pikiranku benar-benar gelap.
Pulangnya Mas Be
Setelah UAS selesai, aku sudah memikirkan untuk pulang kampung. Tetapi dengan adanya kedua teman yang masih bertahan di kontrakan, aku jadi tidak khawatir jika bertahan di sini lebih lama. Lagipula, keadaan bukannya semakin aman, tetapi buruk karena aturan pemerintah yang tidak jelas dalam menangani wabah dan pelanggaran-pelanggaran aturan yang sudah tidak jelas seperti itu. Aku khawatir jika di rumah, aku justru menjadi bahan gunjingan tetangga dan menimbulkan salah paham. Soalnya, kerabatku yang datang dari Jakarta juga mengalami itu.
Beliau datang dari Jakarta, tetapi tidak mau menerapkan karantina mandiri. Dia yakin bahwa dia aman dari Korona. Tapi, ada kerabatku yang lain menyarankan agar dia melakukan karantina mandiri di tempat tertentu yang sudah disiapkan pemerintah daerah. Pihak keluarga kerabatku yang dari Jakarta mengira bahwa kerabatku itu menyarankan agar semua orang mengucilkannya. Pihak kerabatku itu tidak terima dan akhirnya terjadilah adu mulut.
Aku khawatir jika aku pulang, aku terlibat adu mulut dan aku tidak bisa mengatakan apa-apa, selain tidak ada yang membelaku.
Baik, awalnya semuanya sudah baik-baik saja, sebelum Mas Be diminta untuk mudik ke kampung halamannya. Dia bisa mudik karena rumahnya tidak terlalu jauh dari Bandung. Selain itu, katanya Jawa Barat juga akan mengalami relaksasi PSBB pada tanggal 19 Mei 2020. Rencananya dia akan pulang setelah itu.
Mas A yang sering menjadi teman bicaranya berusaha mencegah Mas Be pergi. Tetapi memang tidak memaksa, seolah-olah dia sudah tahu kalau hal ini memang akan terjadi. Sedangkan aku, pura-pura tidak tahu akan hal itu. Lagipula dari awal aku memang sudah menyiapkan diri untuk tinggal sendiri. Selain itu, jika Jabar saat itu memang aman, tidak ada salahnya jika dia kembali bersama keluarganya.
Namun, rencana kepulangannya lebih cepat satu minggu dari seharusnya. Aku kaget dan mencoba membuatnya berpikir dua kali di tengah kondisi yang belum aman dan penjagaan aparat yang ketat. Aku dengar bahwa ada orang yang mencoba pergi dari Jakarta ke suatu daerah, tiba-tiba di Semarang ketahuan aparat, kemudian disuruh kembali lagi ke Jakarta.
Tapi, yang meminta hal ini adalah orang tua Mas Be. Aku dan Mas A tidak bisa mencegahnya. Kemudian, dia pergi pamit dan meninggalkan satu kamar kosong lagi di kontrakan kami.
Sepertinya, dia berhasil sampai di rumah. Aku dan Mas A memulai rutinitas berdua, seperti salat Berjamaah, salat Tarawih, sahur, dan lain-lain. Rasanya sangat sepi, bahkan oleh orang penyendiri sepertiku ini.
Zakat Fitrah
Aku menjadi lebih sering mengurung diri di kamar. Karena sudah tidak ada kuliah daring, aku semakin banyak melungkan waktu bermain game dan menonton film. Jika lelah, aku tidur. Jika aku haus dan lapar, aku makan ketika sudah waktunya berbuka. Tidak ada orang tua atau saudara yang mengingatkan atau mengganggu. Sempurna sekali untuk menjadi hiki-NEET, sekaligus menyedihkan.
Aku hampir menutup diri dari dunia luar, bahkan dunia maya. Tetapi, tidak bisa. Aku justru lebih sering aktif daripada sebelumnya, meskipun aku tahu bahwa tidak lebih banyak interaksi sosial yang aku peroleh dari sana. Tapi, walaupun aku seolah tidak peduli, aku tetap melihat like dan siapa saja yang aktif. Aku melakukan itu, karena aku ingin saja.
Sampai akhirnya lebaran tiba, hari-hari yang menyedihkan ini hampir berlangsung menyedihkan pula. Aku hampir tidak peduli ucapan-ucapan keluarga, sahabat, atau teman yang mengucapkan selamat lebaran dan meminta maaf. Aku hampir melupakannya dan melanjutkan menonton film.
Tetapi, aku ingat bahwa kewajiban zakat fitrah belum aku penuhi.
Aku peduli akan hal itu melebihi ketidakpedulianku terhadap diriku sendiri. Aku dan Mas A segera membeli beras dan menunaikannya. Tetapi, bukan menyerahkannya ke tetangga atau masjid terdekat, melainkan ke pondok pesantren milik kenalannya Mas A. Ponpes itu sangat jauh. Perjalanan motor dengan lalu lintas relatif sepi di Bandung membutuhkan waktu setengah jam atau lebih.
Di tengah perjalanan, aku tidak melihat satupun acara takbir keliling, kecuali sekelompok kecil anak-anak yang melakukannya di kompleksnya masing-masing. Di kampung halamanku, takbir keliling adalah salah satu acara yang paling dinanti-nanti anak-anak, selain acara tujuh-belasan. Selain itu, aku melihat sepinya jalanan dan toko-toko yang tutup. Padahal, di saat inilah para pedagang seharusnya meraup banyak keuntungan dari baju lebaran, kue lebaran, petasan, dan lain-lain. Mungkin beberapa di antara mereka justru tak sanggup membeli hal itu, bersama seluruh orang yang secara ekonomi terdampak wabah Korona ini. Apalagi bagi orang-orang yang dari awal sudah tidak mampu.
Memberikan sedikit beras sambil sedikit melihat keadaan di luar membangkitkan sedikit kepedulianku. Bagaimanapun buruknya kondisi lebaran kali ini, orang-orang masih merayakannya sebagai hari kemenangan, atau setidaknya hari yang spesial yang tidak boleh dilewatkan begitu saja seperti hari-hari biasa.
Mereka masih tetap bertakbir, walaupun tidak ramai. Beberapa toko memang tutup, tetapi mereka tetap berkumpul bersama di kediamannya. Jika tidak bisa berkumpul bersama keluarga, mereka saling melempar salam virtual.
Dari zakat, aku belajar bahwa memberikan beberapa butir beras bisa membuat ibadah kita di bulan Ramadan tidak sia-sia. Aku harap begitu juga jika kita memberi sedikit kepedulian pada diri sendiri, keluarga, sahabat, teman, dan orang di sekitar kita, semoga hari-hari yang sulit akhir-akhir ini tidak berakhir sia-sia.
Versi lomba sudah dipublikasikan Himastron ITB sebagai Pemenang Ramadan Challenge Story
Tidak ada komentar:
Posting Komentar